Selamat Jalan Mama’…

4 Maret

Saya telat ke kantor. Di kantor sudah ada bos. Beliau sendiri tampaknya. Teman-teman yang lain belum datang. Memang agak mendung. Jadi agak malas juga ke kantor. Tiba di kantor, saya langsung mengurus SKTM siswa SD Paredean. Kemarin ada yang tertinggal, belum dibuatkan. Pulang setengah empat sore.

Saya tiba di rumah pukul setengah lima, mama’ (nenek) saya lihat masih seperti tadi pagi. Masih tetap tiduran dengan sabar di ranjangnya. Hampir seminggu memang dia sudah gak bisa bangun dari ranjangnya.

Saya makan siang. Dari tadi pagi hanya dua potong roti yang masuk. Siangnya tidak sempat. Di meja makan, kakak ketiga cerita kalau mama’ tadi sempat down. Tante Jo (tetangga yang sudah dianggap ortu juga oleh kami) datang menjenguk mama’. Dia ditemani kakak kedua saya. Rupanya mama’ down lagi. Kakak keduaku yang juga seorang perawat, saya lihat melakukan pertolongan. Mama’ tidak sadar. Beberapa kali namanya dipanggil. Mama’ tidak menjawab. Napasnya sesak. Saya tahu beliau sudah payah. Saya tinggalkan kamar mama’. Saya ingin shalat ashar dulu. Saya belum ashar. Setelah itu, saya kembali ke kamar mama’. Ibu lagi tidak ada di rumah. Ayah, karena melihat kondisi mama’ yang jam tiga tadi sudah baikan, akhirnya pergi main tenis dulu. Kakak ketiga ku memanggil nenek haji di samping rumah. Setelah nenek haji tiba, dia membacakan yasin untuk mama’. Saya ikut baca yasin juga. Tak lama, ibu, kakak pertama, kakak keempat,ipar, om dan ayah tiba di rumah. Mereka semua ditelepon kakak kedua untuk pulang. Mama’ kritis. Setelah membacakan yasin 2 kali, saya menelepon sepupu sekali saya. Tak lama, mereka sudah berkumpul semua. Adikku, si bungsu telah kembali. Jadwal latihan bolanya hari ini. Bersama dia, kakak iparku juga datang. Maghrib hampir tiba. Saya bersiap ke masjid. Cucu-cucunya sudah hadir semua. Setelah mandi, saya ke masjid.

Di masjid shalat magrib berjamaah. Setelah shalat, saya berdoa untuk mama’. “Berikan yang terbaik ya Allah!”. Tiba di rumah, saya ditanya ayah, “Sudah bacakan yasin untuk mama’?”, saya jawab “Sudah, ini mau lagi”. Setelah itu, yasin keempat kubacakan untuk mama’. Keadaannya masih sama. Seluruh tubuhku serasa kaku pula. Melihat mama’ dalam sakratul mautnya. Sedih. Di teras rumah saya menangis memikirkannya. Om Haji datang menjenguk. Dia mendapati saya menangis di teras. Tak ada kata-kata di antara kami. Saya hanya menyuruhnya masuk melihat mama’. Hingga adzan Isya berkumandang, saya bergegas mengambil wudhu lagi. Bergegas ke masjid. Shalat isya berjamaah lagi. Do’aku tetap kuberikan untuk mama’. Semoga dia khusnul khotimah. Habis isya, di rumah, saya bacakan yasin lagi. Ternyata di rumah sudah ada mertua dan ipar kakak ketiga saya. Dia menjenguk mama’. Setelah yasin ku bacakan, saya merasakan seluruh badan masih letih. Saya ngobrol-ngobrol dengan keluarga yang hadir. Tetangga sebelah (anak tante Jo) juga hadir. Anak-anak kost-nya om di samping rumah disuruh menjaga ketentraman. Karena agak letih, saya membaringkan tubuh saya dulu di ranjang milik kakak saya. Tak lama setelah istirahat, tante Jo memanggil. “Mana Zul?” yang saya dengar. Saya masih di kamar. Saya tidak tahu ada apa. Saya keluar dari kamar, dia bilang “Bacakan lagi yasin untuk nenekmu. Umurnya tidak banyak mi!” katanya tegang. Saya langsung lari ke kamar mama’. Betul, ibu dan mertua kakak saya terus mengucapkan kalimat tauhid di telinga mama’. Laa ilahaa illallah…Laa ilahaa illallah… Saya dengar dan lihat. Saya langsung bacakan yasin. Saya suruh kakak memanggil ayah. Sementara, yang hadir tetap mengucapkan Laa ilahaa illallah ke telinga mama’. Yasinku hampir habis. Guntur beberapa kali berbunyi. Ibu memangku kepala mama’. Nafasnya akhirnya terhenti. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…

