Arsip untuk ‘Urbana’ Kategori
Tatapan Penuh Cinta
Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.
Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.
Sekarang, beralihlah. Lihatlah Baca selebihnya »
Catatan-catatan Nenek
Akhirnya, saya tidak heran sekarang. Pertanyaan tentang: “Mengapa saya senang nge-blog?”, akhirnya terjawab oleh catatan-catatan almarhumah nenek (ibunya ayah saya), yang meninggal tahun lalu. Dari lemari peninggalan nenek, sebuah buku agenda dan tiga buah buku catatan kecil (yang dipermak sendiri oleh mama’— panggilan untuk nenekku itu), memberikan simpulan, yang tidak bisa dinegasikan bahwa: Menulis sudah menjadi budaya turun temurun di garis keturunan keluargaku!. So, nenek-ku ternyata bukan seorang pelaut (seperti lagu kebanggan kita itu), melainkan seorang yang yang gemar menulis. Seandainya pada zamannya sudah ada wordpress, beliau pasti jadi blogger juga!
Konon, mama’ Midah (panggilan dari beberapa anak angkatnya), dulunya cuma ikut Sekolah Rakyat (SR). Walaupun sudah SR, tapi kemampuan menulis latinnya masih kurang. Makanya catatannya hanya menggunakan huruf lontara bugis. Tapi kalau membaca, khususnya koran, sumpah, saya berani katakan: beliau bisa diadu dengan nenek-nenek yang lain!
Beliau kelahiran Watampone, pada tahun yang simpangsiur (ada yang tercatat 1920, 1925, 1928 dan ada 1930). Bapaknya konon bernama La Hajji Daeng Mallanre, seorang muslim taat yang ikut di perjuangan PD II. Katanya, dulunya buyut saya itu dimakamkan di TMP Jalan Samiun (sekarang sudah jadi RS Tentara Palopo), namun ketika TMP Palopo dipindahkan ke Salobulo, jejak makamnya hilang. Ibunya nenek saya, namanya Doho. Di nisan kuburannya di Kompleks LokkoE ditulis Ma’ Na Midah (Ibunya Hamidah — nama asli nenek saya). Ceritanya cuma sedikit yang saya tahu tentang buyut perempuanku itu.
Mama’ Midah (nenek saya, yang saya sebut penulis itu), nikah dengan kakek saya, atau bapaknya ayah saya —pusing mode on— yang namanya Abd. Hafid Dg. Paewa. Kurang tahu, dari pernikahannya itu, tante dan om saya ada berapa ya?. Soalnya sebagian besar mereka meninggal usia anak-anak semua. Yang sempat dewasa cuma anak pertama (tante saya), dan ayah saya saja.
Kembali ke catatan mama’ Midah, saya terkaget-kaget melihatnya. Soalnya catatannya sangat detil dengan tanggal dan apa-apa saja yang perlu untuk menjadi perhatian. Lihat saja gambar catatan nenek saya itu di bawah ini, seandainya saya ndak buka-buka catatannya, saya pasti akan lupa selamanya bahwa saya mulai kerja tanggal 30 Oktober 2006! Tulisan aslinya: mappammulai majjama sulehang, 30-8-2006 araba’. Atau secara sederhana diartikan: Zulham mulai bekerja pada hari Rabu, 30 Agustus 2006.


‘Mandi Kucing’ di Trans7
‘Mandi Kucing’ di Trans7
Episode Memoar KKLP STIE Muhammadiyah Palopo
Jangan NL (negative loading) dulu! Itu tema acara Empat Mata waktu kami on air di Trans7. Saya sempat was-was, soalnya adikku yang masih kelas lima SD, sudah saya SMS supaya bela-belain nonton acaranya tukul malam itu. Waduh… mudahan ndak NL juga seperti anda!
Habis acara, cheer leader (CL) -nya bilang: “Anda adalah peserta terheboh di Empat Mata, thank you!” Ah, masa’ sih? Teman-teman lain tersanjung, malah dibahas sampai di bus. Tapi menurut saya sih, itu hanya bentuk apresisasi CL-nya saja sama penonton, yang sudah bantuin teriak-teriak dan heboh-hebohan malam itu. Tapi apapun itu, saya tetap appreciate.
Waktu di tempat ini, saya baru nyadar, ternyata Trans Corporation itu kelompoknya Mega Group yah? Baru tahu saya… Yang menarik perhatian saya sebenarnya adalah karyawannya. Di mana-mana anak muda. Saya sempat berpikir, bagaimana kalau birokrat kita sebagian besar anak muda? Enerjik, idealis, kreatif dan komunikatif. Asyik bukan? Paling tidak, anggapan tentang PNS itu gak kreatif lah, gak bias berinovasi lah, dan ndak bisa diandalkan lah, bisa dinegasikan jek! Ya kan, ya kan, ya kan…?
