Arsip untuk Mei, 2008|Halaman arsip bulanan
Singkerru Simulajaji

Singkerru simulajaji belakangan ini mulai dipublikasikan ke khalayak. Secara umum, saya pernah tanya-tanya dengan seorang teman tentang simbol ini. Ternyata, simbol ini namanya singkerru simulajaji. Sepintas, dalam pengertian saya, arti harfiah dalam bahasa bugis to ware’, itu berarti ari-ari bayi. Tapi ternyata dibenarkan sama teman tersebut. Lantas, filosofi apa yang ada di singkerru simulajaji sebenarnya? Saya belum pernah dapat informasi yang detail tentang filosofi singkerru simulajaji. Mungkin, ini adalah ikatan hidup pertama manusia. Saya cuma menerka. Lantas kenapa ini seakan menjadi simbol orang Palopo?
Hikmah Nabi Sulaiman
Hai anakku, taatilah perintah ayahmu, dan jangan abaikan ajaran ibumu.
Tambatkanlah semua itu senantiasa di hatimu, dan kalungkanlah di lehermu.
Apabila engkau berjalan, semua itu akan memimpinmu, apabila engkau berbaring, semua itu akan menjagamu, dan apabila engkau terbangun, semua itu akan menyapamu.
Karena perintah itu pelita, ajaran itu cahaya, dan teguran untuk menertibkan adalah jalan kehidupan.
BBM Naik, C4P3 deh…!
Seabad kebangkitan bangsa, hadiah terbesar untuk rakyat Indonesia adalah kebangkitan harga BBM. Begitu mungkin logika Ucup Kelik di Democrazy. Bukan itu saja sih, acara di Gelora Bung Karno (yang cenderung extravaganza) juga kado untuk bangsa ini. Cukup menggugah, namun lebih banyakan hiburannya. Padahal hiburan masyarakat sudah banyak. Aming, hampir saban malam nongol di TV, tempat-tempat bermain macam Dufan udah banyak, dan yang eksklusif dikit, kupu-kupu malam lokalisasi udah gampang didapat oleh pencari hiburan malam. Kurang apalagi untuk sekadar hiburan?
Secara hitung-hitungan ekonomi, mungkin kebijakan public menaikkan BBM inilah yang terakhir (bukan terbaik) bagi pemerintah. Dan bisa ditebak, seperti di 2005 kemarin, orang melarat bakal lebih banyak. Hitung-hitungan ekonomi pemerintah, jelas sekali memperlihatkan adanya pergeseran ilmu ekonomi menjadi sebuah ilmu eksakta. Padahal, ekonomi, dari dulu hingga kapanpun, adalah terkategori di ilmu-ilmu social. Buktinya, ekonomi gak pernah nongol di Ujian Nasional anak-anak IPA. Saya anak IPA, di kelas tiga, ekonomi gak dijadwalin tuh. Sebagai ilmu social, wujudnya sejatinya akan selalu humanis. Sehingga, tatkala ekonomi tidak mewujud dalam pemanusiaan manusia secara fitrahnya, kita bisalah mempertanyakan kecenderungan ini. Manusia memang adalah homo economicus, namun di sisi lain pula adalah homo socius, yang dipahami sebagai insan yang memiliki karakter-karakter social. Dan salahsatu karakter tersebut adalah peradaban kesejahteraan. Bener gak? Kalau keliru tabe’ interupsi!
Lantas, masih bisakah hitung-hitungan ekonomi kemudian dipercaya bisa menemukan tujuan ‘kesejahteraan’ yang dicarinya, jika kemudian rekomendasi dari hitung-hitungan itu meniscayakan kenaikan BBM? Ambil nafas dulu…! Realistis saja bung, tahun 2005 lalu, sekali lagi saya tulis, orang melarat tambah banyak hanya karena BBM naik! Mungkin di 2005 kita bisa dikit mafhum bahwa, dulu itu memang supply-nya ngadat. Saya ingat kala itu ada badai Catarina,badai ini, badai itu… (lupa namanya, yaa… mirip-mirip badai Agnes Monica lah…).
