Arsip untuk ‘Alun-Alun’ Kategori

Toko Buku Pojok

Dua pekan lalu, teman saya berkata kepada saya: “Heran saya Zulham, sekian banyak ruko yang dibangun di Palopo, tak satupun ruko yang jadi toko buku!”. Saya mafhum dengan alasan teman saya itu berkata demikian. Akhir-akhir ini, birahi membaca komiknya tak tersalurkan dengan baik. Makanya, statement ‘putus asa’ itu akhirnya mengalir begitu alami.

Sadar atau tidak, toko buku di Palopo memang kuantitasnya sangat memprihatinkan. Mari ingat-ingat 5-10 tahun lalu. Di Jalan Jenderal Sudirman dulu ada Toko Buku Taufik. Tapi kini sudah jadi Laboratorium Prodia. Di ruko pasar sentral sebelum di remajakan, ada Toko Buku Fauzan. Entah dimana dia sekarang, gak jelas. Toko Buku Pembangunan di Jalan Ahmad Dahlan sih masih ada, tapi yah nasibnya ‘hidup ogah mati pun tak mau’. Dulu juga ada Toko Buku Bina Ilmu, tapi nasibnya agaknya mengikuti tren seperti Toko Buku Taufik juga. TB Amaliah yang di Jalan Durian, memang cukup survive. Namun sebenarnya kalau mau lebih meningkatkan benefit, menurut saya sih perlu sentuhan baru. Yah, inovasi-lah kira-kira! Sebagai tawaran sederhana dari saya, ubah konsepnya! Dari pure traditional selling menjadi lebih open-flexible selling. Tak perlu lah mencegat costumer dengan menyapa “Cari buku apa ki’?”. Mungkin lebih enak dengan sapaan “Silahkan masuk, pak!”. Toh orang ke toko buku biasanya tanpa mempersiapkan judul yang ia ingin beli. Kadang dapat judul yang pas di hati, beli deh! Tapi kalau langsung dicegat dengan sapaan “Cari buku apaki?”, lantas saya jawab “Buku ini”, dan balasannya “Oh, tidak ada!”. Itukan artinya si penjual tidak mampu memberi tawaran lain kepada calon pembelinya. Itu kesalahan pemasaran, jek!

Toko Buku yang bisa diandalkan di Palopo mungkin hanya Baca selebihnya »

Peluang Ekonomi Kreatif di Palopo

Pernahkah anda menonton pertunjukan teater dengan lakon cerita Sawerigading atau I La Galigo di kota ini? Kalau tidak, berarti ada satu peluang ekonomi gelombang keempat (setelah ekonomi pertanian, industry dan informasi) yang luput untuk kita kembangkan. Olehnya itu, saat ini marilah kita bicara tentang ekonomi kreatif, yang mengakomodir peluang meraup keuntungan dari warisan budaya kita sendiri itu.


Keunikan budaya Indonesia saat ini menjadi modal besar untuk pengembangan ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif merupakan kajian system ekonomi kontemporer yang pada perkembangannya membuat industry-industri yang berbasis kreatifitas, talenta atau keterampilan. Oleh karena diyakini mampu menciptakan tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan, maka Presiden SBY pun gencar mengampanyekan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia sejak medio 2007 lalu.


Pemerintah sebenarnya agak lelet menginsyafi akan besarnya potensi ekonomi kreatif di negeri ini. Kita baru sadar ketika motif perhiasan perak Bali nyaris dicaplok pengusaha Kanada, Kopi Gayo dan Kopi Toraja yang dipatenkan oleh Belanda, batik diakui sebagai warisan budaya Malaysia, dan bahkan Teater La Galigo yang dibawakan oleh orang Amerika. Sebenarnya, bukan hal-hal tentang budaya saja yang masuk sector industry kreatif. Paling tidak, ada 14 sektor-sektor kreatif seperti periklanan; arsitektur; pasar seni dan barang antic; kerajinan; disain; fesyen; video-film-fotografi; permainan interaktif; music; seni pertunjukan; penerbitan & percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; televisi & radio; sera riset dan pengembangan (R&D), yang menjadi focus pengembangan di Indonesia. Konon, sector-sektor tersebut mampu menyerap 5,4 juta pekerja dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17,6 persen di tahun 2006.


Tawaran Agenda

Lantas, agenda apa yang perlu menjadi perhatian kita? Mari tinggalkan sejenak konsep-kosep bias tentang ekonomi kerakyatan yang selama ini menjadi tema pidato, sambutan bahkan kampanye pejabat-pejabat kita. Untuk masuk ke area ekonomi kreatif local, atau industry kreatif di Palopo, perlu disadari bahwa saat ini memang telah terjadi pergeseran orientasi ekonomi dari pertanian-industri-informasi ke fenomena ekonomi berbasis ide atau kreatifitas. Generasi baru pelaku kreatifitas di Palopo, tanpa disadari telah lahir dan Baca selebihnya »

Properti di Palopo: Over Supply dan Ancaman NPL

Sepanjang tahun ini, salahsatu bidang bisnis yang paling gencar mengedukasi masyarakat adalah bisnis properti. Mari lihat acara di MetroTV, Trans7, TPI dan TransTV di akhir pekan, hampir seragam, kalau bukan acara masak-memasak, pastilah acara promosi-promosian apartemen, ruko, hunian rumah, superblock bahkan sampai kompleks pemakaman mewah!

