Kota Kuno PalopoKota tanpa sejarah adalah kota mati. Justru itu, rekonstruksi artefak-artefak dari masa lalu sangat berguna untuk mengetahui asal-usul suatu kota, pertumbuhan, dan perubahannya, termasuk potensi pengalaman dan cita pikiran masa lalu yang merepresentasikan jiwa zaman dalam mendesain kota (mikrokosmos).

Buku ini mula-mula membahas mengenai konsep kota kuno dan metodelogi penelitian yang diterapkan dengan sasaran memperlihatkan tiga wajah: fisik, social dan kosmologi. Ketiga dimensi tersebut pada kota kuno Palopo, memperlihatkan kekhasan cara berfikir timur, khususnya bangsa Bugis, yang berbeda sama sekali dengan konsep dualism barat. Bugis, sebagaimana dunia timur lainnya cenderung monistik. Dalam buku ini juga terungkap bahwa meskipun konsep kosmologi Bugis bersifat religious-magis, tetapi mengandung logika social dan lingkungan yang khas. Parmanensi konsep local dalam mendisain kota kuno pada zaman pemerintahan islam kerajaan Luwu membuktikan pula bahwa kehadiran agama Islam pada awalnya tidak menciptakan ikonoklasme, melainkan hanya mendekonstruksi kebudayaan local, baik symbol maupun adat (panngadareng).

Judul: “Kota Kuno Palopo: Dimensi Fisik, Sosial dan Kosmologi”

Penulis: M. Irfan Mahmud

Pengantar: Dr. Moh. Ali Fadillah

Penerbit: Masagena Press, Makassar-2003

Jumlah Halaman: 217+xxvi; 14,5 x 20 cm

ISBN: 979.97977-0-5

Kapan-kapan saya tuliskan tentang buku ini yang lebih detailnya.

berdoa[1]Kemarin malam sehabis isya, saya kenalan dengan Sofyan. Orangnya kira-kira berusia 25-30 tahun. Berjanggut lebih lebat dari yang saya punya. Kulit wajahnya cerah, dan tipikal paras Bugis-Palopo sekali. Kami kenalan di sebuah kafe di bilangan jalan (setengah) lingkar, bersama seorang rekannya yang saya lupa namanya. Di tempat itu saya bersama kakak bersama suami dan anak pertamanya, dan si bungsu adikku.

Malam itu, Sofyan mengenakan gamis dan bersorban putih, memakai sandal jepit swallow dan parfum beraroma khas wewangian non alkohol. Dari ujung jalan, saya memang sudah melihat gerombolan mereka yang jumlahnya kira-kira ada enam orang. Tak tahu mengapa, dari sekian kerumunan meja yang ada di kafe itu, kami menjadi salahsatu dari tiga meja yang menjadi targetnya malam itu. Setelah berbalas salam, sembari mengacungkan tangan untuk bersalaman (kecuali kepada kakak perempuanku), Sofyan memperkenalkan dirinya. Setelah tahu namanya, dia bercerita tentang keesaan Allah SWT, tentang kemahakuasaanNya, tentang keagunganNya dan tentang kewajiban penghambaan diri ini kepadaNya. Setelah mendengar ’pote-pote’ Sofyan yang tak lebih dari dua menit itu, dan tanpa balasan (feedback) satu kata-pun dari kami, dia akhirnya melanjutkan safarinya ke kafe seberang lagi. Dari ’pote-pote’-nya itu, satu keinsyafaan yang spontan saya sadari adalah bahwa Allah SWT memang selalu memberikan orang-orang yang terbaik untuk selalu ada di dekatku.

