Arsip untuk ‘Tak Berkategori’ Kategori
Fokus Sepekan

Barusan liat pelangi lagi, walau jepretnya agak telat dengan kamera resolusi rendah, yah… nikmati sajalah!

Perang iklan dimulai, Kompas hari kamis kemarin memuat iklan kedua musuh besar Mega-SBY..
Seperti main yoyo saja…
Mari menjadi Tosca-isme!

Belakangan ini, saya senang mendengar lagunya si Jalu, yang berjudul Kepompong itu. Aneh menurut saya, Band Sindentosca itu ternyata diawaki secara jomblo, oleh si Jalu sendiri. Lantas mengapa menamakan Group Band Sindentosca, kalau rupanya hanya sendiri? Mengapa bukan nama Jalu-solois gitu saja? Simpel, gak aneh menurut saya, dan ndak boros tempat untuk nulisnya
Namun, apapun itu, musiknya agaknya terkoneksi dengan indah di telingaku. Mari menyanyi sejenak, sodara-sodara! Persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu…
Filosofi Sindentosca menurut saya bagus sekali. Kata si Jalu, di sebuah acara talkshow di TransTV mengatakan, sinden berarti beliau ingin berafiliasi dengan music tradisional pure Indonesia, sedangkan Tosca itu (kalau gak salah) katanya paduan hijau dan biru. Artinya, kalau naik ke langit biru, jangan lupa di bawah ada daratan yang berwarna hijau! Filosofis sekali, sekaligus inspiring, bukan?
Saya memang sedang belajar untuk menjadi Tosca dan menjadi kepompong. Ada banyak kejadian akhir-akhir ini, yang menyadarkan saya, bahwa kadang (maksud saya, harus) menjadi Tosca itu. Ketika suatu keberhasilan tercapai, Baca selebihnya »
Palopo dalam Spektrum Waktu
Tidak banyak buku yang secara detail menggambarkan sejarah Palopo masa lalu. Buku Palopo dalam spectrum waktu ini, sedikit banyak berusaha menyegarkan kekeringan literature sejarah perkotaan di Palopo. Khusus bagi generasi yang lahir setelah tahun 80-an ke atas, buku ini sejatinya menjadi bahan baca baru, dalam memaknai Palopo sebagai sebuah perjalanan panjang dan menjadi bagian dari dirinya.
Banyak infromasi penting yang dipaparkan dalam buku ini. Tentang sejarah Jalan Batara, contohnya. Ternyata, sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari cerita hidup Andi Sultani, seorang legenda Kota ini. Ceritanya secara sederhana dituturkan oleh Andi Falsafah, dalam bagian cerita “Antara Bua dan Palopo”. Lain lagi dengan asal nama Jembatan Bolong, yang kini berada di Jalan We Cudai (eks Jalan Lagaligo) Kota Palopo. Cerita tentang Jembatan Bolong ini bisa dibaca pada penuturan Onggip, fotografer utama Palopo tahun 60-70an. Melalui “Ketika Saya Harus Ganti Nama”, Onggip atau Djie Wang Gim banyak sekali menuliskan sisi ekonomi perkotaan di Palopo periode 1950-an sampai 1980-an. Pemilik Nusantara Photo dan Toko Remaja ini, juga berkisah tentang meander sungai Kampung Langsat yang dirubah strukturnya oleh Jepang, kondisi kampanye pemilu di tahun 1970-an, tentang Datu Andi Jemma, hingga cerita kedatangan Pak Harto di Sukamaju.
Beberapa kawasan yang banyak menjadi latar cerita para penutur di buku ini, sebenarnya hampir seragam. Kita maklum, karena Palopo saat itu masih sebuah kota kecil, dengan pertumbuhan kawasan-kawasan urban yang masih belum signifikan. Kawasan kota tua GeddongE dan Kawasan Pasar Lama (Luwu Plaza) masih menjadi Baca selebihnya »
Binatang Aneh
Ada yang tau tidak, ini namanya serangga apa? Jumat lalu, beliau mampir di kantor, gak tau mau ngurus apa. Yang jelas, sempat menarik perhatian. Saya pikir, tadinya serangga mutan.
Yang jelas ini termasuk kategori insecta lah… Bentuknya lucu dan sempat bikin geger kantorku. Mau tau geger kenapa? Semua tertawa waktu saya bilang: “Apa na makan ini di’? Badannya kecilnya, ndak mungkin mami bisa masuk makanan itu!”