Penurunan BI rate yang terjadi sejak akhir 2007 lalu (yang sekarang balik lagi naik), memang memberi rangsangan kepada bisnis-bisnis properti ini. Di samping itu, kenaikan harga komoditas pertanian dan pertambangan konon menyebabkan meningkatnya konsumsi masyarakat, termasuk permintaan properti. Memang, untuk melihat perkembangan ekonomi suatu daerah, salahsatu indikator sederhananya adalah dengan melihat konsumsi semen dan kendaraan bermotor. Demikian pula di Palopo, fenomena motor baru dan pembangunan hunian dan rumah toko (ruko), memang sangat nyata ditemui dewasa ini.

Namun, yang perlu diperhatikan, khususnya industri property local dan perbankan di Palopo adalah prinsip kehati-hatian sejatinya tetap dijaga. Kompas menuliskan peringatannya agar mewaspadai kredit macet properti. Bisa jadi, ini diinspirasikan oleh malapetaka subprime mortgage di USA, yang diikuti dengan ‘meriangnya’ Meryl Linch dan Lehman Brothers. Namun, saya melihatnya bukan dari sekadar itu saja. Mari buka mata, ada berapa unit property (khususnya ruko dan rukan) yang dibangun di Palopo saat ini, dan ada berapa pula yang telah layu sebelum berkembang? Sebuah rumah kantor Baca selebihnya »

Obama ala Indonesia

Awalnya, saya tidak tahu daya tarik apa yang ada dibalik diri Barack Hussein Obama sehingga dia nekat maju nyapres di negara paman Sam. Kulit blacky, nama agak ke-muslim-musliman, pernah tinggal di Jakarta, dan belum berpengalaman di eksekutif. Apa iya, dia mampu nantinya? Mungkin, karena rasa penasaran itulah sehingga pada medio November tahun lalu, saya serta merta membeli buku karya Anwar Holid, di toko buku langganan saya. Setidaknya, dari buku itu, pengetahuan saya tentang Obama bisalah sedikit lebih dalam memahami pribadi beliau. Ketimbang berita-berita koran, buku itu lebih komprehensif.

Hari ini, Kompas menurunkan opini seorang bule tentang Obama dan Reformasi Indonesia. Menarik sekali, si bule yakin lima tahun mendatang ada Obama ala Indonesia yang secara mendadak bakal muncul. Sepintas, saya ingat Lia Eden kalau bicara tokoh-tokoh dadakan. Anda, masih ingat juga kan? Sekarang dia dimana ya? Sudahlah, saya mau ngomong soal Obama kini.

Optimis sekali bule itu ya? Awalnya saya juga sangsi. Ada beberapa hal yang mereferensikan anggapan keraguan saya itu. Yang pertama, Baca selebihnya »

Cukka Ulu

Ada hal yang menarik dari kunjungan mantan presiden Megawati, beberapa waktu lalu di Palopo. Beliau mendapat gelar adat dari Kedatuan Luwu, Daengna Rumpa’ LipuE. Menarik untuk disimak, bukan berarti ada feodalisme di sana. Hal ini lebih pada luapan apresiasi dari orang Palopo, kepada seorang figur yang memiliki peran penting di negara ini. Dan apresiasi itu, secara sadar dilakukan dari pendekatan budaya. Hal serupa juga pernah dilakukan kepada tokoh nasional Amien Rais dan Akbar Tandjung.

Yang menarik adalah bahwa, penggelaran adat adalah suatu permufakatan dari para pemangku adat di Luwu. Dalam proses tersebut, dibahas mengenai gelar apa yang akan ditelle’kan kepada sang mantan presiden, dan hasilnya adalah gelaran di atas tadi. Dalam konteks marketing, hal ihwal gelar-menggelarkan biasa disebut dengan personal branding (pb). Kadang, konsep personal branding ini diadopsi pula ke dalam materi pelatihan-pelatihan human resources Baca selebihnya »

Kelompok Ilmiah Remaja: Qualistyle Sekolah Unggulan

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah blogwalking, tanpa sadar saya mengunjungi http://hasrilpmp.wordpress.com , blog milik seorang guru saya. Seketika, saya teringat kembali tentang pengalaman mengikuti kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja bersamanya. Mengesankan sekali, dan sedikit banyak hal itulah yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang ilmuwan, atau paling kurang menjadi trainer penulisan karya ilmiah, seperti guru saya itu. Profesi yang kedua sempat sih, tapi cuma hampir tiga bulan. Yah, menjadi trainer buat adik-adik kelas waktu SMA, hehehe.