Berbagai krisis yang dialami bangsa ini, telah memberikan survival training bagi rakyat kita. Hasilnya, bagi yang mampu memanage krisis ya dapat nilai bagus, namun yang bisanya cuma gitu-gitu aja ya dapat nilai merah! Namun demikian, bukan berarti pemerintah bisa permisif gitu aja terhadap kebijakannya itu. Rakyat, dengan karakter berpikirnya, memang telah terbiasa dengan krisis. Oleh karena itu, tega sekali jika krisis baru diciptakan lagi. Ya gak?
Demonstrasi yang terjadi di mana-mana membuat kita barharap-harap cemas. Jujur saja, gejala ini memperlihatkan suatu hal yang kurang baik. Tatkala rakyat kita menggugat harga pangan dan BBM, inilah embrio terbentuknya valley of death bagi suatu rezim. Menteri Perdagangan telah mengaku ‘keok’ gak bisa turunkan harga, kalau gitu menterinya aja yang diturunin! Kata Gus Pur, gitu aja kok repot! Sang menteri hanya bisa merasakan, dan pasrah. Kalau gitu sih, saya juga bisa jadi menteri!
Tadi malam, teman yang mau demo sms ke ponsel saya, katanya kita butuh revolusi. Pikirku, revolusi berpikir aje kaliee…! Kalau mau nurunin presiden, jangan dulu deh. Soalnya, itu bakal buat masalah baru. Coba pikir, siapa yang bakal jadi presiden? Kalla? Ya mungkin saja bisa, tapi apa iya ‘orang-orang sono’ pengin dipimpin Kalla. Kalau saya sih oke-oke saja. Kalla itu orangnya lincah, gak sama yang sekarang, beliau telmi (telat mikirnya…). Tapi sudahlah, saya ndak mau bahas itu. Ntar 2009 lah…
Terus, gimana selanjutnya? Sebagai insan kelurahan (ceile…), BLT bakal buat pusing saya juga ntar. Baiknya, BLT konversi saja ke pendidikan atau kesehatan gratis. Jadi, intinya BLT saya gak gitu dukung, maaf! BBM naik saja ane ndak dukung apalagi turunannya, BLT. Tapi, mungkin saya bisa pikir-pikir lagi, kalau pemerintah menyeimbangkannya dengan menaikkan gaji pegawai. Paling tidak 30%, huahahahaha… Tapi kalau mau hitung-hitungan (pakai hitungan matematika, bukan ekonomi), sama saja. Biaya transport ke kantor, jalan-jalan rutin sore saya, terus cuci mata saat malam ditambah acara weekend, sama saja, abis juga (malah minus) dan tetap bisa membuat saya tergolong orang-orang melarat! Dulu, waktu masih muda (sekarang udah tua, maksudnya bukan ABG lagi, hehehe…), dampak langsungnya memang tidak kerasa sekali. Maklum, dulu kita cuma kerjanya ngabisin duit ortu. Beda dengan sekarang, orang-orang yang memang telah merasakan sulitnya nyari uang, beban itu memang begitu berat. Jadi, intinya BBM naik lagi, ce empat pe tiga, C4P3 deh… Saya yakin, anda pula gitu, ya kan?
Antiklimaks Pilwalkot Palopo
Klimaks Pilwalkot Palopo 5 Mei telah terlewati. Pasti sudah, jawaranya adalah Paket Tentram. Kini, setelah pencoblosan (antiklimaks), Pilwalkot masih seru saja. Ini adalah analisis sederhana saja. Ya… melihat perkembangan di koran-koran local dan isu-isu para politikus jalanan yang saban hari saya temui. Supaya tidak terlupakan oleh saya, ya saya tulis saja. Hitung-hitung jadi catatan untuk Pilwalkot 2013 nanti. Hehehe…
Saya sengaja buat jadi point-point saja, supaya enak dibaca dan mudah dipahami. Jadi, selamat menikmati…
1. Ada kandidat, konon kabarnya masuk RS At Medika. Benar atau tidak, saya tidak ngecek langsung. Konon pula, ada yang masuk salahsatu RS di Makassar. Ini informasi kabar burung dari politisi jalanan, jadi jangan terlalu percaya.