Ciri-ciri umumnya kira-kira begini: Kepalanya hampir mirip, malah sama dengan belalang yang umumnya hijau itu. Punya antene dua biji di kepalanya, Kaki enam biji, bersegmen, punya badan (atau ekor) di bagian
belakang. Kloaka di ujung ekor itu warna coklat tua. Secara umum warnaya coklat kekuning-kuningan. Diameter badannya kayaknya tidak sampai 0,1 cm. Bayangkan coba, bisa makan apa dia?
Binatangnya baik, bisa diajak ngobrol. Walaupun dalam bahasa binatang versi bugis Palopo. Ayo, kalau ada yang tau namanya, comment di bawah aja ya! Soalnya, dia ndak sempat nyebut nama…
Nih fotonya Baca selebihnya »
Beauty of Math!
Lupa sumbernya…
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321
1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111
9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888
Brilliant, isn’t it?
And look at this symmetry:
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111=123456789 87654321
Now, take a look at this…
101%
From a strictly mathematical viewpoint:
What Equals 100%? What does it mean to give MORE than 100%?
Ever wonder about those people who say they are giving more than 100%?
We have all been in situations where someone wants you to GIVE OVER 100%.
How about ACHIEVING 101%?
What equals 100% in life?
Here’s a little mathematical formula that might help answer these questions:
If:
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Is represented as:
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.
If:
H-A-R-D-W-O- R- K
8+1+18+4+23+ 15+18+11 = 98%
And:
K-N-O-W-L-E- D-G-E
11+14+15+23+ 12+5+4+7+ 5 = 96%
But:
A-T-T-I-T-U- D-E
1+20+20+9+20+ 21+4+5 = 100%
THEN, look how far the love of God will take you:
L-O-V-E-O-F-G-O-D
12+15+22+5+15+ 6+7+15+4 = 101%
Therefore, one can conclude with mathematical certainty that:
While Hard Work and Knowledge will get you close, and Attitude will get you there, It’s the Love of God that will put you over the top!
It’s up to you if you share this with your friends & loved ones just the way I did.
Subhanallah!
Have a nice day & God bless!!!
Mari Berimajinasi!

Kompas hari ini menulis berita dari Diskusi Pemikiran Filsuf-Aktifis Castoriadis di Kantor Perhimpunan Pendidikan Demokrasi di Jakarta. Intinya adalah Indonesia konon saat ini miskin imajinasi. Saya pikir ini isu yang menarik. Apakah memang bangsa kita lagi malas-malasnya berimajinasi?
Pada saat membaca berita di atas, saya teringat saat saya membuat video track untuk acara reunian SMP saya. Judulnya sederhana, “Dulu, Kini dan Untuk Masa Depan”. Di awal video itu, saya menampilkan foto-foto jadul sekolah saya. Lalu dilanjutkan dengan foto-foto mutakhir. Dan di bagian akhir adalah foto-foto masa depan SMP saya. Respon audience pada saat ditampilkan begitu hangat. Seru dan lucu. Terutama foto-foto jadul-nya. Pada saat transisi video dari masa kini ke masa depan, sentak gedung tempat kegiatan reuni itu (saya masih ingat) senyap. Saya bisa menerka, ternyata mereka bingung apa gerangan yang akan ditampilkan di masa depan SMP kita. Padahal kita mahfum, kita masih berada di detik yang belum kita lewati. Namun kini, sebentar lagi, wajah sekolah kami akan ditampilkan dalam wajahnya di masa depan.
Saya menghias video ini dengan background lagu I Believe-nya Tata Young. Dan saudara, apa gerangan gambar yang saya tampilkan di slide pertama bagian Masa Depan SMP saya? Saya menampilkan gambar seorang astronot yang sedang bersafari di luar angkasa! Di deskripsinya, saya menulis: Di masa depan, salahsatu jebolan SMP kita bakal jadi astronot!. Sontak pengunjung gedung gempar. Tertawa, senyum simpul bahkan teriak hu…! Mereka tak menyangka, gambar yang tampil akan sekonyol itu. Konyol karena mereka menganggap ini hanyalah bualan, cita-cita yang terlalu tinggi, omong kosong belaka, imajinasi semu dan bahkan mungkin pembodohan bagi yang hadir. Setidaknya, dengan tidak ada seorangpun yang menyampaikan apresiasi dan merespon positif atau negative kepada disainernya, saya dapat menyimpulkan bahwa memang, kita tidak terlalu piawai menangkap sebuah ‘titik kesadaran’ dari sebuah fenomena yang ada di sekitar kita. Dan mungkin, hari ini, hipotesis tersebut akan dikuatkan dengan berita dari Kompas tadi.