Masa-masa SMP dan SMA memang belum terlalu diorientasikan untuk melakukan penelitian. Masa tersebut, oleh program pendidikan nasional kita (kecuali sekolah kejuruan), baru difokuskan untuk meletakkan fondasi teoritis dari disiplin-disiplin ilmu. Olehnya itu, penelitian di tingkat SMP dan SMA diistilahkan sebagai penelitian ilmiah remaja. Oleh karena sifatnya masih ‘amatiran’, maka ada banyak sisi-sisi fun yang diselipkan di dalamnya. Baca selebihnya »

Cyber City: Merancang Wajah Baru Palopo

Satu dekade ini, tak ada yang bisa membantah bahwa Palopo telah mengalami evolusi. Perubahan demi perubahan terjadi, mulai dari mafia papporo’ yang berubah menjadi JTC (Jamaah Tabligh Community), se’meng city yang berevolusi menjadi Kota Adipura, lalu crowded city yang bertransisi menjadi healthy city. Dan yang menarik di awal tahun 2008 ini adalah, Palopo bakal jadi cyber city!.

Konsep cyber city atau kota cyber, sebenarnya telah pula dirintis oleh Makassar setahun lalu. Konsep ini digambarkan oleh pemerintah sebagai konsep kawasan dengan infrastruktur teknologi informasi memadai, baik dari sisi konektivitas jaringan terpadu, kapasitas bandwidth, internet nirkabel dan kabel, dan infrastruktur serat optik mencukupi serta sarana pusat riset yang dikelola bersama perguruan tinggi dan swasta. Dalam kota cyber tersebut akan bertemu penyedia infrastruktur teknologi informasi atau aplikasi dengan pembeli dari berbagai segmen dan bidang industri. Atau secara sederhana, core idea dari cyber city adalah kota yang terintegrasi melalui fasilitas berjaringan dalam rangka aksesisibiltas masyarakat yang lebih optimal.

Banyak hal positif dari konsep ini. Transparansi dan partisipasi public sebagai teori good governance, dapat lebih dioptimalkan. Hal ini disebabkan karena di dalam sebuah cyber city, akan pula dilaksanakan e-government yang nantinya membuka akses akan transparansi pengelolaan pemerintahan. Pembuatan KTP, konon pula dapat dilakukan secara online. Demikian pula perizinan-perizinan lain, serta sector pendidikan. Dengan adanya fasilitas berjaringan, peran pegawai perizinan dan guru (mungkin) akan bakal tereduksi. Peran mereka perlahan akan digantikan dengan e-government.Dan ujung-ujungnya, tentu adalah efisiensi birokrasi.

Master Plan

Pada hakikatnya, menjadikan Palopo cyber city adalah sesuatu keniscayaan, dalam pengertian bahwa, mau tidak mau, cepat atau lambat, pasti kota ini akan menuju kesana. Tak bisa disangkal, internet di masa depan akan menjadi kebutuhan primer masyarakat. Olehnya itu, dalam melaksanakan goal Palopo Cyber City (PCC), diperlukan master plan yang terstruktur.

Pembangunan infrastruktur free hotspot di Lagota merupakan langkah awal yang cukup baik. Untuk memulainya memang diperlukan suatu monument. Ibaratnya membangun Islamic Center, acara peletakan batu pertamanya adalah dengan pembukaan free hotspot ni. Dengan demikian, paling tidak ada pengenalan mengenai internet, atau secara umum, hal ini mengomunikasikan niatan dan kesiapan kita menuju cyber city.

Selanjutnya, yang diperlukan adalah mengedukasi khalayak akan urgensi internet, baik dalam kehidupan saat ini, maupun di masa yang akan datang. Dalam konteks ini, pengenalan dasar tentang browsing, chatting, e-mail dan konsep dasar internetan lainnya haruslan dimantapkan. Disadari bahwa, pengguna internet di Indonesia dan khususnya di Palopo, memang masih mengkhawatirkan.

Tantangan berat dalam program Palopo Cyber City sebenarnya hanya terletak pada edukasi dan capital. Dalam konteks edukasi, sulit untuk merubah pandangan konservatif masyarakat. Saat ini, kaum tua cenderung menjustifikasi internet sebagai media perusak moral. Dampaknya, ada kecemasan moral untuk membumikan internet ke generasi muda. Sehingga, target yang sejatinya diutamakan adalah mengedukasi kaum tua konservatif, yang secara moral dan pengetahuan, belum mampu menyerap perubahan mutakhir dalam teknologi. Kaum muda, cenderung lebih mudah untuk diarahkan. Tentu dengan pendekan pendidikan formal di sekolah, yang orientasinya adalah e-edu.

Olehnya itu, edukasi ini, menjadi keniscayaan untuk sukses. Sehingga kita mampu untuk melangkah ke planning selanjutnya (dalam rangka mencapai goal PCC tadi). Indikator keberhasilan dari edukasi ini dapat dilihat dari traffic ataupun jumlah user. Dengan adanya tren peningkatan jumlah user di free hotspot, maka berarti terjadi peningkatan kemanfaatan fasilitas. Adanya peningkatan kemanfaatan fasilitas, menunjukkan kebutuhan masyarakat memang tinggi.

