Doa Ketika Ketemu ‘Dosen Killer’
Do’a ini saya kutip dari buku “Doa-Doa Rahasia Nabi Saw” penerbit IIMaN. Judul do’anya sebenarnya adalah Doa Rahasia Ketika Ada Perlu Kepada Penguasa, namun kayaknya bisa juga dipakai kalau lagi ada lobi, negosiasi, atau bahkan ketemu dengan dosen ‘killer’. Ini doanya:
Wahai Zat Yang lebih pantas memegang kekuasaan ini daripada dia, wahai Zat Yang lebih dekat kepadanya daripada hatinya sendiri; wahai Zat yang mengaruniainya apa yang ada dalam kekuasaannya yang aku butuhkan, hanya kepada-Mu aku memohon, hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan agar meluluskan keperluanku. Kendalikanlah hatinya untukku ketika aku berbicara dengannya, menangkanlah aku atasnya sehingga bisa mendapatkan semua yang aku perlukan darinya tanpa ada halangan, cacian, penolakan, dan ketidak-sopanan darinya.
Wahai Zat Yang Mahahidup dalam kekayaan yang tidak akan pernah habis-habisnya, matikanlah hatinya dari menolakku dan tak memenuhi keperluanku, dan penuhilah keperluanku seperti yang pernah dia terima. Kendalikanlah dia untukku dalam hal itu seperti pengendalian orang yang agung dan berkuasa dengan hak kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau mengendalikan alam semesta.
Toko Buku Pojok
Dua pekan lalu, teman saya berkata kepada saya: “Heran saya Zulham, sekian banyak ruko yang dibangun di Palopo, tak satupun ruko yang jadi toko buku!”. Saya mafhum dengan alasan teman saya itu berkata demikian. Akhir-akhir ini, birahi membaca komiknya tak tersalurkan dengan baik. Makanya, statement ‘putus asa’ itu akhirnya mengalir begitu alami.
Sadar atau tidak, toko buku di Palopo memang kuantitasnya sangat memprihatinkan. Mari ingat-ingat 5-10 tahun lalu. Di Jalan Jenderal Sudirman dulu ada Toko Buku Taufik. Tapi kini sudah jadi Laboratorium Prodia. Di ruko pasar sentral sebelum di remajakan, ada Toko Buku Fauzan. Entah dimana dia sekarang, gak jelas. Toko Buku Pembangunan di Jalan Ahmad Dahlan sih masih ada, tapi yah nasibnya ‘hidup ogah mati pun tak mau’. Dulu juga ada Toko Buku Bina Ilmu, tapi nasibnya agaknya mengikuti tren seperti Toko Buku Taufik juga. TB Amaliah yang di Jalan Durian, memang cukup survive. Namun sebenarnya kalau mau lebih meningkatkan benefit, menurut saya sih perlu sentuhan baru. Yah, inovasi-lah kira-kira! Sebagai tawaran sederhana dari saya, ubah konsepnya! Dari pure traditional selling menjadi lebih open-flexible selling. Tak perlu lah mencegat costumer dengan menyapa “Cari buku apa ki’?”. Mungkin lebih enak dengan sapaan “Silahkan masuk, pak!”. Toh orang ke toko buku biasanya tanpa mempersiapkan judul yang ia ingin beli. Kadang dapat judul yang pas di hati, beli deh! Tapi kalau langsung dicegat dengan sapaan “Cari buku apaki?”, lantas saya jawab “Buku ini”, dan balasannya “Oh, tidak ada!”. Itukan artinya si penjual tidak mampu memberi tawaran lain kepada calon pembelinya. Itu kesalahan pemasaran, jek!
Toko Buku yang bisa diandalkan di Palopo mungkin hanya Baca selebihnya »
Catatan-catatan Nenek
Akhirnya, saya tidak heran sekarang. Pertanyaan tentang: “Mengapa saya senang nge-blog?”, akhirnya terjawab oleh catatan-catatan almarhumah nenek (ibunya ayah saya), yang meninggal tahun lalu. Dari lemari peninggalan nenek, sebuah buku agenda dan tiga buah buku catatan kecil (yang dipermak sendiri oleh mama’— panggilan untuk nenekku itu), memberikan simpulan, yang tidak bisa dinegasikan bahwa: Menulis sudah menjadi budaya turun temurun di garis keturunan keluargaku!. So, nenek-ku ternyata bukan seorang pelaut (seperti lagu kebanggan kita itu), melainkan seorang yang yang gemar menulis. Seandainya pada zamannya sudah ada wordpress, beliau pasti jadi blogger juga!