Saya kagum dengan gaya dakwah Sofyan itu. Bukan karena gaya berbicaranya yang seperti capres SBY yang dibuat-buat, kebarat-baratan dan penuh pesona itu (dan memang Sofyan tidak seperti itu), tetapi lebih kepada delivery-nya yang menekankan kepada menghadirkan transendensi secara spontan. Kasarnya mungkin, Sofyan mau mengatakan ”Woi sadarko! Ko bisa mati kapanpun karena kekuasaan Allah!”. Jadi jangan terlalu terlena dengan kehidupan. Sofyan juga tidak ma’jonjoro’ untuk harus lakukan ini, lakukan itu. Sehingga, kesannya tidaklah mengggurui. Saya senang cara-cara seperti itu. Juga dengan keberanian Sofyan yang mendatangi ’orang-orang yang butuh pengalaman baru’, pengalaman mengecap dan merasakan manisnya Islam… Subhanallah… Jadi sadar lagi! ;)

Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah. Lihatlah (lagi…)

Ada-ada saja istilah mesin pencari, coba lihat yang dilingkari merah itu! Lucunya istilahnya… Siapa mi toda’ itu lale sekali…? Ndak keren-nya deh…

Istilah Mesin Pencari

Nih foto-foto Palopo Jadoel…

Palopo Jadul1

Palopo Jadul2

Palopo Jadul3

Palopo Jadul4

Palopo Jadul5

PalopoJadul6

Kemarin dapat foto-foto Palopo jaman dulu. Sumbernya tidak jelas, dan judul fotonya juga tidak jelas. Nih dia…

Lokko'E

Istana

Palopo Jaman Doeloe1

Palopo Jaman Doeloe2

Palopo Jaman Doeloe3

Do’a ini saya kutip dari buku “Doa-Doa Rahasia Nabi Saw” penerbit IIMaN. Judul do’anya sebenarnya adalah Doa Rahasia Ketika Ada Perlu Kepada Penguasa, namun kayaknya bisa juga dipakai kalau lagi ada lobi, negosiasi, atau bahkan ketemu dengan dosen ‘killer’. Ini doanya:

Wahai Zat Yang lebih pantas memegang kekuasaan ini daripada dia, wahai Zat Yang lebih dekat kepadanya daripada hatinya sendiri; wahai Zat yang mengaruniainya apa yang ada dalam kekuasaannya yang aku butuhkan, hanya kepada-Mu aku memohon, hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan agar meluluskan keperluanku. Kendalikanlah hatinya untukku ketika aku berbicara dengannya, menangkanlah aku atasnya sehingga bisa mendapatkan semua yang aku perlukan darinya tanpa ada halangan, cacian, penolakan, dan ketidak-sopanan darinya.

Wahai Zat Yang Mahahidup dalam kekayaan yang tidak akan pernah habis-habisnya, matikanlah hatinya dari menolakku dan tak memenuhi keperluanku, dan penuhilah keperluanku seperti yang pernah dia terima. Kendalikanlah dia untukku dalam hal itu seperti pengendalian orang yang agung dan berkuasa dengan hak kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau mengendalikan alam semesta.

Dua pekan lalu, teman saya berkata kepada saya: “Heran saya Zulham, sekian banyak ruko yang dibangun di Palopo, tak satupun ruko yang jadi toko buku!”. Saya mafhum dengan alasan teman saya itu berkata demikian. Akhir-akhir ini, birahi membaca komiknya tak tersalurkan dengan baik. Makanya, statement ‘putus asa’ itu akhirnya mengalir begitu alami.

Sadar atau tidak, toko buku di Palopo memang kuantitasnya sangat memprihatinkan. Mari ingat-ingat 5-10 tahun lalu. Di Jalan Jenderal Sudirman dulu ada Toko Buku Taufik. Tapi kini sudah jadi Laboratorium Prodia. Di ruko pasar sentral sebelum di remajakan, ada Toko Buku Fauzan. Entah dimana dia sekarang, gak jelas. Toko Buku Pembangunan di Jalan Ahmad Dahlan sih masih ada, tapi yah nasibnya ‘hidup ogah mati pun tak mau’. Dulu juga ada Toko Buku Bina Ilmu, tapi nasibnya agaknya mengikuti tren seperti Toko Buku Taufik juga. TB Amaliah yang di Jalan Durian, memang cukup survive. Namun sebenarnya kalau mau lebih meningkatkan benefit, menurut saya sih perlu sentuhan baru. Yah, inovasi-lah kira-kira! Sebagai tawaran sederhana dari saya, ubah konsepnya! Dari pure traditional selling menjadi lebih open-flexible selling. Tak perlu lah mencegat costumer dengan menyapa “Cari buku apa ki’?”. Mungkin lebih enak dengan sapaan “Silahkan masuk, pak!”. Toh orang ke toko buku biasanya tanpa mempersiapkan judul yang ia ingin beli. Kadang dapat judul yang pas di hati, beli deh! Tapi kalau langsung dicegat dengan sapaan “Cari buku apaki?”, lantas saya jawab “Buku ini”, dan balasannya “Oh, tidak ada!”. Itukan artinya si penjual tidak mampu memberi tawaran lain kepada calon pembelinya. Itu kesalahan pemasaran, jek!