Di samping itu, indicator lain yang bisa digunakan untuk menilai keberhasilan edukasi ini adalah dengan terbentuknya komunitas netters, blogger atau chatter secara mandiri dan luas. Dengan adanya komunitas-komunitas ini, dengan sendirinya nanti akan ditemui kegiatan-kegiatan litbang terhadap eksistensi PCC. Olehnya itu pula, perlu menjadi perhatian untuk menggandeng komunitas-komunitas ini dalam rangka mengedukasi masyarakat.

Pada saatnya, ketika masyarakat Palopo secara holistic telah melek internet, maka e-government dapat dieksekusi. Pengelolaan kepemerintahan dilakukan secara terintegrasi dengan dinas, badan atau kantor satu dengan yang lainnya. Diharapkan, dari aplikasi ini, terjadi sinkronisasi kegiatan (karena terjadi koordinasi integral); terjadi efektifitas waktu (karena korespondesi dilakukan via email); serta efisiensi anggaran (karena SDM dapat dioptimalkan dan dokumen-dokumen dapat digantikan dengan database). Perizinan KPTSP dapat dilakukan secara online. Retribusi dan pembiayaan lainnya dapat terkoneksi langsung dengan rekening bank masyarakat yang bersangkutan. Semua terasa mudah dan praktis.

Eksternalitas

Di samping memberikan hal positif terhadap kemajuan pengetahuan masyarakat, hal yang perlu pula diperhatikan dari konsep cyber city kelak adalah tumbuhnya generasi yang saya sebut sebagai pengidap e-holic syndrome (ketergantungan terhadap teknologi elektronik). Masyarakat kita akan semakin dimanjakan dengan teknologi (terutama yang bernergi utama listrik), sehingga pada titik tertentu, di mana terjadi krisis energy listrik, kita akan merasa begitu sulit untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, rumah maupun urusan-urusan social tanpa bantuan teknologi. Demikian pula kelak, masyarakat kita bakal banyak yang hanya menghabiskan waktunya di depan computer dan kurang bersosialisasi dengan kawan, tetangga maupun keluarga. Sehingga, pada akhirnya adalah adanya ancaman perubahan budaya masyarakat.

Saya ingat, ketika program ini digelontorkan februari lalu, ada sikap skeptic dari seorang pembaca Koran local. Dia melakukan satire bahwa, program ini terlalu bombastis padahal cakupan listrik untuk Palopo saja belum 100%. Memang disadari, infrastruktur pendukung PCC memang membutuhkan capital yang tidak sedikit. Namun, dampak positifnya juga tidak kecil. Sekali lagi, konsep ini mampu untuk mengefisiensikan anggaran, sehingga budget untuk investasi dan pengentasan kemiskinan dapat lebih dipacu. Yang jelas, cepat atau lambat, mau tidak mau, PCC akan menjadi keniscayaan, dan detik ini kita memulainya! Kalau bukan sekarang, kapan lagi…

Media Politika

‘Pa’ Kumis dan Bu’ Krudung’ bikin seru Pilwalkot saja. Koran Palopo Pos, pada hari Senin mengabarkan Si Empunya gambar bakal menyiapkan tim advokasi untuk menggugat Pemkot jika menurunkan paksa gambar Pa’ Kumis. Lain lagi di Selasa. Calon “yang selalu berkata benar (YSBB)”, laporannya kandas lagi. Calon ini memang selalu berkata benar, makanya, di Panwaslu dia sudah melaporkan lima kali ‘pelanggaran’ calon ‘juru kunci’. Benar-benar berkata benar, atau benar-benar membuat seru Pilwalkot saja? Terserah anda, pembaca!


Sementara itu, calon ‘metal’, di Koran itu (pada hari yang sama dengan berita calon ‘YSBB’ di atas), dikabarkan bersilaturahmi (mungkin juga bersilat lidah) di masjid Al Awwabin. Bisa ditebak silaturahmi macam apalah itu. Yang jelas Koran itu memasukkan beritanya di kolom Pilkada. Sementara, di kolom sebelahnya, baliho si ‘juru kunci’ dirusak orang tak dikenal. Kerugian materil katanya, dan saya pikir, ini bukan indikasi Pilwalkot seru lagi, tapi bakal serem!

Saat ini, media menjadi bintang untuk para calon pemimpin kita. Alasannya, media menjadi begitu penting untuk kampanye. Bukan hanya mahasiswa komunikasi saja yang paham urgensi media untuk kampanye, namun politisi berijazah SD pun mahfum hal itu. Tak heran, order baliho dan spanduk dipercetakan, baju kaos (walaupun rada-rada tipis) di usaha konveksi, hingga koran Palopo Pos laris manis jadinya. Saya yakin, wartawan Koran Palopo Pos yang baru ber-ultah ini, pasti keteteran melayani sms undangan liputan kegiatan para players Pilwalkot. Saya ingat teori The Powerfull Effects-nya Elizabeth Noelle-Neuman (1973) yang membenarkan bahwa media massa sangat memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Saya yakin, manajemen kampanye para calon walikota kita, pasti pula berusaha untuk menguasai teori ini.

