Mencari Sejarah Palopo

Bukan sulap bukan sihir, tulisan saya tentang Awal Sejarah Berkembangnya Kota Palopo, secara hampir bersamaan dikutip di dua majalah lokal di Palopo. Tanpa menampilkan sumbernya, saya rasa tidaklah begitu masalah bagi saya. Yang ada malah suatu keresahan atau kecemasan, karena kenapa baru ada tulisan mengenai sejarah tantang Palopo? Sebuah kota yang ternyata telah eksis di medio tahun 1600-an. Tanpa sadar, niatan untuk meneliti perkembangan kota Palopo sejak masa Datu Luwu Patipasaung hadir di benak saya dengan begitu kuatnya.

Penulis-penulis tentang sejarah-budaya Palopo, memang eksistensinya belum begitu populer di Palopo. Kalaupun ada, mereka hanya bermain di level-level mereka sendiri. Belum membumi dan cenderung timbul-tenggelam. Parahnya lagi regenerasi tidak berjalan secara efektiif. Saya sendiri memaklumi, ada beberapa hal yang membuat kondisi ini terjadi. Beberapa di antaranya adalah kurangnya penelitian sejarah budaya, jarangnya pelaksanaan seminar kebudayaan atau sejarah, dan mungkin pula hilangnya sense of belonging kaum muda terhadap Palopo.

Pada kondisi pertama, yaitu kurangnya penelitian sejarah budaya, harus diakui memang masih minim. Kebudayaan Luwu lebih banyak digali dan diteliti oleh orang-orang di luar Palopo atau Luwu secara umum. Yang ada, Wija To Luwu yang saya ingat adalah hanyalah Sanusi Daeng Mattata, Manai Sophiaan, Lahajji Patang dan Sarita Pawiloy, yang telah menerbitkan bukunya pada tahun-tahun jaman dulu. Sekarang, angkatan keduanya hanya bermain pada Idwar Anwar, Anton A. Pangerang, dan Armin M. Toputiri. Itupun, kalau mau dibilang belum terlalu produktif dan belum lebih mengungkap informasi baru dan detail tentang sejarah budaya Luwu, khususnya Palopo.

Bulang Cahaya, yang konon merupakan novel yang bakal difilmkan, tentu membuat kita (yang awam terhadap sejarah Luwu) kembali tersentak. Ternyata ada sejarah yang terlupa antara Luwu dan Sumatera bahkan Malaysia. Mungkin ada benarnya, kita memang kurang memberi perhatian terhadap penelitian budaya Luwu kita. Olehnya itu, kita butuh riset demi mengetahui identitas Luwu dan Palopo secara khusus.

Hal ihwal paham memahami sejarah Luwu, diperparah lagi karena jarangnya dilaksanakan publikasi riset atau seminar-seminar. Sekolah maupun dunia kampus tidak pernah berinisiatif untuk memberi oreintasi ke sector ini. Yang banyak adalah seminar-seminar kependidikan, yang kita tahulah tujuannya tidak jauh-jauh amat dari sekadar penunjang sertifikasi.

Factor yang terakhir yang menyebabkan kita tidak terlalu dekat dengan sejarah budaya Luwu, bisa jadi karena sense of belonging terhadap Palopo semakin tereduksi. Beda dengan orang-orang Jogja yang bangga dengan kotanya. Tentu dalam konteks yang positif. Kita malah menganggap rasa kebanggaan terhadap budaya sebagai sebuah hal yang malu-maluin. Feodal, kuno dan konservatif. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Kita perlu mengidentifikasi akar masalahnya. Mungkin akibat tidak universalnya nilai-nilai budaya terhadap ruang, kurang fleksibelnya tata nilai terhadap waktu atau malah karena adanya resistensi terhadap feodalisme buta. Kita sejatinya memang berevaluasi. Diperlukan pemahaman terhadap gejala-gejala ini.

Akhirnya, harapan terbesar saya sebenarnya dapat membaca sejarah kota Palopo secara komprehensif. Awalnya kan sudah ada, yaitu masa Patipasaung. Yang belum terekspos adalah post-Patipasaung era. Sulewatang Ware’ atau walikota Ware (yang waktu itu sudah di Palopo) siapa namanya? Dan berlanjut di era 1700-an, perkembangan Palopo bagaimana? Lalu 1800-an sampai menjelang Belanda datang. Perang Luwu 1905-1906 mungkin bisa mendeskripsikan Palopo di awal 1900-an sampai masa Andi Jemma. Pada tahun 1920-an di mana beberapa infrastruktur (Istana, RSU Sawerigading dan Kantor Pos) dibangun, saya pikir perlu untuk dikaji. Lalu setelah Kabupaten Luwu terbentuk dan Palopo menjadi ibukota, lalu berubah status menjadi Kota Adminstratif (Kotif). Saya juga berpikir ada tulisan mengenai gambaran kinerja bupati per bupati di masanya. Katanya, bupati yang paling getol membangun adalah Abdullah Suara. Dia bangun apa saja ya? Sampai di era sekarang, setelah Palopo berubah status menjadi kota otonom. Jadi, bagi anda orang Palopo atau Luwu, ini adalah tantangan bagi kita!

3 comments so far

  1. baso akhmad on

    Assalamu alaikum wr wb,
    saya pemerhati tulisan2 anda yang banyak mengekspresikan “kegelisahan” budaya Luwu, saya sangat respek dengan semua itu. kalau anda perkenankan, sy mohon izin untuk dimuat di majalah Ratona News, PALOPO, dimana sy selaku pengasuhnya. terimakasih sebelumnya. sukses slalu. wassalam

  2. Baso Akhmad on

    Ass, terimakasih atas tanggapannya, insya Allah mulai edisi enam ,jelang lebarn sy mulai turunkan tulisan anda. Senang sekali klo bisa bergabung di majalah yang sy asuh. great, wellcome…!

  3. Yunus RM on

    Pada prinsipnya, tulisan ini memberi informasi yang mendukung peningkatan wawasan wija to luwu akan kediriannya sebagai masyarakat yang memiliki sejarah dan budaya yang jelas…untuk itu terima kasih banyak atas tulisan ini, sebab tanpa upaya penulisan seperti ini, lambat laun kita akan kehilangan barang yang berharga…selamat!!!


Leave a reply