BBM dan Handphone

Tadi pagi, penjual sayur langganan mace curhat. Bensin botolan yang dibelinya Rp 15.000,-/ botol. Katanya dia beli dua botol. Beliau curhat sama mace. Katanya, “Untung kalau sayurku ini untungnya sampe Rp 30.000,-, bu!”

Sudah tiga hari (mungkin empat) bensin langka di Palopo. Kabarnya, pasokan bensin ngadat akibat distribusi yang terkendala cuaca buruk. Saya maklum. Logika ekonomiku jalan. Supply kurang sedang demand besar, akibatnya price-nya membengkak. Yah, begitulah kira-kira teorinya!

Akibatnya, saya juga harus ngantri di SPBU Salobulo. Masih cukup sedikit yang ngantri dibanding SPBU Binturu. Mau tidak mau, saya tegaskan harus ngantri. Saya tidak rela membuang Rp 30.000,- hanya untuk menghabiskan 2 liter bensin dalam satu hari saja.

Memang, bensin secara tidak sadar telah menjadi kebutuhan primer kita. Aktifitasku kemarin juga terganggu akibat kurangnya pasokan bensin untuk motor plat merahku itu. Mungkin sembako sudah bertambah jadi sepuluh bahan pokok. Ya, tambahannya adalah BBM!

Tapi tidak adil rasanya menambahkan BBM dalam 10 Bahan Pokok, tanpa menambahkan pula komoditi urgen yang satu ini, Handphone! Jadilah ia menduduki peringkat juru kunci dalam Sebelas Bahan Pokok! Memang harus diakui. SPBU saja kalah dari gerai handphone di Palopo. Orang tidur dibangunkan handphone. Bekerja harus men-on-kan handphone agar komunikasi tetap lancar dengan relasi. Peran arloji kini degantikan oleh handphone. Bahkan, nembak cewek pun kini sering pake perantara handphone. Yah, begitulah kira-kira. BBM dan handphone hari ini adalah fenomena baru.

Fenomena ini pula yang menginspirasi Toko Baru untuk berinvestasi di bisnis handphone. Saya punya pengalaman tidak enak di gerai penjual pulsanya Toko Baru. Waktu itu saya membeli voucher. Nomor IM3 saya kalau gak salah. Waktu itu saya nunggu kembalian. Agak lama, jadi saya ingin lihat-lihat chasing dulu yang berada di bagian belakang gerai itu. Saat lagi asik-asiknya mencari chasing yang cocok, dan ternyata gak ada yang cocok, saya akhirnya balik kembali ke kasir tadi. Pas saya balik badan, saya hampir saja menabrak pelayannya yang ternyata dari tadi ada di belakang saya. Saya kaget. Tampaknya dia menyinyalir saya ingin mencuri. Dan kontan saja, lagi-lagi teori-teori ekonomi-ku bekerja dengan baik. Menurutku, inilah yang disebut dengan ‘marketing mistake’. Si pelayanan tidak paham betul dengan konsep costumer satisfaction. Kewaspadaannya terhadap pencurian mematikan kepuasan pelanggan. Dan kalau saya mau kampanye negative melalui word of mouth (dan memang saya lakukan kini), maka tentu ini menjadi preseden bagi unit bisnisnya. Jadi, di tengah persaingan bisnis yang begitu kompetitif di kota ini, saya cuma mau ingin bilang bahwa teori-teori ekonomi sejatinya mulai diterapkan. Bukan karena saya calon sarjana ekonomi, tapi ini sekadar meingkatkan kualitas unit bisnis kita.

Sudahlah, harapanku sebenarnya kepuasan pelanggan harus tetap menjadi yang utama bagi tiap unit bisnis. Tentu tujuannya agar pelanggan loyal dan profit terjaga. Pertamina demikian halnya. Dan juga Gerai Pulsa Toko Baru tentunya!

One thought on “BBM dan Handphone

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s