Mau fakta tentang teori di atas? Kita semua pasti tahu, bahwa bukan lagi suatu rahasia, pariwisata Bali anjlok di 2002 karena publikasi buruk CNN mengenai terror bom di Pulau Dewata itu. Oleh karena berita Kompas pula yang mengatakan bahwa kita bangsa ‘boros’, makanya Presiden SBY menginstruksikan pejabatnya mengganti jasnya menjadi batik dan mengurangi AC pada saat rapat di kantor pemerintah. Artinya bahwa, sekali lagi, media memiliki pengaruh sangat signifikan, baik dalam hal menarik perhatian, menimbulkan minat, membuat keputusan dan hingga melakukan sebuah aksi. Media dapat mengantarkan kesuksesan kekuasaan dan di sisi lain pula mampu memperkosa (bahkan membunuh) kekuasaan seseorang. Olehnya itu, dalam konteks kampanye,core-nya adalah membangun image positif, dan komunikasi politik bermain pada ranah ini.

Adu Strategi

Baliho ‘juru kunci’ yang dirusak, dan adanya complain terhadap karikatur ‘pak kumis’, mengindikasikan betapa takutnya manajemen kampanye para calon untuk kehilangan peluang mengedukasi masyarakat. Dan sekaligus pula, penulis pikir, mendeskripsikan ketakutan calon satu terhadap atraktifnya gerak competitor lainnya. Wajar saja dalam sebuah kompetisi. Dan di sinilah ‘serunya’ Pilwalkot kita. Namun, bukan berarti keseruan itu, akan bermetamorfosis menjadi keseraman dan kesengsaraan. Mudahan saja tidak.

Untuk mencapai keefektifan komunikasi, hal yang perlu dipahami oleh manajemen kampanye adalah bahwa komunikasi adalah selling, not telling. Olehnya itu, kampanye bukan hanya sekadar menuliskan visi-misi di media, namun sejatinya memberikan nilai jual atau tawaran yang berkualitas dan memasarkan kehendak kita (visi-misi) itu kepada khalayak. Dengan demikian, diperlukan pemahaman internal tentang apa yang dijual (visi-misi), pemahaman tentang karakter dan harapan masyarakat (target), serta menganalisis kondisi kompetisi yang tengah berjalan. Dalam konteks ini, riset sejatinya tetap terus dilakukan. Bukan hanya pada saat survey awal popularitas untuk mengusung calon, namun pula harus ada follow up yang dilakukan secara sustainable dan obyektif, hingga 5 Mei mendatang.

Hal kedua yang sejatinya dipahami adalah komunikasi merupakan proses memperoleh persetujuan atau dukungan. Disini, hal yang ditekankan adalah kita telah mampu menjawab pertanyaan: Apakah pesannya sudah benar, tepat, jelas,dan cara penyampainnya sudah sesuai ruang, media dan waktunya? Dalam konteks ini, art menjadi sesuatu yang menjadi keniscayaan untuk di telaah. Diperlukan branding, disain identitas dan naming yang kreatif, tepat dan campaign oriented. Jadi baliho, leaflet, spanduk atau stiker tradisional dengan disain grafis yang seadanya, sejatinya ditinjau ulang. Harus eye catching. Di samping itu, tren kampanye dewasa ini pula adalah internet. Hybrid era, kampanye dunia nyata dan maya. Yang secara tidak langsung pula, paling tidak mampu mencuri perhatian kaum netters Palopo, walaupun keefektifannya masih dipertanyakan.

Calon ‘pak kumis’ membuat suatu diferensiasi dengan membuat karikatur. Plagiat dari ‘Si Kumis dan Si Kacamata’ waktu Pilgub lalu ini, menurut penulis mampu mencuri perhatian. Paling tidak, perhatian masyarakat itu tercermin dengan adanya kontroversi. Namun, bukan berarti saya bakal pilih ‘si kumis’. Visinya saya anggap biasa-biasa saja. Sebagai seorang muda, saya ingin visi yang mengadopsi strategi blue ocean , dan itu ada di calon ‘metal’. Tapi lagi-lagi saya ragu, calon ‘metal’ belum berpengalaman. ‘Juru Kunci’ bagaimana? Dia sudah berpengalaman, tapi tampaknya dia harus menjawab kritik mahasiswa-mahasiswa kita dulu. Lalu, dengan calon ‘YSBB’? Sama saja, dia harus menjawab dulu pertanyaan ‘juru kunci’ tentang isu “bage-bage barra’nya”?. Jadi, ibaratnya orang mau naik haji, seluruh utang sebaiknya dilunasi dulu, wudhu dulu sebelum shalat, atau klarifikasi dulu semua wacana-wacana public yang negative-negatif. Sehingga pencitraan positif dapat lebih mudah, dan kampanye berjalan efektif. Demikian pula, strategi komunikasi harus diadu secara elegan. Over promise under delivery, juga salah. Foto harus secantik aslinya, dalam artian pencitraan harus mendidik. Janji harus sesuai dengan kenyataan.