Error People
Error People
Episode Memoar KKLP STIE Muhammadiyah Palopo
Beberapa waktu lalu, sebelum saya memutuskan ikut keliling Jawa-Bali, saya sempat ngobrol dengan seorang kawan, namanya Randi. Si Randi tahun lalu sudah ikut program KKLP, namun dia milih yang program tidak jalan-jalan (stay di Palopo). Saya sengaja memang menggali informasi dari beliau tentang kegiatan-kegiatan selama KKLP. Setelah cerita kami sudah sampai di ujung, kesimpulannya, dia menyarankan saya untuk lebih baik ikut program yang jalan-jalan. Saya tidak tahu, alas an utamanya. Mungkin karena dia rasa melelahkan di Palopo, makanya dia menyarankan saya untuk ikut program keliling-keliling itu saja, ketimbang stay di Palopo.
Satu hal yang masih saya ingat dari ngorbrol-ngobrol dengan Randi hari itu. Dia bilang: “Disini mi dilihat karakter sebenarnya teman-teman”. Dan hari ini saudara
, dengan bangga saya membenarkan kata-kata rekan saya itu! Selama perjalanan, karakter-karakter itu betul-benar keluar. Tidak dibuat-buat, alami dan natural (alami-natural sama arti kale…). Makanya, saya sebut gado-gado karakter. Semua teramu jadi satu, namun perjalanan asyik-asyik aja tuh!
Ini hanya pendapat pribadi saya saja. Jangan tersinggung bagi yang namanya masuk daftar hitamku berikut ini. Tapi kayaknya, teman-teman yang ikut KKLP 98% ndak sering (atau malah ndak pernah) menjelajah di dunia maya deh J Jadi tak apalah saya sebut nama disini. Hitung-hitung kata dosen Al Islam-ku: issengngi alemu! Nih black list-nya (banyakan dari cowok saja, soalnya cewek-ceweknya agak tidak kelihatan karakternya, karena beda tempat, ya kan…):
Tipikal Mahasiswa Burenk, Ciri-cirinya mungkin seperti ini: kemana-mana nyatet, pulpen dan buku benda paling wajib dibawa. Jangan heran kalau jurnalnya paling lengkap. Tipe ini pantaslah disandang oleh Mr Rm, sang sekretaris angkatan XIV.
Tipikal Jago Protes, ciri-cirinya seperti ini: semua kekurangan panitia dicalla (tapi ngungkapinnya kepada sesama peserta). Makhuk seperti ini sebenarnya bagus, dia juga memberi solusi terhadap masalah. Jadi ndak negative-negatif amat. Orangnya, hmm… mungkin Si Mn.
Tipikal Superman, cirri-cirinya seperti ini: selalu ‘tampil’, ngatur-ngatur atau sok ngatur, sering teriak-teriak sambil matut megaphone, alhasil menjadikan rombongan pusat perhatian orang-orang, seperti Superman saja yang lagi menyelamatkan anak kecil yang hampir jatuh dari lantai 80, semua mata tertuju padanya! Tak salah mungkin saya tulis nama si Tf untuk tipikal ini.
Tipikal Kapujiang, ciri-cirinya: Baca selebihnya »
KM Tidar: Dari Sunset sampai Mie Celup
KM Tidar: Dari Sunset sampai Mie Celup
Episode Memoar KKLP STIE Muhammadiyah Palopo
Perlahan tapi pasti, sebuah kapal berukuran kecil membuat KM Tidar sore itu beranjak dari dermaga. Sirine isyarat keberangkatan, yang teman-teman bilang miskol canno’
sedari tadi berbunyi. Pelayaran dimulai jek! Mudahan mengasyikkan…
Ini kali kedua saya numpang Tidar, Makassar-Surabaya. Jam di ponsel menunjukkan pukul lima sore waktu Makassar. Huruf-huruf Port of Makassar, yang tertulis di kantor Pelindo, satu per satu menyatu, kabur, lalu hilang. Waktunya menikmati sunset Selat Makassar.
Sebenarnya tidak ada yang terlalu menarik waktu di kapal. Paling sunset saja. Lihat fotonya, indah bukan? Fotonya dari kamera ponsel rekan Rahmat Amin. Waktu itu, dia hampir men-delete musabab dianggap gak terlalu artistik karena ‘buntut’ kapal yang ada lampu-lampu itu ikut masuk. Untung saya sempat meminta dikirimkan, makanya anda bisa menikmati sunset-nya pula! Tapi menurut saya artistic begete…
Seingat-ingatku, pengalaman menarik memang tidak ada, tapi yang unik waktu di kapal mungkin cuma kejadian-kejadian ini:
Pertama, Baca selebihnya »
Wisma Sawerigading
Wisma Sawerigading
Episode Memoar KKLP STIE Muhammadiyah Palopo
Saya sadar, saya termasuk golongan penganut primordialisme. Sebuah lukisan Sultan Hasanuddin saja sontak membangkitkan rasa patriotismeku malam itu. Si Hasanuddin adalah orang Bugis-Makassar, jadi tampaknya lukisan ini berhasil saya maknai dengan baik. Paling tidak, maknanya adalah terus berjuang dan ingat kampungmu! Ingat kampung, bukankah itu sikap primordial?