Konon, mama’ Midah (panggilan dari beberapa anak angkatnya), dulunya cuma ikut Sekolah Rakyat (SR). Walaupun sudah SR, tapi kemampuan menulis latinnya masih kurang. Makanya catatannya hanya menggunakan huruf lontara bugis. Tapi kalau membaca, khususnya koran, sumpah, saya berani katakan: beliau bisa diadu dengan nenek-nenek yang lain!
Beliau kelahiran Watampone, pada tahun yang simpangsiur (ada yang tercatat 1920, 1925, 1928 dan ada 1930). Bapaknya konon bernama La Hajji Daeng Mallanre, seorang muslim taat yang ikut di perjuangan PD II. Katanya, dulunya buyut saya itu dimakamkan di TMP Jalan Samiun (sekarang sudah jadi RS Tentara Palopo), namun ketika TMP Palopo dipindahkan ke Salobulo, jejak makamnya hilang. Ibunya nenek saya, namanya Doho. Di nisan kuburannya di Kompleks LokkoE ditulis Ma’ Na Midah (Ibunya Hamidah — nama asli nenek saya). Ceritanya cuma sedikit yang saya tahu tentang buyut perempuanku itu.
Mama’ Midah (nenek saya, yang saya sebut penulis itu), nikah dengan kakek saya, atau bapaknya ayah saya —pusing mode on— yang namanya Abd. Hafid Dg. Paewa. Kurang tahu, dari pernikahannya itu, tante dan om saya ada berapa ya?. Soalnya sebagian besar mereka meninggal usia anak-anak semua. Yang sempat dewasa cuma anak pertama (tante saya), dan ayah saya saja.
Kembali ke catatan mama’ Midah, saya terkaget-kaget melihatnya. Soalnya catatannya sangat detil dengan tanggal dan apa-apa saja yang perlu untuk menjadi perhatian. Lihat saja gambar catatan nenek saya itu di bawah ini, seandainya saya ndak buka-buka catatannya, saya pasti akan lupa selamanya bahwa saya mulai kerja tanggal 30 Oktober 2006! Tulisan aslinya: mappammulai majjama sulehang, 30-8-2006 araba’. Atau secara sederhana diartikan: Zulham mulai bekerja pada hari Rabu, 30 Agustus 2006.


Fokus Sepekan

Barusan liat pelangi lagi, walau jepretnya agak telat dengan kamera resolusi rendah, yah… nikmati sajalah!

Perang iklan dimulai, Kompas hari kamis kemarin memuat iklan kedua musuh besar Mega-SBY..
Seperti main yoyo saja…
Mari menjadi Tosca-isme!

Belakangan ini, saya senang mendengar lagunya si Jalu, yang berjudul Kepompong itu. Aneh menurut saya, Band Sindentosca itu ternyata diawaki secara jomblo, oleh si Jalu sendiri. Lantas mengapa menamakan Group Band Sindentosca, kalau rupanya hanya sendiri? Mengapa bukan nama Jalu-solois gitu saja? Simpel, gak aneh menurut saya, dan ndak boros tempat untuk nulisnya
Namun, apapun itu, musiknya agaknya terkoneksi dengan indah di telingaku. Mari menyanyi sejenak, sodara-sodara! Persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu…
Filosofi Sindentosca menurut saya bagus sekali. Kata si Jalu, di sebuah acara talkshow di TransTV mengatakan, sinden berarti beliau ingin berafiliasi dengan music tradisional pure Indonesia, sedangkan Tosca itu (kalau gak salah) katanya paduan hijau dan biru. Artinya, kalau naik ke langit biru, jangan lupa di bawah ada daratan yang berwarna hijau! Filosofis sekali, sekaligus inspiring, bukan?