Kelompok Ilmiah Remaja: Qualistyle Sekolah Unggulan
Beberapa waktu lalu, dalam sebuah blogwalking, tanpa sadar saya mengunjungi http://hasrilpmp.wordpress.com , blog milik seorang guru saya. Seketika, saya teringat kembali tentang pengalaman mengikuti kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja bersamanya. Mengesankan sekali, dan sedikit banyak hal itulah yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang ilmuwan, atau paling kurang menjadi trainer penulisan karya ilmiah, seperti guru saya itu. Profesi yang kedua sempat sih, tapi cuma hampir tiga bulan. Yah, menjadi trainer buat adik-adik kelas waktu SMA, hehehe.
Masa-masa SMP dan SMA memang belum terlalu diorientasikan untuk melakukan penelitian. Masa tersebut, oleh program pendidikan nasional kita (kecuali sekolah kejuruan), baru difokuskan untuk meletakkan fondasi teoritis dari disiplin-disiplin ilmu. Olehnya itu, penelitian di tingkat SMP dan SMA diistilahkan sebagai penelitian ilmiah remaja. Oleh karena sifatnya masih ‘amatiran’, maka ada banyak sisi-sisi fun yang diselipkan di dalamnya. Baca selebihnya »
Lagu Daerah Luwu
Dua lagu ini adalah sebagian dari lagu daerah masyarakat Tana Luwu ( Belopa, Masamba, Palopo, Malili ). Masih banyak yang lainnya. Pertama kali saya dengar lagu ini kelas empat SD, kaset aslinya warna putih. Konon menurut kakak dan ibu saya, yang nyanyi adalah tetangga saya, namanya Wahyu Sibenteng (Yuyu), waktu masih kanak-kanak. Sekarang beliau sudah jadi guru, tapi sampai kini saya belum pernah tanya, apa memang dia yang nyanyi ya?
“Lembata Tana Luwu”
Aneku lelendaya
Lembata Tana Luwu
Njairi amadago
Kupampa lindo mao
Mau bemaramba
Uepa i tananya
Rodomo ine papa
Kuode kupotowe
Lembata Tana Luwu
Artinya:
Selalu ku kenang
Negeriku Tana Luwu
Yang indah dan permai
Selalu terbayang di mukaku
Biar aku pergi jauh
Selalu ku kenang jua
Di sanalah tinggal ibu bapakku
Yang selalu kurindukan
Negeriku Tana Luwu
“Bunga Bunga Nakilino”
Bunga-bunga nakilino pakkirina lempangan
Make mante’ki’ nginantana marua
Tangla linora mandasa tangla tu allonro’ra
Kita’ ri’ tau lamaranto’ ba’teng ta
Ta bone bone I lino ta rajai lempangan
Mante’ki tau pantan lain lipunta
Makedion miki’lino ke dio tu allonra’
Tang sijalling ki’ tang si ponawa-nawa
Artinya
Hidup kita bagaikan bunga tumbuh di tanah
Sekali kelak akan mati
Bukanlah dunia akan mengalami rusak
Tetapi kita manusia akan mengalami mati
Perbaikilah hidup kita masing-masing
Karena jika kita mati masing-masing bertanggungjawab
Hidup kita di dunia ini hanya sementara
Tidak akan sama hidup kita di akhirat nanti
(sumber: catatan Tomatua To’ Jambu)
Pekan Begadang
Kamis (1 Mei 2008): Pagi hujan, mid semester di kampus ternyata dimulai pukul 08.00. Saya salah jadwal. Bayar administrasi dulu lalu ambil kartu ujian. Siang-sore ikut ujian. Pulang jam empat, siap-siap ke kantor. Jaga pos untuk pengamanan Pilwalkot. Malamnya pulang jam 01.00 dinihari. Ndak sempat nonton Kick Andy.
Jumat (2 Mei 2008): Tidak masuk kantor. Habis jumatan ke kampus ikut ujian. Habis itu ke Songka lihat persiapan kakak kedua pindah rumah. Pulang ke rumah setengah lima sore. Jam lima ke kantor, nginap sampai pagi. Di kantor, main laptop sama PPS dan PPK serta analis dan politkus-politikus Pilwalkot.
