Arsip ‘buku’ Tag

“Kota Kuno Palopo: Dimensi Fisik, Sosial dan Kosmologi”

Kota Kuno PalopoKota tanpa sejarah adalah kota mati. Justru itu, rekonstruksi artefak-artefak dari masa lalu sangat berguna untuk mengetahui asal-usul suatu kota, pertumbuhan, dan perubahannya, termasuk potensi pengalaman dan cita pikiran masa lalu yang merepresentasikan jiwa zaman dalam mendesain kota (mikrokosmos).

Buku ini mula-mula membahas mengenai konsep kota kuno dan metodelogi penelitian yang diterapkan dengan sasaran memperlihatkan tiga wajah: fisik, social dan kosmologi. Ketiga dimensi tersebut pada kota kuno Palopo, memperlihatkan kekhasan cara berfikir timur, khususnya bangsa Bugis, yang berbeda sama sekali dengan konsep dualism barat. Bugis, sebagaimana dunia timur lainnya cenderung monistik. Dalam buku ini juga terungkap bahwa meskipun konsep kosmologi Bugis bersifat religious-magis, tetapi mengandung logika social dan lingkungan yang khas. Parmanensi konsep local dalam mendisain kota kuno pada zaman pemerintahan islam kerajaan Luwu membuktikan pula bahwa kehadiran agama Islam pada awalnya tidak menciptakan ikonoklasme, melainkan hanya mendekonstruksi kebudayaan local, baik symbol maupun adat (panngadareng).

Judul: “Kota Kuno Palopo: Dimensi Fisik, Sosial dan Kosmologi”

Penulis: M. Irfan Mahmud

Pengantar: Dr. Moh. Ali Fadillah

Penerbit: Masagena Press, Makassar-2003

Jumlah Halaman: 217+xxvi; 14,5 x 20 cm

ISBN: 979.97977-0-5

Kapan-kapan saya tuliskan tentang buku ini yang lebih detailnya.

Palopo dalam Spektrum Waktu

070120093922Tidak banyak buku yang secara detail menggambarkan sejarah Palopo masa lalu. Buku Palopo dalam spectrum waktu ini, sedikit banyak berusaha menyegarkan kekeringan literature sejarah perkotaan di Palopo. Khusus bagi generasi yang lahir setelah tahun 80-an ke atas, buku ini sejatinya menjadi bahan baca baru, dalam memaknai Palopo sebagai sebuah perjalanan panjang dan menjadi bagian dari dirinya.

Banyak infromasi penting yang dipaparkan dalam buku ini. Tentang sejarah Jalan Batara, contohnya. Ternyata, sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari cerita hidup Andi Sultani, seorang legenda Kota ini. Ceritanya secara sederhana dituturkan oleh Andi Falsafah, dalam bagian cerita “Antara Bua dan Palopo”. Lain lagi dengan asal nama Jembatan Bolong, yang kini berada di Jalan We Cudai (eks Jalan Lagaligo) Kota Palopo. Cerita tentang Jembatan Bolong ini bisa dibaca pada penuturan Onggip, fotografer utama Palopo tahun 60-70an. Melalui “Ketika Saya Harus Ganti Nama”, Onggip atau Djie Wang Gim banyak sekali menuliskan sisi ekonomi perkotaan di Palopo periode 1950-an sampai 1980-an. Pemilik Nusantara Photo dan Toko Remaja ini, juga berkisah tentang meander sungai Kampung Langsat yang dirubah strukturnya oleh Jepang, kondisi kampanye pemilu di tahun 1970-an, tentang Datu Andi Jemma, hingga cerita kedatangan Pak Harto di Sukamaju.

Beberapa kawasan yang banyak menjadi latar cerita para penutur di buku ini, sebenarnya hampir seragam. Kita maklum, karena Palopo saat itu masih sebuah kota kecil, dengan pertumbuhan kawasan-kawasan urban yang masih belum signifikan. Kawasan kota tua GeddongE dan Kawasan Pasar Lama (Luwu Plaza) masih menjadi Baca selebihnya »