Mari Berimajinasi!

images_006.jpg

Kompas hari ini menulis berita dari Diskusi Pemikiran Filsuf-Aktifis Castoriadis di Kantor Perhimpunan Pendidikan Demokrasi di Jakarta. Intinya adalah Indonesia konon saat ini miskin imajinasi. Saya pikir ini isu yang menarik. Apakah memang bangsa kita lagi malas-malasnya berimajinasi?

Pada saat membaca berita di atas, saya teringat saat saya membuat video track untuk acara reunian SMP saya. Judulnya sederhana, “Dulu, Kini dan Untuk Masa Depan”. Di awal video itu, saya menampilkan foto-foto jadul sekolah saya. Lalu dilanjutkan dengan foto-foto mutakhir. Dan di bagian akhir adalah foto-foto masa depan SMP saya. Respon audience pada saat ditampilkan begitu hangat. Seru dan lucu. Terutama foto-foto jadul-nya. Pada saat transisi video dari masa kini ke masa depan, sentak gedung tempat kegiatan reuni itu (saya masih ingat) senyap. Saya bisa menerka, ternyata mereka bingung apa gerangan yang akan ditampilkan di masa depan SMP kita. Padahal kita mahfum, kita masih berada di detik yang belum kita lewati. Namun kini, sebentar lagi, wajah sekolah kami akan ditampilkan dalam wajahnya di masa depan.

Saya menghias video ini dengan background lagu I Believe-nya Tata Young. Dan saudara, apa gerangan gambar yang saya tampilkan di slide pertama bagian Masa Depan SMP saya? Saya menampilkan gambar seorang astronot yang sedang bersafari di luar angkasa! Di deskripsinya, saya menulis: Di masa depan, salahsatu jebolan SMP kita bakal jadi astronot!. Sontak pengunjung gedung gempar. Tertawa, senyum simpul bahkan teriak hu…! Mereka tak menyangka, gambar yang tampil akan sekonyol itu. Konyol karena mereka menganggap ini hanyalah bualan, cita-cita yang terlalu tinggi, omong kosong belaka, imajinasi semu dan bahkan mungkin pembodohan bagi yang hadir. Setidaknya, dengan tidak ada seorangpun yang menyampaikan apresiasi dan merespon positif atau negative kepada disainernya, saya dapat menyimpulkan bahwa memang, kita tidak terlalu piawai menangkap sebuah ‘titik kesadaran’ dari sebuah fenomena yang ada di sekitar kita. Dan mungkin, hari ini, hipotesis tersebut akan dikuatkan dengan berita dari Kompas tadi.

Berimajinasi bertalian erat dengan kreatifitas. Maslow menuliskan bahwa salahsatu ciri orang yang kreatif adalah senang berimajinasi. Maka berimajinasilah dan anda bakal terkategori dalam orang-orang kreatif! Pada saat saya mendisain video di atas, saya berimajinasi tentang gambaran sekolah saya di masa depan. Tak tahu ide dari mana, yang jelas di video itu, saya mencitrakan sekolah saya tidak hanya bakal menelurkan seorang astronot, tapi juga berimajinasi bahwa guru-guru yang bakal ngajar di sekolah saya kelak adalah mereka yang berijazah Harvard University. Juga saya berimajinasi, sekolah saya kedatangan guru-guru dari Amrik yang studi banding tentang system pendidikan yang diterapkan di sekolah saya itu. Inilah imajinasi. Yang konon datang dari otak kanan. Bukan otak kiri yang cenderung analitis-intelektual. Otak kanan bermain pada ranah emosional, visual, holistic, intuitif dan cenderung mencari persamaan. Konon, hari ini adalah eranya otak kanan. Entertainer, enterpreuner dan spiritualis adalah profesi-profesi otak kanan yang lagi laku dipasaran. Nah, cukupkah kita hanya mengandalkan otak kanan? Kita pasti semua setuju, jika saya mengatakan tidak cukup. Allah sudah menciptakan otak kiri yang harus harmoni dengan yang kanan. Jadi intinya, bagaimana mereinkarnasikan Isaac Newton dan Raden Saleh di diri kita. Mampu berpikir rumit namun tetap bisa menciptakan suatu lukisan yang indah. Masalahnya kini adalah, mana yang duluan: berimajinasi atau beranalisis? Saya ingat, orangtua kita yang selalu mengajarkan tentang keagungan hal-hal yang berbau kanan-kanan. Makan pakai tangan kanan, dahulukan kanan jika memakai sandal atau salaman dengan tangan kanan. Jadi mungkin ada benarnya pula, jika saya katakan, pakai otak kanan dulu baru otak kiri. Berimajinasi dulu baru analisis. Maka berimajinasilah dulu menjadi astronot baru cari cara untuk mewujudkannya! Ingat teori Barack Obama dengan ‘The Audacity of Hope’-nya. Lalu percayalah, sebagaimana Tata Young menyanyikan I Believe-nya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senang berimajinasi dan mewujudkannya. Pasalnya, negeri ini sudah terlalu mapan untuk tetap berada di area tengah. Saatnya tinggal landas. Dan itu tergantung dari imajinasi kita. Tapi bukan berarti imajinasi kita: “Dipimpin oleh seorang Presiden Bush yang bakal menjadikan Indonesia mirip Amerika!”. Ih, saya pikir kita semua sepakat berkata di akhir tulisan ini “Ce empat Pe tiga, C4P3 deh…!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s