Arsip ‘budaya’ Tag

Peluang Ekonomi Kreatif di Palopo

Pernahkah anda menonton pertunjukan teater dengan lakon cerita Sawerigading atau I La Galigo di kota ini? Kalau tidak, berarti ada satu peluang ekonomi gelombang keempat (setelah ekonomi pertanian, industry dan informasi) yang luput untuk kita kembangkan. Olehnya itu, saat ini marilah kita bicara tentang ekonomi kreatif, yang mengakomodir peluang meraup keuntungan dari warisan budaya kita sendiri itu.


Keunikan budaya Indonesia saat ini menjadi modal besar untuk pengembangan ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif merupakan kajian system ekonomi kontemporer yang pada perkembangannya membuat industry-industri yang berbasis kreatifitas, talenta atau keterampilan. Oleh karena diyakini mampu menciptakan tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan, maka Presiden SBY pun gencar mengampanyekan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia sejak medio 2007 lalu.


Pemerintah sebenarnya agak lelet menginsyafi akan besarnya potensi ekonomi kreatif di negeri ini. Kita baru sadar ketika motif perhiasan perak Bali nyaris dicaplok pengusaha Kanada, Kopi Gayo dan Kopi Toraja yang dipatenkan oleh Belanda, batik diakui sebagai warisan budaya Malaysia, dan bahkan Teater La Galigo yang dibawakan oleh orang Amerika. Sebenarnya, bukan hal-hal tentang budaya saja yang masuk sector industry kreatif. Paling tidak, ada 14 sektor-sektor kreatif seperti periklanan; arsitektur; pasar seni dan barang antic; kerajinan; disain; fesyen; video-film-fotografi; permainan interaktif; music; seni pertunjukan; penerbitan & percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; televisi & radio; sera riset dan pengembangan (R&D), yang menjadi focus pengembangan di Indonesia. Konon, sector-sektor tersebut mampu menyerap 5,4 juta pekerja dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17,6 persen di tahun 2006.


Tawaran Agenda

Lantas, agenda apa yang perlu menjadi perhatian kita? Mari tinggalkan sejenak konsep-kosep bias tentang ekonomi kerakyatan yang selama ini menjadi tema pidato, sambutan bahkan kampanye pejabat-pejabat kita. Untuk masuk ke area ekonomi kreatif local, atau industry kreatif di Palopo, perlu disadari bahwa saat ini memang telah terjadi pergeseran orientasi ekonomi dari pertanian-industri-informasi ke fenomena ekonomi berbasis ide atau kreatifitas. Generasi baru pelaku kreatifitas di Palopo, tanpa disadari telah lahir dan Baca selebihnya »

Cukka Ulu

Ada hal yang menarik dari kunjungan mantan presiden Megawati, beberapa waktu lalu di Palopo. Beliau mendapat gelar adat dari Kedatuan Luwu, Daengna Rumpa’ LipuE. Menarik untuk disimak, bukan berarti ada feodalisme di sana. Hal ini lebih pada luapan apresiasi dari orang Palopo, kepada seorang figur yang memiliki peran penting di negara ini. Dan apresiasi itu, secara sadar dilakukan dari pendekatan budaya. Hal serupa juga pernah dilakukan kepada tokoh nasional Amien Rais dan Akbar Tandjung.

Yang menarik adalah bahwa, penggelaran adat adalah suatu permufakatan dari para pemangku adat di Luwu. Dalam proses tersebut, dibahas mengenai gelar apa yang akan ditelle’kan kepada sang mantan presiden, dan hasilnya adalah gelaran di atas tadi. Dalam konteks marketing, hal ihwal gelar-menggelarkan biasa disebut dengan personal branding (pb). Kadang, konsep personal branding ini diadopsi pula ke dalam materi pelatihan-pelatihan human resources Baca selebihnya »

Mapappe’

Tak banyak (atau mungkin tidak ada) yang tahu persis sejarah munculnya kata ini. Namun, saya yakin, seperti kata-kata ‘aneh’ lainnya di masyarakat Palopo (khususnya remaja), pasti kata ini dipopulerkan oleh seseorang dalam waktu tertentu dan diadopsi oleh kelompok atau pribadi-pribadi latah. Yang jelasnya, dalam lirik lagu “ABG Palopo” (yang saya anggap kritik sosial), kata ini muncul. Hal ini tentu menjadi justifikasi bahwa, kata ini secara umum telah diterima dan dipahami oleh masyarakat Palopo dan sekitarnya.

Mapappe’ sendiri, dalam pengucapannya, kadang ada yang menyebutkan dengan Mappappe’. Gak tahu yang mana yang benar, karena kata ini sendiri memang belum dikaji secara ilmiah. Begitu pula dengan bahasa-bahasa keseharian masyarakat Palopo, yang cenderung membentuk karakter tersendiri. Kalaupun ada yang meneliti, mungkin publikasinya yang kurang bergema. Karakter bahasa (atau apalah terminologinya dalam disiplin ilmu humaniora) keseharian masyarakat Palopo sendiri, cenderung mencombine antara Bahasa Indonesia, Bugis, Luwu dan pure Palopo language . Dan saya berasumsi bahwa, mapappe’ atau mappappe’ ini adalah terkategori pada pure Palopo language. Mapappe’ satu kelompok dengan kata seperti “bah” atau “bi”. Kata atau partikel “bah” sendiri konon tidak dimiliki oleh daerah lain di Sulawesi Selatan. Yang saya tahu, cuma orang Batak saja yang juga menggunakan kata Bah ini. Bah sendiri menurut saya mirip-mirip dengan kata atau partikel “lo” di Sinjai, “je’” di Sidrap, atau mungkin juga kata “kora” di Luwu bagian selatan. Bah sendiri tidak ditemukan di bahasa Bugis dan Luwu. Beda dengan kata atau partikel akhiran “e” atau kata “bammi” yang ditemukan di bahasa Bugis dan partikel “le’” yang ditemukan di bahasa Luwu. Le’ sendiri kini menjadi ciri khas orang Palopo (dan juga Luwu umumnya).

Kalau bah cenderung terkategori menjadi partikel bias makna, maka Mapappe’ tadi cenderung tergolong sebagai suatu kata yang bermakna. Mapappe’ atau mappappe’ dapat dimaknai sebagai bagus, cantik, gagah, indah atau sesuatu yang ideal. Di masyarakat Palopo (khususnya remaja), saya sering mendengar kalimat: “Mappappe’ mi kawan!”, yang berarti: “Sudah bagus, kawan!” dalam konteks situasi seseorang remaja yang mengakhiri kegiatan memperbaiki motor sahabatnya. Atau kalimat: “Bi…mapappe’nya!” (arti: Wow, cantiknya!) dalam konteks situasi seorang remaja pria yang mengagumi kecantikan (atau keseksian) seorang cewek.

Demikianlah, mappappe’ atau mapappe’ secara umum hanya digunakan di kalangan remaja. Saya berkesimpulan bahwa, kata mapappe’ atau mappappe’ ini adalah bahasa gaul remaja Palopo. Sehingga pula kata ini dipakai dalam lirik lagu kritik “ABG Palopo”, yang notabene target marketnya adalah remaja. Olehnya itu, jangan heran jika kelak 5 hingga 10 tahun mendatang, mappappe’ atau mapappe’ bakal ditinggalkan oleh remaja Palopo. Alasan sederhanya karena, mereka menganggap kata ini adalah ‘teori kebahasaan gaul’ lawas. Yang tumbuh dan berkembang di generasi sebelum mereka, generasi jadul!. Sehingga tidak cocok lagi digunakan di era mereka. Ya, kan? Kapeng…