Cerita Ramadhan Lalu

Saya memasuksi perkantoran di bilangan Jalan Gunung Torpedo kota ini. Bangunannya megah. Arsitekturnya bergaya Bugis-Luwu banget. Cukup menarik bagi saya, karena mampu mengkombinasikan unsur budaya dan arsitektur modern. Menarik lagi karena kantor ini terintegrasi. Banyak leading sector yang berpangkal di kompleks ini. Inilah inovasi pemerintahan menurut saya, karena orang-orang gak perlu kesana-kemari untuk mengurus administrasi, bagi yang mengurus sesuatu yang menyangkut administrasi tentunya. Dan memang harus diakui, sebagian besar kantor pemerintah hanya mengurus administrasi, bukan?

 

Pagi itu saya mengurus kartu tanda penduduk saya yang telah kadaluarsa sejak berulang tahun dua pekan lalu. Memang, berulang tahun cuma menyisahkan umur yang belum terpakai, dan juga, kadang mematikan KTP yang setia menunggui dompet kita (walaupun hanya ditemani uang seribuan). Pagi itu saya baru sadar, penduduk Palopo memang cukup banyak. Yang urus KTP saja, baru pukul delapan sudah harus antri. Bagaimana kalau sudah pukul sepuluh ke atas? Sayang sekali saya tidak datang  sebelum pukul delapan. Jadinya saya harus rela menunggu belakangan untuk sekadar menanyakan apakah KTP saya sudah diperbaiki. Sehari sebelumnya, memang KTP saya sudah jadi. Namun entah mengapa, nama kecamatannya salah. Saya berdomisili di Kecamatan Bara, namun di KTP baru saya tertulis Kecamatan Wara. Jelas saya protes dong. Ini identitas jek! Kalau kapan-kapan saya dapat undian, hadiahnya bakal gak nyampe di rumah hanya gara-gara kecamatannya salah, ya kan?

 

Yang antri pagi itu kebanyakan orang-orang tua. Untuk ukuran saya tentunya, yang baru 20 tahun. Ya, paling tidak kalau saya menyapa mereka harus dengan sapaan om, tante atau kakek mungkin. Walaupun tante, om dan nenek saya gak pernah menikah dengan mereka. Tapi sesama warga Palopo, tak masalah-lah bagiku.

 

Di bagian depan saya lihat seorang laki-laki, om mungkin, lagi kesal dengan pegawai yang menangani KTP ini. Sudah tiga hari KTP si om belum jadi. Muntah-lah semua hujatan kekecewaan dari mulutnya. Mulai dari menyalahkan kepala dinas, pegawai yang lebih banyak duduk daripada kerja, sampai pada teknologi komputer yang digunakan. Panas juga saya mendengar ocehan si om. Bukan karena apa-apa, ini ramadhan jek! Pegawainya lagi puasa, jadi gak bisa mempertontonkan adegan yang lebih seru dari yang saya lihat, saling dorong sampai baku pukul mungkin. Hehehe… Bukan. Bukan karena kurang seru. Tapi lebih pada si om saja yang gak punya empati sama si pegawai. Coba kalau si om yang jadi si pegawai itu. Harusnya kan saling pengertian. Bukan om saja yang harus dilayani. Lihat saja, ruangan ini full dengan orang-orang yang sekadar ingin mendapat sebuah kartu. Yang menarik bagi saya, dan juga sangat lucu, si om bicara soal komputer. Ia menyalahkan operator komputer yang lambat kinerjanya. Bukan sombong menurut saya, tapi dari potongannya sih, si om ini pasti gaptek! Dia tampaknya Cuma bisa menyalahkan operator komputer, mungkin, menyalakan komputer saja dia gak tahu. Sekali lagi saya gak sombong, tapi ini kesan pertama saya. Kan, tiap orang punya insting sendiri dalam menilai karakter seseorang sejak pertama kali bertemu. Dan sayangnya, si om ini terkategori dalam otakku sebagai orang yang cenderung tidak sopan, pemarah, se’meng dan…Gaptek!

 

Setelah menunggu hampir setengah jam, KTP saya juga belum ditemukan. Akhirnya saya juga harus sabar menunggu beberapa menit. Saya keluar ruangan untuk duduk di bagian depan. Terlalu panas ruangan itu. Memang tidak ada kipas angin, apalagi AC. Saya duduk di samping lelaki tua. Yang ini agak lebih tua dibanding si om tadi. Kesan saya, si om ini cenderung jinak dibanding om yang liar tadi. Beliau ramah dan friendly. Kalau dikategorikan menurut warung bakso di Palopo, mungkin ini Lumayan, lumayan baik bagi saya. Tatapannya tertuju pada susunan foto-foto kegiatan Pemkot Palopo yang ditempel di samping pintu ruangan yang panas tadi. Ia membuka percakapan dengan saya dengan kalimat, “Walikota kita ini bagus!”. Bagus apanya? Emang dia barang jualan apa? Bagus kan menunjuk untuk kata benda. Tapi mungkin juga orang, Ida Bagus! Tapi maklumku memahami sebagai Walikota yang punya kualitas bagus. Tulus sekali dia mengucapkannya. Saya belum membalasnya, seorang ibu, tante maksud saya, yang juga mendengar kalimat si om, langsung menyambung “Iya, pasti dia nanti terpilih lagi!” Kalimat ini diucapkan si tante dengan pasti. Optimis, kesan yang saya tangkap dari si  tante.

 

Memang, sejatinya tak ada warga Palopo yang mengatakan Walikota (yang dimaksud om tadi) gagal memajukan kota ini. Kalaupun ada, mungkin hanya lawan politiknya saja. Tapi kali ini, saya bukan mau berpolitik praktis. Tapi harusnya kita bicara pakai hati. Yang dikatakan om tadi saya setuju, tapi si tante belum tentu. He…

 

2 thoughts on “Cerita Ramadhan Lalu

  1. we’ll c laaaah….
    ky’x z s7 sama tante!!!
    cuz Bu RT n KAwAN2x dsekitar RumahKU TAk henti2x mKampanyekan “Tenriadjeng, Walikotaku!!!!!!”
    wkwkwkwk…. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s