Pelajar Palopo: Sebuah Warisan dari Generasi Lalu

Nih dulu adalah debut tulisan saya di koran. Kira-kira kelas 2 SMA. Waktu itu reaktif ketika ada anak SMA— diarak oknum Pemkot gara-gara kedapatan ‘siganrusu’ di Labombo. Ini pure pemikiran saya waktu SMA. Intinya: Jangan sepenuhnya menyalahkan remaja dengan sikap negatifnya, orang tua juga nagaca dong!. Judulnya sama dengan di atas.

A. PENDAHULUAN
Pada hakikatnya, membahas mengenai pelajar sebagai komunitas remaja tentunya sebagian besar masyarakat telah paham betul mengenai problem klasik ini. Apalagi masyarakat orang dewasa yang secara utuh telah melewati masa remaja tersebut. Oleh karena itu, apa yang telah terjadi pada hari Sabtu, 15 Januari 2004 bahwaTiga Pelajar SMA Diarak Aparat Pemkot karena dicurigai berduan dan bermesraan dengan pacarnya di Labombo, tentulah kita masing-masing memiliki persepsi yang berbeda melihat problem ini.
Secara umum, kerapkali remaja yang notabene berprofesi sebagai pelajar diidentikkan dengan negative side. Hal ini tentunya perlulah dikaji lebih mendalam. Bertitik tolak dari insiden tersebut di atas, maka dari sisi kewajaran (bukan benar salahnya) hal ini tentunya tidak wajar. Pelajar sebagai sumber daya masa depan tentunya tidaklah wajar melakukan hal-hal yang tidak berpendidikan seperti itu. Tidak berpendidikan karena memang di sekolah, pelajar tidak dibimbing tata cara bermesraan dan pacaran. Di bangku sekolah, pelajar hanya mendapatkan pembinaan melalui bidang study Pendidikan Agama dan PPKn yang orientasinya adalah pembinaan afektif atau sikap dari pribadi remaja itu sendiri.
Disadari bahwa remaja kerapkali membuat tingkah yang sulit dipahami oleh orang dewasa. Namun terlepas dari itu semua, pernahkah orang dewasa memahami apa yang diinginkan remaja sebagai pelajar secara umum?. Dr. James E. Gardner (1995) dalam bukunya Memahami Gejolak Masa Remaja mengemukakan bahwa masa remaja adalah masa yang sulit. Remaja mengalami kesulitan dengan dirinya sendiri, dan mereka juga mengalami kesulitan dengan guru dan dengan orang dewasa lainnya yang tugasnya adalah melatih, mendidik dan membimbing serta mengarahkan mereka. Dari sini, kita tentunya dapat menganalisis bahwa remaja cenderung bernergi tinggi, tidak stabil, senantiasa berubah, mengukur segalanya dengan ukuran diri sendiri, tidak logis dan umumnya mempunyai perangai berontak. Oleh karena itu, pembinaan secara terpadu sejatinya adalah fokus permasalahan yang implementasinya sangatlah diperlukan dalam waktu yang tidak boleh ditunda-tunda lagi.
B. REALITAS MASA KINI
Patut dibanggakan karena Pemerintah Kota telah memiliki komitmen untuk membangun sebuah masyarakat modern namun religius. Hal ini sejatinya didukung oleh masyarakat. Demikian pula dengan acara arak-arakan yang dilakukan oleh Pemkot Sabtu lalu, terlepas dari pro dan kontra, untuk mewujudkan kota relijius memang praktek amoral seperti prostitusi sejatinya ditekan kuantitasnya. Hal ini tentunya bukan hanya kepada pelajar yang kedapatan bermesraan dan berpacaran di tempat umum melainkan sejatinya kepada masyarakat Kota Palopo seutuhnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian dari oknum aparat Pemkot yang sudah memiliki istri ditengarai adapula yang “kegenitan” dengan wanita yang tidak halal baginya. Bukan hanya itu, malah banyak oknum aparat Pemkot yang selalu clubing tiap malam di THM. Oleh karena itu, tidak adil rasanya jika oknum yang demikian itu, tidak diarak pula mulai dari Sampoddo sampai Jembatan Miring sebagai upaya shock therapy atas kelakuannya, termasuk oknum yang korupsi, kolusi, nepotisme serta penyalahgunaan wewenang lainnya. Namun yang menjadi tanda tanya adalah apakah seluruh pejabat Pemkot yang meliputi leader sampai bawahan terendah sepenuhnya suci dari hal-hal tersebut? Kita sejatinya tidaklah munafik terhadap hal tersebut dan dengan keiklasan hati menjawab pertanyaan ini dengan jujur.