Negasi Teori

Sulit untuk membaca keefektifan komunikasi politik calon walikota kita, jika tidak ada riset yang dilakukan pra Pilwalkot 5 Mei mendatang. Olehnya itu, sulit pula untuk memprediksikan siapa yang bakal jadi looser atau siapa yang bakal menjadi winner. Media komunikasi kampanye, dalam teorinya di atas tadi, memutlakkan memberikan kemenangan pengaruh kepada siapa yang intensif melakukan proses komunikasi yang efektif. Namun, belajar dari Pilgub kemarin, ‘Sang Jenderal’ dan ‘Si Kumis’ -yang semua orang tahu menguasai media komunikasi- takluk di kota ini. Sehingga kita kemudian bertanya: Apakah ini memberikan justifikasi, bahwa politik memang ilmu yang tak terukur dan unpredictable? Kata iklan: May be yes, may be no. Teori komunikasi (dan mungkin pula teori pemasaran) bisa saja dibantahkan di area studi politik. Jadi, belum tentu jagoan kita-lah yang bakal pote-pote di panggung victory speech di bulan Mei mendatang. Makanya ikuti tradisi politisi-politisi kita, siapkanlah jauh-jauh hari kuasa hukum. Mungkin, ada peluang untuk banding di PT jika calon kita kalah, ya kan? Wallahu a’lam.

Mapappe’

Tak banyak (atau mungkin tidak ada) yang tahu persis sejarah munculnya kata ini. Namun, saya yakin, seperti kata-kata ‘aneh’ lainnya di masyarakat Palopo (khususnya remaja), pasti kata ini dipopulerkan oleh seseorang dalam waktu tertentu dan diadopsi oleh kelompok atau pribadi-pribadi latah. Yang jelasnya, dalam lirik lagu “ABG Palopo” (yang saya anggap kritik sosial), kata ini muncul. Hal ini tentu menjadi justifikasi bahwa, kata ini secara umum telah diterima dan dipahami oleh masyarakat Palopo dan sekitarnya.

Mapappe’ sendiri, dalam pengucapannya, kadang ada yang menyebutkan dengan Mappappe’. Gak tahu yang mana yang benar, karena kata ini sendiri memang belum dikaji secara ilmiah. Begitu pula dengan bahasa-bahasa keseharian masyarakat Palopo, yang cenderung membentuk karakter tersendiri. Kalaupun ada yang meneliti, mungkin publikasinya yang kurang bergema. Karakter bahasa (atau apalah terminologinya dalam disiplin ilmu humaniora) keseharian masyarakat Palopo sendiri, cenderung mencombine antara Bahasa Indonesia, Bugis, Luwu dan pure Palopo language . Dan saya berasumsi bahwa, mapappe’ atau mappappe’ ini adalah terkategori pada pure Palopo language. Mapappe’ satu kelompok dengan kata seperti “bah” atau “bi”. Kata atau partikel “bah” sendiri konon tidak dimiliki oleh daerah lain di Sulawesi Selatan. Yang saya tahu, cuma orang Batak saja yang juga menggunakan kata Bah ini. Bah sendiri menurut saya mirip-mirip dengan kata atau partikel “lo” di Sinjai, “je’” di Sidrap, atau mungkin juga kata “kora” di Luwu bagian selatan. Bah sendiri tidak ditemukan di bahasa Bugis dan Luwu. Beda dengan kata atau partikel akhiran “e” atau kata “bammi” yang ditemukan di bahasa Bugis dan partikel “le’” yang ditemukan di bahasa Luwu. Le’ sendiri kini menjadi ciri khas orang Palopo (dan juga Luwu umumnya).

Kalau bah cenderung terkategori menjadi partikel bias makna, maka Mapappe’ tadi cenderung tergolong sebagai suatu kata yang bermakna. Mapappe’ atau mappappe’ dapat dimaknai sebagai bagus, cantik, gagah, indah atau sesuatu yang ideal. Di masyarakat Palopo (khususnya remaja), saya sering mendengar kalimat: “Mappappe’ mi kawan!”, yang berarti: “Sudah bagus, kawan!” dalam konteks situasi seseorang remaja yang mengakhiri kegiatan memperbaiki motor sahabatnya. Atau kalimat: “Bi…mapappe’nya!” (arti: Wow, cantiknya!) dalam konteks situasi seorang remaja pria yang mengagumi kecantikan (atau keseksian) seorang cewek.

Demikianlah, mappappe’ atau mapappe’ secara umum hanya digunakan di kalangan remaja. Saya berkesimpulan bahwa, kata mapappe’ atau mappappe’ ini adalah bahasa gaul remaja Palopo. Sehingga pula kata ini dipakai dalam lirik lagu kritik “ABG Palopo”, yang notabene target marketnya adalah remaja. Olehnya itu, jangan heran jika kelak 5 hingga 10 tahun mendatang, mappappe’ atau mapappe’ bakal ditinggalkan oleh remaja Palopo. Alasan sederhanya karena, mereka menganggap kata ini adalah ‘teori kebahasaan gaul’ lawas. Yang tumbuh dan berkembang di generasi sebelum mereka, generasi jadul!. Sehingga tidak cocok lagi digunakan di era mereka. Ya, kan? Kapeng…

Kepemimpinan Nasional dalam Tinjauan Budaya To Luwu

Sure’ Lontara

Kajian berikut ini adalah tulisan saya waktu kelas 3 SMA. Sempat dihargai jadi juara harapan 2 tingkat nasional dari Depdiknas. Gak tahu, kekuatan dan kelemahannya ada di mana. Sayang, cuma diapresiasi di urutan kelima, jadinya cuma dapat 1 juta, hehehe….Tapi kalau saya baca ulang, agak ngambang juga tulisannya. Maklum saja, ini dibuat waktu SMA.