Berimajinasi bertalian erat dengan kreatifitas. Maslow menuliskan bahwa salahsatu ciri orang yang kreatif adalah senang berimajinasi. Maka berimajinasilah dan anda bakal terkategori dalam orang-orang kreatif! Pada saat saya mendisain video di atas, saya berimajinasi tentang gambaran sekolah saya di masa depan. Tak tahu ide dari mana, yang jelas di video itu, saya mencitrakan sekolah saya tidak hanya bakal menelurkan seorang astronot, tapi juga berimajinasi bahwa guru-guru yang bakal ngajar di sekolah saya kelak adalah mereka yang berijazah Harvard University. Juga saya berimajinasi, sekolah saya kedatangan guru-guru dari Amrik yang studi banding tentang system pendidikan yang diterapkan di sekolah saya itu. Inilah imajinasi. Yang konon datang dari otak kanan. Bukan otak kiri yang cenderung analitis-intelektual. Otak kanan bermain pada ranah emosional, visual, holistic, intuitif dan cenderung mencari persamaan. Konon, hari ini adalah eranya otak kanan. Entertainer, enterpreuner dan spiritualis adalah profesi-profesi otak kanan yang lagi laku dipasaran. Nah, cukupkah kita hanya mengandalkan otak kanan? Kita pasti semua setuju, jika saya mengatakan tidak cukup. Allah sudah menciptakan otak kiri yang harus harmoni dengan yang kanan. Jadi intinya, bagaimana mereinkarnasikan Isaac Newton dan Raden Saleh di diri kita. Mampu berpikir rumit namun tetap bisa menciptakan suatu lukisan yang indah. Masalahnya kini adalah, mana yang duluan: berimajinasi atau beranalisis? Saya ingat, orangtua kita yang selalu mengajarkan tentang keagungan hal-hal yang berbau kanan-kanan. Makan pakai tangan kanan, dahulukan kanan jika memakai sandal atau salaman dengan tangan kanan. Jadi mungkin ada benarnya pula, jika saya katakan, pakai otak kanan dulu baru otak kiri. Berimajinasi dulu baru analisis. Maka berimajinasilah dulu menjadi astronot baru cari cara untuk mewujudkannya! Ingat teori Barack Obama dengan ‘The Audacity of Hope’-nya. Lalu percayalah, sebagaimana Tata Young menyanyikan I Believe-nya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang senang berimajinasi dan mewujudkannya. Pasalnya, negeri ini sudah terlalu mapan untuk tetap berada di area tengah. Saatnya tinggal landas. Dan itu tergantung dari imajinasi kita. Tapi bukan berarti imajinasi kita: “Dipimpin oleh seorang Presiden Bush yang bakal menjadikan Indonesia mirip Amerika!”. Ih, saya pikir kita semua sepakat berkata di akhir tulisan ini “Ce empat Pe tiga, C4P3 deh…!”
8 Trik Menarik Kenalan jadi Teman
Dapat dari file-file lawas di kompuetrku. Kalau gak salah bahan mading waktu SMA. Gak tahu sumbernya darimana. Tapi bagus juga untuk dipublish.
8 trik menarik kenalan jadi teman:
Kata orang, teman itu cuma sedikit, yang banyak kenalan doang. Nah bagaimana menarik kenalan jadi teman?
1. Perlihatkan minat & keingintahuanmu: tanyakan hobi, keluarganya, atau hal-hal pribadi (dalam konteks terbatas). Tentunya kalau suasananya memungkinkan.
2. Penuhi undangannya: kalo dia anda diundang dan gak datang, beliau akan berpikir untuk berteman denganmu dan akan berpikir 2 kali untuk ngundang kamu lagi.
3. Jangan gosipin dia: Karena kalau dia tahu (apalagi dalam hal-hal negatif), persahabatan akan tidak bakal pernah terjalin.
4. Ingat pada hari-hari teretentu: misalnya ultahnya, lebaran atau promosinya. Beri ucapan yang tulus!
5. Telepon balik: bukan hanya bila dia nelpon and anda tak ada di rumah (atau anda tidak mendengar ponsel anda),tapi bila ia pernah nelpon anda, sejatinya anda jg perlu menelponnya.
6. Jangan membersar-besarkan teman anda sendiri karena dia akan merasa kecil dan tak sebanding degan teman anda itu.
7. Perhatikan yang paling menyenangkan: ini menyangkut karakternya bagemana? Apa dia adalah teman tertawa yg baik, teman curhat yg baik atau seorang inspirator yg baik?
8. Pengorbanan: jangan hanya memanfaatkannya, tapi anda harus pula bermanfaat baginya.
Halo dunia!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Komentar (2)
Komentar (3)
Komentar (9)



