Tojabi
Satu kebiasaan saya akhir-akhir ini adalah membuka-buka buku sejarah tentang Palopo. Ada satu target sebenarnya. Tapi malam kemarin, saya tertarik pada satu sosok nama Tojabi dalam cerita sejarah tentang Palopo. Namanya memang masih asing, pasalnya seingat saya, Tojabi belum diabadikan menjadi sebuah jalan di Palopo. Sayang, karena ternyata beliau punya peran yang tidak sedikit dalam perjuangan orang-orang Palopo melawan penjajah.
Gambaran umum tentang Tojabi kira-kira seperti ini: Beliau lahir kira-kira tahun 1860 dari keluarga bangsawan menengah. Ia melanjutkan perjuangan Haji Hasan (yang namanya sudah dipakai sebagai nama jalan di kawasan Palopo bagian timur). Pernah satu sel dengan Kahar Muzakkar, pengunyah sirih dan merupakan teknokrat ulung, ahli pembuat perahu besar. Namun, bukan dari sisi itu sebenarnya saya kagum, melainkan dari perspektif misteriusnya Opu Tojabi ini.
Saya bisa mengatakan Tojabi misterius ,karena konon beliau mampu menghilang ketika ditangkap Belanda, mampu membengkokkan besi pengaman penjara, bahkan malah kebal dengan gilasan mobil. Diam-diam, saya mendudukkannya sejajar dengan Dedi Corbuzier, sang ilusionis kita. Kalau mereka diadu, siapa yang menang ya?
Seperti dongeng atau cerita rakyat saja, bukan? Bisa ya, bisa tidak. Kalau anda termasuk penganut paham realisme, mungkin kata yang bakal terucap dari bibir anda adalah: nonsense! Tapi itulah Tojabi, kisahnya kadang membuat bibir ini senyum-senyum aneh jika membacanya.
Tidak sampai disitu saja kekaguman saya. Hal yang utama dari kisah Tojabi adalah nilai-nilai kebenaran, dedikasi-keikhlasan, dan tentunya adalah herosime. Lihatlah kisah ketika masa-masa peralihan kekuasaan waktu Andi Kambo meninggal. Tojabi tahu dan benar-benar paham bahwa Andi Jemma-lah yang patut secara adat dan moral menjadi datu selanjutnya. Makanya, kebenaran tersebut beliau kawal dengan caranya sendiri di depan pintu gerbang istana. Ketika kebenaran tersebut akan dipalingkan, beliau bakal melawan.
Dedikasi dan keikhlasan Tojabi bisa dimaknai dengan perjuangannya yang merupakan gerakan underground. Sedikit bicara dan banyak bekerja, bisalah menegaskan sikap dedikasi dan keikhlasan itu. Dan nilai heroismetentu digambarkan dengan cerita bahwa, di dalam penjara Tojabi dihantam dengan kayu hitam oleh tentara Jepang, disiram minyak kelapa mendidih, hingga tidak diberi makan sebulan penuh. Akibat itu pula-lah, Tojabi sahid di dalam penjara Palopo (yang di jalan Opsal itu).
Tojabi memberi pemahaman baru bagi kita. Dengan gaya kita sendiri, selama itu bermanfaat dan tidak mengganggu orang lain, silahkan melakukan perjuangan. Sekecil apapun itu, kalau itu memberi dampak positif, monggo laksanakan! Jangan pula terlalu cepat menganggap si ini akan begini, si itu akan begitu. Toh, dia juga belum melakukannya, bukan? Jangan suudzon, cez! Dan yang terakhir, makna dari kisah Opu Tojabi adalah, anda mungkin bisa percaya kehebatan Tojabi bila percaya pula, bahwa Dedi Corbuzier bisa membengkokkan besi. Dan, saya yakin anda akan mengatakan: ah, itukan sulap! Sayangnya, Tojabi tampaknya tidak ingin anda sebut sebagai pesulap…
Belum ada komentar
Leave a reply