Ini lengkapnya:

Dewasa ini bangsa Indonesia dihadapkan dengan sejumlah problematika yang begitu kompleks. Melalui media cetak dapatlah disimak bahwa mikro dan makro ekonomi Indonesia masih belum sepenuhnya stabil, kehidupan politik yang masih mengedepankan paradigma “Politik Busuk” masih terjadi, suasana sosial masyarakat relatif masih rawan konflik dan wawasan integrasi Indonesia yang melemah masih membayangi kita.

Di dalam keadaan demikian, pemimpin nasional dituntut memiliki kemampuan-kemampuan khusus untuk dapat memanajemen dan menyelesaikan persoalan – persoalan bangsa. Sebagai bangsa yang besar dengan potensi sosio-kultural yang beranekaragam, maka pemimpin nasional sejatinya merefleksikan diri ke belakang mengkaji nilai – nilai historis budaya mengenai kepemimpinan (Leadership).

Sadly A.D. (1987) menyatakan, Pemimpin adalah orang yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap sekelompok orang banyak. Tiap pemimpin mempunyai kepemimpinan yang berbeda – beda. Masih menurut Sadly A.D. (1987) bahwa Kepemimpinan adalah seni dan proses mempengaruhi dan menggerakkan individu dan atau kelompok untuk bekerja sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Konsep kepemimpinan To Luwu (masayarakat Luwu) sebagai sebuah orientasi nilai – nilai kultural sedikit banyak telah membentuk pola kepemimpinan yang universal dan efektif dalam mengatasi persoalan ketatanegaraan. Nilai – nilai tersebut adalah Adele, Lempu, Tengngeng dan Getteng.

Adele berarti adil. Adil menurut Dr. Erhans A. dan Audi C. adalah tidak berat sebelah, tidak memihak. Konsep keadilan yang diaktualisasikan di dalam konsep kepemimpinan To Luwu di dasarkan dengan filosofi yang dikemukakan I Sehe Makkunrai yang dikutip oleh Prof. Dr. Darmawan Mas’ud Rahman (2002) dalam makalahnya “Andi Djemma Di Mata Rakyat Dan Raja-Raja Di Sulawesi Selatan” yaitu Siwennimi adele mapparenta datu-e padami patappulo wenni sempajangnge. Filosofi ini berarti bahwa hanya semalam pemerintah berbuat adil sama dengan empat puluh malam bersembahyang. Hal ini menunjukkan bahwa keadilan sosial yang diterapkan oleh pemimpin nasional adalah sebuah konsep kepemimpinan yang diinginkan oleh rakyat dan berorientasi pada nilai-nilai religius.
Oleh karena itu, pemimpin nasional pada tempatnyalah menempatkan konsep keadilan ini dengan porsi yang signifikan. Pembangunan di segala bidang haruslah dilakukan dengan perimbangan yang adil antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Hal ini dimaksudkan agar keadilan sosial yang menjadi amanat Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945 dapat dicapai secara optimal.

Konsep yang kedua adalah Lempu yang berarti kejujuran. Konsep ini basicnya adalah filosofi yang dikemukakan Ismail yang dikutip oleh Prof. Dr. Darmawan Mas’ud Rahman (2002) yaitu Siri’ na malempuE mitu napatuo to Palopo, narekko deqnagaga siri’ na lempu olo’–olo’ notu yang mempunyai arti bahwa Siri’ dan kejujuranlah yang menghidupkan orang Palopo (Luwu), kalau tidak ada siri’ dan jujur lagi maka seseorang adalah hewan.

Konsep kejujuran haruslah menjadi modal utama dalam kepemimpinan nasional. Hal ini sangat krusial karena pemimpin yang jujur menurut Drs. Muhadam Labolo (2002) adalah memiliki Moral of Capacity, yaitu kemampuan moral yang telah teruji melalui kredibilitas yang dapat dilihat selama menjadi pemimpin di tengah masyarakat (Palopo Pos, edisi 2 April 2002). Dengan kejujuran yang bermoral tersebut maka akan lahirlah sebuah trust atau kepercayaan masyarakat kepada pemimpin nasional yang selama ini dipandang telah hilang karena adanya krisis kepercayaan. Oleh karena itu, untuk menentukan pilihan terhadap pemimpin masa depan sejatinyalah masyarakat meninjau background atau latar belakang dari perjalanan politik dan kinerja calon pemimpin nasional yang akan dipilihnya. Latar belakang pribadi dari calon pemimpin tersebut bukan hanya ditinjau dari segi positif atau perannya selama ini, tetapi juga perlu dilihat dari negatif experience atau pengalaman negatif seperti apakah pernah terlibat dengan korupsi ataukah tidak pernah. Hal ini penting karena menurut Revrisond Baswir (2003) korupsi dapat diibaratkan sebagai penyakit menular yang memiliki dampak sangat buruk terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat (Palopo Pos, edisi 30 Oktober 2003).