Kalau lukisan itu terpasang hanya di dalam kelas belajar sekolah (seperti umumnya ruang-ruang kelasku waktu SD sampe SMA), mungkin saya tidak begitu ‘tallajju’. Tetapi ini beda, saya menemukannya di sebuah asrama mahasiswa. Yah, Asrama Mahasiswa Provinsi Sulawesi Selatan Wisma Sawerigading, Yogyakarta.
Ini sebenarnya cerita pengalamanku waktu nginap di Wisar, 8-12 Agustus 2008. Kisahnyanya diawali ketika
saya ikut KKLP Angkatan XIV STIE Muhammadiyah Palopo, yang mungkin lebih tepatnya disebut study banding, study wisata dan study belanja, hehehe
Rombongan nginap di Wisar. Mungkin karena murah (atau gratis malah). Tapi kayaknya tidak gratis deh. Di Jawa-Bali mana ada yang gratis? BAK dan BAB saja bayar, apalagi nginap! Kata teman-teman: “Tinggal kentut dan udara bebas saja yang gak kena charge!”. Masa’ sih? Gak gitu-gitu amat kali…
Wisma Sawerigading (Wisar) berlokasi di Jalan Sultan Agung No 18, Yogyakarta. Kalau dari Pakualaman, Wisar di sebelah kiri. Sebelum dapat pertigaan Bioskop Permata, ada Gedung Baca selebihnya »
Binatang Aneh
Ada yang tau tidak, ini namanya serangga apa? Jumat lalu, beliau mampir di kantor, gak tau mau ngurus apa. Yang jelas, sempat menarik perhatian. Saya pikir, tadinya serangga mutan.
Yang jelas ini termasuk kategori insecta lah… Bentuknya lucu dan sempat bikin geger kantorku. Mau tau geger kenapa? Semua tertawa waktu saya bilang: “Apa na makan ini di’? Badannya kecilnya, ndak mungkin mami bisa masuk makanan itu!”
Ciri-ciri umumnya kira-kira begini: Kepalanya hampir mirip, malah sama dengan belalang yang umumnya hijau itu. Punya antene dua biji di kepalanya, Kaki enam biji, bersegmen, punya badan (atau ekor) di bagian
belakang. Kloaka di ujung ekor itu warna coklat tua. Secara umum warnaya coklat kekuning-kuningan. Diameter badannya kayaknya tidak sampai 0,1 cm. Bayangkan coba, bisa makan apa dia?
Binatangnya baik, bisa diajak ngobrol. Walaupun dalam bahasa binatang versi bugis Palopo. Ayo, kalau ada yang tau namanya, comment di bawah aja ya! Soalnya, dia ndak sempat nyebut nama…
Nih fotonya Baca selebihnya »
Dari Pensi Sanggar Opu Dg Risadju
Wanua mappatuo naewai alena! Teriak seorang kallolo memecah keheningan setelah beberapa saat dentuman irama gendang khas Luwu jeda berbunyi. Di belakang kallolo tadi, seorang membawa payung besar, menuju pintu utama. Kelewang si kallolo dihunus, dan seorang telah berada dibawah payung besar tadi. Sebuah penghormatan tinggi terhadap orang itu, yang ternyata Kadis Parsenibud Palopo, AS Kaddiraja.
Begitulah prosesi ma’duppa, menandai pentas seni Sanggar Opu Daeng Risaju, bakal dimulai malam itu, Sabtu 19/07/08 di MCH. Prosesi ma’duppa selanjutnya dilanjutkan dengan tarian pa’duppa oleh beberapa ana’ dara. Untuk orang awam, seperti saya, tarian ini hampir sama dengan tari-tarian bosara waktu acara perpisahan sekolah. Agak membosankan.
Lagu ’rame-rame’ yang ke Maluku-malukuan, entah mengapa bisa nyelip di acara ini. Mungkin sebagai starting point yang bertujuan membangun semangat penonton. Duetnya tampaknya tidak begitu balance, si cowok lebih dominan daripada si cewek. Namun, cukup menarik juga menurut saya. Aransemennya spektakuler!
Lain tari pa’duppa yang membosankan di awal tadi, lain pula tarian bunga ri tana arung. Malam itu tiga ana’ dara mengenakan baju bodo merah mementaskannya dengan baik sekali. Baca selebihnya »
Komentar (8)
Komentar (7)
Komentar (1)