Saya memang sedang belajar untuk menjadi Tosca dan menjadi kepompong. Ada banyak kejadian akhir-akhir ini, yang menyadarkan saya, bahwa kadang (maksud saya, harus) menjadi Tosca itu. Ketika suatu keberhasilan tercapai, Baca selebihnya »
Palopo dalam Spektrum Waktu
Tidak banyak buku yang secara detail menggambarkan sejarah Palopo masa lalu. Buku Palopo dalam spectrum waktu ini, sedikit banyak berusaha menyegarkan kekeringan literature sejarah perkotaan di Palopo. Khusus bagi generasi yang lahir setelah tahun 80-an ke atas, buku ini sejatinya menjadi bahan baca baru, dalam memaknai Palopo sebagai sebuah perjalanan panjang dan menjadi bagian dari dirinya.
Banyak infromasi penting yang dipaparkan dalam buku ini. Tentang sejarah Jalan Batara, contohnya. Ternyata, sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari cerita hidup Andi Sultani, seorang legenda Kota ini. Ceritanya secara sederhana dituturkan oleh Andi Falsafah, dalam bagian cerita “Antara Bua dan Palopo”. Lain lagi dengan asal nama Jembatan Bolong, yang kini berada di Jalan We Cudai (eks Jalan Lagaligo) Kota Palopo. Cerita tentang Jembatan Bolong ini bisa dibaca pada penuturan Onggip, fotografer utama Palopo tahun 60-70an. Melalui “Ketika Saya Harus Ganti Nama”, Onggip atau Djie Wang Gim banyak sekali menuliskan sisi ekonomi perkotaan di Palopo periode 1950-an sampai 1980-an. Pemilik Nusantara Photo dan Toko Remaja ini, juga berkisah tentang meander sungai Kampung Langsat yang dirubah strukturnya oleh Jepang, kondisi kampanye pemilu di tahun 1970-an, tentang Datu Andi Jemma, hingga cerita kedatangan Pak Harto di Sukamaju.
Beberapa kawasan yang banyak menjadi latar cerita para penutur di buku ini, sebenarnya hampir seragam. Kita maklum, karena Palopo saat itu masih sebuah kota kecil, dengan pertumbuhan kawasan-kawasan urban yang masih belum signifikan. Kawasan kota tua GeddongE dan Kawasan Pasar Lama (Luwu Plaza) masih menjadi Baca selebihnya »
Purnama di Atas Tanjung Ringgit
Tanjung Ringgit malam ini terang. Purnama sedang bersolek dengan gagahnya di atas laut Teluk Bone itu. Dari atas bukit saya mengamati. Dingin tak menjadi masalah bagiku. Purnama kali ini memang begitu elok. Mungkin begitulah kesanku malam ini. Berbeda dengan malam-malam yang telah terlewatkan. Memang, ini ramadhan jek!. Begitulah saya memahami diriku sendiri. Ini adalah malam ke 16 Ramadhan. Setengah bulan sudah saya berpuasa.
Sengaja memang saya mampir di bukit ini. Anggapan orang, tempat ini angker. Namanya saja Kuburan Cina, Pekuburan Tionghoa, Kuburan! Tempat peristirahatan terakhir. Tapi bagiku, mana mungkin si empunya bangunan megah -yang kududuki saat ini- bakal marah. Dia sudah senang dengan rumahnya kini. Paling tidak sekarang dia telah menikmati usahanya saat dia hidup dulu. Mungkin waktu hidupnya, jarang sekali dia menikmati hartanya, namun kini, berbohong si mendiang ini kalau dia bilang tidak puas dengan rumahnya kini.
Kalaupun si mendiang mau kecewa atau marah, mungkin bukan padaku. Tetapi pada kaum banci yang biasanya mangkal di tempat ini. Tapi malam ini, malam Ramadhan jek! Setan-setan diikat (kata ustad-ustad yang ceramah di masjid dekat rumah), jadi pikirku, setan-setan yang ada di dalam diri banci-banci itu lagi gak bisa online. Jadinya mereka gak bisa gentayangan malam ini. Mungkin juga, karena Pamong Praja kota ini lagi semangat-semangatnya nyari banci, jadinya Baca selebihnya »
JK, “The Real President”!
Jangan memolitisasi statement Syafii Maarif, yang mengatakan Jusuf Kalla adalah The Real President! Jangan pula menjadikan statement itu sebagai angin lalu, tapi mari kita bicara tentang makna, karena kita toh mafhum bahwa Sang Buya bukan politikus, seperti caleg-caleg yang bisanya cuma berteori di sudut warung-warung kopi sana. Syafii Maarif mengaku berbicara dalam kapasitasnya sebagai seorang tua, yang agaknya malah tidak arif jika Bang Anas Urbaningrum tidak mau mendengar kata-kata orang tua kita itu.
