Arsip untuk Juni 30th, 2008|Halaman arsip harian

Tojabi

Satu kebiasaan saya akhir-akhir ini adalah membuka-buka buku sejarah tentang Palopo. Ada satu target sebenarnya. Tapi malam kemarin, saya tertarik pada satu sosok nama Tojabi dalam cerita sejarah tentang Palopo. Namanya memang masih asing, pasalnya seingat saya, Tojabi belum diabadikan menjadi sebuah jalan di Palopo. Sayang, karena ternyata beliau punya peran yang tidak sedikit dalam perjuangan orang-orang Palopo melawan penjajah.

Gambaran umum tentang Tojabi kira-kira seperti ini: Beliau lahir kira-kira tahun 1860 dari keluarga bangsawan menengah. Ia melanjutkan perjuangan Haji Hasan (yang namanya sudah dipakai sebagai nama jalan di kawasan Palopo bagian timur). Pernah satu sel dengan Kahar Muzakkar, pengunyah sirih dan merupakan teknokrat ulung, ahli pembuat perahu besar. Namun, bukan dari sisi itu sebenarnya saya kagum, melainkan dari perspektif misteriusnya Opu Tojabi ini. Baca selebihnya »

Mencari Sejarah Palopo

Bukan sulap bukan sihir, tulisan saya tentang Awal Sejarah Berkembangnya Kota Palopo, secara hampir bersamaan dikutip di dua majalah lokal di Palopo. Tanpa menampilkan sumbernya, saya rasa tidaklah begitu masalah bagi saya. Yang ada malah suatu keresahan atau kecemasan, karena kenapa baru ada tulisan mengenai sejarah tantang Palopo? Sebuah kota yang ternyata telah eksis di medio tahun 1600-an. Tanpa sadar, niatan untuk meneliti perkembangan kota Palopo sejak masa Datu Luwu Patipasaung hadir di benak saya dengan begitu kuatnya.

Penulis-penulis tentang sejarah-budaya Palopo, memang eksistensinya belum begitu populer di Palopo. Kalaupun ada, mereka hanya bermain di level-level mereka sendiri. Belum membumi dan cenderung timbul-tenggelam. Parahnya lagi regenerasi tidak berjalan secara efektiif. Saya sendiri memaklumi, ada beberapa hal yang membuat kondisi ini terjadi. Beberapa di antaranya adalah kurangnya penelitian sejarah budaya, jarangnya pelaksanaan seminar kebudayaan atau sejarah, dan mungkin pula hilangnya sense of belonging kaum muda terhadap Palopo.

Pada kondisi pertama, yaitu kurangnya penelitian sejarah budaya, harus diakui memang masih minim. Kebudayaan Luwu lebih banyak digali dan diteliti oleh orang-orang di luar Palopo atau Luwu secara umum. Yang ada, Wija To Luwu yang saya ingat adalah hanyalah Sanusi Daeng Mattata, Baca selebihnya »