Toko Buku yang bisa diandalkan di Palopo mungkin hanya (lagi…)

Akhirnya, saya tidak heran sekarang. Pertanyaan tentang: “Mengapa saya senang nge-blog?”, akhirnya terjawab oleh catatan-catatan almarhumah nenek (ibunya ayah saya), yang meninggal tahun lalu. Dari lemari peninggalan nenek, sebuah buku agenda dan tiga buah buku catatan kecil (yang dipermak sendiri oleh mama’— panggilan untuk nenekku itu), memberikan simpulan, yang tidak bisa dinegasikan bahwa: Menulis sudah menjadi budaya turun temurun di garis keturunan keluargaku!. So, nenek-ku ternyata bukan seorang pelaut (seperti lagu kebanggan kita itu), melainkan seorang yang yang gemar menulis. Seandainya pada zamannya sudah ada wordpress, beliau pasti jadi blogger juga! :D

Konon, mama’ Midah (panggilan dari beberapa anak angkatnya), dulunya cuma ikut Sekolah Rakyat (SR). Walaupun sudah SR, tapi kemampuan menulis latinnya masih kurang. Makanya catatannya hanya menggunakan huruf lontara bugis. Tapi kalau membaca, khususnya koran, sumpah, saya berani katakan: beliau bisa diadu dengan nenek-nenek yang lain! :D Beliau kelahiran Watampone, pada tahun yang simpangsiur (ada yang tercatat 1920, 1925, 1928 dan ada 1930). Bapaknya konon bernama La Hajji Daeng Mallanre, seorang muslim taat yang ikut di perjuangan PD II. Katanya, dulunya buyut saya itu dimakamkan di TMP Jalan Samiun (sekarang sudah jadi RS Tentara Palopo), namun ketika TMP Palopo dipindahkan ke Salobulo, jejak makamnya hilang. Ibunya nenek saya, namanya Doho. Di nisan kuburannya di Kompleks LokkoE ditulis Ma’ Na Midah (Ibunya Hamidah — nama asli nenek saya). Ceritanya cuma sedikit yang saya tahu tentang buyut perempuanku itu.

Mama’ Midah (nenek saya, yang saya sebut penulis itu), nikah dengan kakek saya, atau bapaknya ayah saya —pusing mode on— yang namanya Abd. Hafid Dg. Paewa. Kurang tahu, dari pernikahannya itu, tante dan om saya ada berapa ya?. Soalnya sebagian besar mereka meninggal usia anak-anak semua. Yang sempat dewasa cuma anak pertama (tante saya), dan ayah saya saja.

Kembali ke catatan mama’ Midah, saya terkaget-kaget melihatnya. Soalnya catatannya sangat detil dengan tanggal dan apa-apa saja yang perlu untuk menjadi perhatian. Lihat saja gambar catatan nenek saya itu di bawah ini, seandainya saya ndak buka-buka catatannya, saya pasti akan lupa selamanya bahwa saya mulai kerja tanggal 30 Oktober 2006! Tulisan aslinya: mappammulai majjama sulehang, 30-8-2006 araba’. Atau secara sederhana diartikan: Zulham mulai bekerja pada hari Rabu, 30 Agustus 2006.

18022009425

18022009423

(lagi…)

Pelangi

Barusan liat pelangi lagi, walau jepretnya agak telat dengan kamera resolusi rendah, yah… nikmati sajalah!

Perang Iklan

Perang iklan dimulai, Kompas hari kamis kemarin memuat iklan kedua musuh besar Mega-SBY..

Seperti main yoyo saja… :D

Halaman Berikutnya »