Sabtu (3 Mei 2008): Tiba di rumah jam setengah tujuh pagi. Tidur-tiduran eh… ketiduran. Cepat-cepat ke kampus, gak mandi Cuma cuci muka, bajunya juga tidak ganti. Masuk ujian, mata kuliahnya tabrakan. Akhirnya buru-buru. Pulang ke rumah pukul 11.00. Sunyi, karena orang-orang ke Songka (rumah baru kakak). Tiduran dulu, lalu mandi. Ke acara masuk rumahnya kakak di Songka, lalu ke kampus lagi. Jam empat balik ke rumah, masih sepi. Cuma ada ponakan baruku, Muhammad Hilal Aditiya, bersama ibunya di rumah. Jam lima di telepon bos janjian di Pa’tene. Siap-siap mobile, beli DVD dulu untuk persiapan nonton bareng ntar malam. Lalu nunggu bos di Pa’tene. Lama… Akhirnya jalan juga. Ke kantor bawa air mineral karton. Maghrib di kilometer 12 Battang. Ketemu seorang anak Smanet (yang katanya pernah atau kenal sama saya waktu di Smansa…siapa ya? Lupa Tanya namanya). Ketemu juga sama om Ali (pacenya Ali, teman SMA), juga sama pegawai BPS dan kantor Lurah Battang. Ngobrol-ngobrol sambil nunggu bos (yang tadi terpaksa balik karena ditelepon bos-nya). Di kantor, begadang nonton vcd/dvd yang dibeli tadi. Main game juga sama Bapak-bapak yang lain (hehehe…saya yang termuda). Ngontrol keadaan lokasi (maklum ini H-1 Pilwalkot), jaga-jaga agar tetap kondusif dan gak ada serangan malam atau serangan fajar. Balik dari ngontrol pukul 03.00 malam. Beberapa menit kemudian, ngorok! Jam setengah lima dibangunin si Bapak-bapak itu, film-nya kelar, mereka mau main game ‘bola-bola’, maksudnya Luxor,hehehe… tidur lagi sampai setengah enam.
Senin (5 Mei 2008): Saya balik ke rumah dulu, ambil kartu pemilih. Mau memilih di lokasi. Setelah baca Koran dan mandi, balik ke kantor. Singgah di TPS 01, di sana ada senior-senior PPS, aman walaupun saya lihat wajah-wajah tim sukses tegang, hehehe… Lanjut ke TPS 02 bersama tim dari Orari, ketemu Ketua LPMK di sana. Aman, suasanya nyantai gak sama di TPS 01. Lanjut ke kantor ndak ada orang, terpaksa ke TPS 03. Saya memilih di sana. Bismillah…coblos! Tinta pemilihnya kebanyakan tiga hari belum hilang. Setelah duduk-duduk sebentar, kembali ke kantor. Ngitung-ngitung uangnya orang, lalu makan siang di warung bersama senior-senior PPS. Setelah itu ke kantor, bos suruh ikuti perhitungan di TPS 01. Saya ke sana. Setelah itu laporan. Di kantor sampai pukul 15.00, balik ke Palopo bersama kotak-kotak suara. Ke Tandipau lalu balik ke rumah. Tidur sore tidak bangun-bangun sampe adzan Isya, astaga…! Bangun, dengar-dengar berita dari orang-orang di rumah. Tentram menang! Baca Koran, shalat, baca Qur’an, lanjut bobo….!
Selasa (6 Mei 2008): Tidur sampe bodo’…! Malamnya cukur, lalu ke toko buku (ndak ada yang masuk di akal jadi ndak beli). Jalan-jalan terus sampai teringat mau ke Galeri Palopo di Jl Opu dg Risaju. Di sana sebenarnya mau beli baju tapi lihat buku Ensiklopedi Sejarah Luwu, beli deh…! Sudah lama saya cari-cari dikau, sayang yang Budaya tidak ada. Pulang online dulu, dzikir, bobo…!
Rabu (7 Mei 2008): Pagi ke kantor, sunyi. Bos agak telat. Diajak makan siang plus dapat honor dari bos. Syukuran kemenangan nih…hehehe. Balik ke kantor, bos pulang. Sampai pukul 15.00, balik. Eh, ternyata bos masih ada, terpaksa deh beriringan jalan. Sore ke rumah sakit, ponakan baruku sakit. Dehidrasi jadi harus opname. Barakallah! Al Fathihah untukmu, Hilal! Semoga cepat sembuh. Malam diskusi dengan pace di ruang tamu. Kakinya masih sakit saja. Ibu tidur di depan tv sama adik yang sudah duluan ketiduran. Saya, nulis ini…
Tanggapan (4)
Tinggalkan sebuah Komentar
Tinggalkan sebuah Komentar