Konsep kepemimpinan To Luwu yang ketiga adalah Tengngeng yang berarti kebenaran. Filosofi dari konsep ini adalah Tebbake tongengnge, yaitu kebenaran tidak akan mati. Bila dikorelasikan dengan keadaan kepemimpinan sekarang, maka nilai-nilai filosofi ini tampaknya telah mulai pudar. Hal ini diindikasikan di mana hukum telah terkontaminasi dengan person interest atau kepentingan oknum-oknum tertentu. Pemimpin nasional masa depan diharapkan mampu mengubah paradigma kebenaran hukum yang selama ini hanyalah diibaratkan seperti pisau dimana tajam ke bawah tumpul ke atas kembali ke paradigma hukum yang mempunyai koridor tersendiri. Kebenaran hukum haruslah ditegakkan oleh national leader (pemimpin nasional) sebagaimana yang diungkapkan Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja (1984) bahwa hukum itu tergantung pada situasi dan kondisi yang salahsatunya adalah kesanggupan aparatur negara melindungi masyarakat. Pernyataan di atas, dapat diinterpretasi bahwa aparatur negara dalam hal ini pemimpin nasional diharapkan mampu melindungi masyarakat dengan penegakan kebenaran hukum yang konsisten. Oleh karena itu, untuk mewujudkan kebenaran hukum yang konsisten tersebut maka pemimpin nasional dituntut memiliki political will atau keinginan politik untuk selalu mengedepankan kebenaran itu.

Konsep yang terakhir adalah Getteng yang berarti ketegasan atau keteguhan hati. Filosofi dari konsep ini adalah Toddopuli temmalara (kokoh di tempat tidak bergeser). Konsep ketegasan ini dilahirkan dari kolaborasi ketenangan dan kehangatan yang selalu diaktualisasikan oleh pemimpin To Luwu. Ketenangan ini dijabarkan dengan adanya pertimbangan menalar dan memutuskan sesuatu dengan kepala dingin. Di dalam pemutusan masalah – masalah itu, maka kehangatan tidak pula dinafikan perannya. Kehangatan ini adalah kedekatan dengan rakyat dan persahabatan yang akrab dengan tidak terjerumus kepada kemunafikan pergaulan.

Dalam konteks kekinian, ketegasan dalam kepemimpinan nasional tampaknya mulai mengalami dekadensi. Hal ini mengakibatkan berlarut-larutnya problem nasional tanpa adanya penemuan formula atau rumusan kebijakan yang tepat untuk mengakhiri masalah – masalah tersebut. Kebijakan atau policy yang krusial sejatinya ditangani dengan kembali mengkaji pendekatan – pendekatan kultur di atas. Oleh karena itu, pemimpin nasional sejatinya memiliki integritas dan pandangan kebangsaan yang luas sehingga mampu menjadi solidarity maker atau nasionalis yang tangguh dengan sejumlah instrumen kebijakan yang efektif dan relevan terhadap masalah-masalah yang aktual di masyarakat.

Keempat konsep tersebut di atas sangatlah relevan dengan konsep kepemimpinan modern yang mana menginginkan integritas, antusiasme, kehangatan, ketenangan, ketegasan serta demokratis. Hal ini begitu sejalan dengan heterogennya masyarakat Indonesia yang memiliki suku, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Integritas mencerminkan kualitas pribadi yang tinggi khususnya rasa keadilan nasional, antusiasme merefleksikan adanya power atau kekuatan yang besar untuk mengedepankan kepentingan rakyat melalui jembatan kejujuran, kehangatan dan ketenangan serta ketegasan menggambarkan kepemimpinan yang tangguh dalam artian bahwa kebijakan nasional adalah suatu paket pemikiran yang rasional dan penuh pertimbangan dengan tetap memperhatikan risiko dan manfaat yang akan dihadapi dari kebijakan tersebut, demokratis mencitrakan penghormatan yang tinggi terhadap kemajemukan yang ada di masyarakat.

Konsep – konsep kepemimpinan nasional yang dilahirkan dari budaya To Luwu di atas adalah merupakan konsep yang seyogyanya kembali ditinjau keberadaannya. Hal tersebut sangatlah krusial karena menyangkut future atau masa depan bangsa Indonesia. Namun di sisi lain perlu pula diperhatikan bahwa keberhasilan kepemimpinan nasional haruslah mendukung dan didukung oleh rakyat. Oleh karena itu, konsep-konsep di atas paling tidak dapatlah menjadi basic atau dasar – dasar kepemimpinan nasional yang akan didukung oleh masyarakat luas khususnya yang selama ini telah merasa kecewa dengan pemimpin nasional.

Halaman Berikutnya »