Disadari bahwa ketidak wajaran ini secara padu telah menjadi sebuah borok yang tidak akan pernah hilang jika kita tidak mulai merehabilitasi problem klasik ini mulai dari sekarang. Operasi yang dilakukan Pemkot terhadap pelajar beberapa bulan lalu, telah menemukan seorang siswa yang membawa alat kontrasepsi ke sekolah. Dari pengalaman ini tentunya kita dapat mengindikasi bahwa seks luar nikah di kalangan pelajar memang telah terjadi walaupun masih underground. Bukan hanya seks luar nikah, malah penyimpangan tata nilai itu juga meliputi anarkisme, alkoholisme dan penggunaan obat terlarang.
C. KETELADANAN MASYARAKAT ORANG DEWASA
Dari pengalaman di atas, kita sejatinya berpikir secara dingin bahwa keabnormalan pelajar terhadap tata nilai bukanlah secara utuh berasal dari kesalahan pelajar itu sendiri. Banyak faktor yang menjadi background terhadap gejala ini. Faktor yang pertama adalah keteladanan. Kebobrokan hari ini adalah merupakan warisan dari kebobrokan hari kemarin. Artinya bahwa perilaku pelajar yang ditunjukkannya saat ini adalah regenerasi dari hal-hal yang ditirukannya dari generasi sebelumnya. Dalam konteks kekinian, keteladanan merupakan hal yang langka ditemukan oleh pelajar di kota ini. Fenomena ini dapat ditilik jika kita kembali ke realitas semula bahwa pelajar atau remaja masa kini telah disuguhi dengan oknum yang selalu main dengan PSK, dugem, alkoholic, anarkis dan konsumen serta distributor obat-obatan terlarang. Hal ini mengakibatkan pula tidak dewasanya remaja memandang sesuatu hal dan gejala ini diperparah lagi dengan rendahnya kualitas spiritual masyarakat orang dewasa. Dengan demikian, komplekslah sudah kebobrokan yang ada di masyarakat kita, di mana masyarakat orang dewasa pun seakan tidak memiliki power untuk menjadi teladan bagi remaja dan pelajar khususnya. Oleh karena itu, keteladanan yang positif dari orang tua dan masyarakat orang dewasa sejatinya menjadi titik awal pembinaan pelajar secara terpadu dan berorientasi jangka panjang.
D. METODE PEMBINAAN SISWA
Di samping hal di atas, metode pendidikan juga sangat berperan dalam membentuk profil seorang pelajar. Di bangku sekolah, pelajar dibina dengan sistem yang diterapkan sendiri oleh guru yang bersangkutan tanpa mempedulikan aspirasi pelajar (yang dalam Kurikulum 2004, pelajar bukan lagi sebagai objek pendidikan namun bertransisi ke subyek pendidikan). Terobosan dan saran organisasi kesiswaan sebagai wahana penyampai aspirasi siswa ke manajemen sekolah, kerapkali dipatahkan oleh karena tidak sejalan dengan pemikiran kritis dan ide pembaharuan siswa. Hal inilah yang tidak boleh dinafikan dalam pembinaan pelajar di sekolah. Kedisiplinan memang disadari sangat perlu namun hal tersebut sejatinya tidak menimbulkan kekakuan antara guru dan siswa. Dengan adanya kekakuan antara guru dan siswa, maka siswa cenderung meng”angin lalu”kan statement guru di kelas sehingga terjadilah ketidak optimalan hasil pembinaan di sekolah yang berujung pada gejala-gejala negatif yang tidak sesuai dengan norma yang ada.
E. PENUTUP
Oleh karena itu, belajar dari pengalaman tiga pelajar yang diarak Pemkot akibat perbuatannya di Labombo, maka tidaklah dapat kita menyalahkan sepenuhnya tiga oknum siswa tersebut. Namun perlu adanya upaya pencegahan sedini mungkin dengan melakukan perenungan terhadap pribadi masing-masing, apakah profil kita adalah orang yang selalu memberikan keteladanan. Di samping itu, dalam konteks pembinaan di dalam sekolah, kedisiplinan yang berpotensi membentuk kekakuan guru dan siswa sejatinya direformulasi ulang sehingga terbentuk kemitraan yang mendidik melalui kedekatan personal guru dan siswa tanpa menghilangkan kewibawaan. Serta sejatinya manajemen pendidikan kota ini melakukan forum pemerintah-siswa untuk mengakomodasi aspirasi siswa dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan dan mencegah misscommunication antara pelajar dengan pemerintahnya. Dengan demikian, diharapkan pelajar Palopo masa kini nantinya mampu menjadi teladan yang baik bagi generasi selanjutnya. Semoga. Wallahu a’lam.

One thought on “Pelajar Palopo: Sebuah Warisan dari Generasi Lalu

  1. tapi sekarang keadaan sudah beda: demi pemasukan daerah, Labombo -paling tidak menurut si Prof. sudah menjadi daerah maksiat. Dan itu dilakukan dengan legal. hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s