Saya tidak kaget ketika koran-koran nasional, portal-portal berita sampai para blogger memberitakan tentang sebutan JK is The Real President! Kalau anda membaca opini Pak Syafii Maarif beberapa waktu lalu di Kompas, wacana itu sebenarnya telah tersirat. Memang, sadar atau tidak, peran Daeng Ucu’ (Jusuf Kalla) memang terasa lebih besar ketimbang Mas Bambang (SBY). Saya ndak tahu juga ukurannya apa, tapi mungkin karena Baca selebihnya »
Banjir di Palopo
Ini kali pertama saya lihat di Palopo, banjir bandang yang menerjang ribuan rumah. Beberapa rumah di bilangan Latuppa dikabarkan terbawa arus. Jalanan poros pusat kota-kawasan wisata Latuppa tertutup. Di daerah pusat kota sendiri, rumah-rumah yang berada di sepanjang sungai Jembatan Putih, Jembatan Bolong dan Jembatan Amasangan tertutupi lumpur. Fasilitas umum seperti Jembatan Putih rusak (nyaris ambruk), SD Surutanga, Kompleks Perguruan Muhammadiyah di bilangan Ahmad Dahlan dan beberapa sekolah dasar laninnya hingga saat ini masih mengalami gangguan proses pembelajaran. Baca selebihnya »
Peluang Ekonomi Kreatif di Palopo
Pernahkah anda menonton pertunjukan teater dengan lakon cerita Sawerigading atau I La Galigo di kota ini? Kalau tidak, berarti ada satu peluang ekonomi gelombang keempat (setelah ekonomi pertanian, industry dan informasi) yang luput untuk kita kembangkan. Olehnya itu, saat ini marilah kita bicara tentang ekonomi kreatif, yang mengakomodir peluang meraup keuntungan dari warisan budaya kita sendiri itu.
Keunikan budaya Indonesia saat ini menjadi modal besar untuk pengembangan ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif merupakan kajian system ekonomi kontemporer yang pada perkembangannya membuat industry-industri yang berbasis kreatifitas, talenta atau keterampilan. Oleh karena diyakini mampu menciptakan tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan, maka Presiden SBY pun gencar mengampanyekan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia sejak medio 2007 lalu.
Pemerintah sebenarnya agak lelet menginsyafi akan besarnya potensi ekonomi kreatif di negeri ini. Kita baru sadar ketika motif perhiasan perak Bali nyaris dicaplok pengusaha Kanada, Kopi Gayo dan Kopi Toraja yang dipatenkan oleh Belanda, batik diakui sebagai warisan budaya Malaysia, dan bahkan Teater La Galigo yang dibawakan oleh orang Amerika. Sebenarnya, bukan hal-hal tentang budaya saja yang masuk sector industry kreatif. Paling tidak, ada 14 sektor-sektor kreatif seperti periklanan; arsitektur; pasar seni dan barang antic; kerajinan; disain; fesyen; video-film-fotografi; permainan interaktif; music; seni pertunjukan; penerbitan & percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; televisi & radio; sera riset dan pengembangan (R&D), yang menjadi focus pengembangan di Indonesia. Konon, sector-sektor tersebut mampu menyerap 5,4 juta pekerja dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17,6 persen di tahun 2006.
Tawaran Agenda
Lantas, agenda apa yang perlu menjadi perhatian kita? Mari tinggalkan sejenak konsep-kosep bias tentang ekonomi kerakyatan yang selama ini menjadi tema pidato, sambutan bahkan kampanye pejabat-pejabat kita. Untuk masuk ke area ekonomi kreatif local, atau industry kreatif di Palopo, perlu disadari bahwa saat ini memang telah terjadi pergeseran orientasi ekonomi dari pertanian-industri-informasi ke fenomena ekonomi berbasis ide atau kreatifitas. Generasi baru pelaku kreatifitas di Palopo, tanpa disadari telah lahir dan Baca selebihnya »
Komentar (3)
Komentar (9)
Komentar (7)