Yaa ayyuhal nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbika radhiyatammardhiyah, fadkhuli fi ‘ibaadiy, wadkhuli jannatiy. Mama’ meninggal. Tepat pukul 08.50 Wita malam. Ia tutup usia di 83 tahun. Seluruh keluarga yang hadir, sedih. Menangis pilu, terutama adikku yang masih kelas empat SD. Saya tetap tegar. Mungkin karena ba’da maghrib tadi saya sudah menangis duluan. Dia meninggalkan ayah (anak kandungnya yang tinggal satu-satunya), dua menantu, sembilan cucu dan tujuh cicit. Setelah itu, saya membacakan Al Qur’an untuk mama’, mudahan saja menjadi tambahan amal untuknya. Allahummagfirlaha warhamha wa afii wa’fuanha…

Tadi malam, saya masih sempat membantu mama’ minum. Memang rasa iba ku tadi malam begitu dalam. Lain dari sebelum-sebelumnya. Saya tatap matanya yang begitu lemah. Sedih sekali melihatnya.

Malam ini, seluruh keluarga tidur di samping jenazah mama’. Dengan rasa duka yang dalam tentunya. Termasuk saya. Saya memejamkan mata, namun masih terjaga. Terlalu banyak pikiran yang ada di otakku. Sampai subuh, mungkin hanya beberapa menit saja saya terlelap.

5 Maret

Habis subuh, saya kembali membacakan Al Quran untuk mama’. Suasana rumah mulai ramai. Keluarga sibuk, untuk mempersiapkan pemakaman. Alhamdulillah, semua lancar. Mungkin karena mama’ sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari kafannya hingga sedekahannya. Semua sudah beliau siapkan jauh-jauh hari. Kafannya yang dibungkus kertas minyak dan Koran, sudah dikeluarkan tadi malam. Korannya menunjukkan tanggal tahun 1996. Dua belas tahun yang lalu, dia sudah packing untuk keperluan meninggalnya. Sesuatu yang mungkin orang jarang melakukannya.

Prosesi lancar. Tepat 11.45 Wita, jenazah diantar ke Pemakaman Umum Lemo Lemo. Liang lahat di sebelah anak pertamanya sudah disiapkan. Dulu dia sempat berpesan ingin dikubur di kompleks LokkoE, bersama suami, anak-anaknya, ibunya dan keluarga yang lain yang telah mendahuluinya, namun karena kompleks itu sudah ditutup, maka almarhumah juga maklum. Tepat sebelum adzan dhuhur dikumandangkan, liang lahat sudah ditutup. Artinya, Cuma satu waktu shalat saja yang terlewati. Semua keluarga sedih. Termasuk saya. Bagaimanapun, mama’ adalah nenek kami. Terlalu banyak kenangan bersama beliau. Allahummagfirlaha warhamha waafii wa’fuanha…

Setelah prosesi pemakaman dilakukan. Kami keluarganya sengaja terakhir meninggalkan kuburan. Doa tentunya menjadi inti di atas pusara mama’. Saya tidak kuasa membendung air mata. “Yaa Allah terimalah ia sebagai hambaMu yang tergolong orang-orang muttaqin. Dia orang baik yaa Allah…”

Kami pulang dari kubur dengan berjalan kaki. Semua pengantar yang berkendaraan sudah tidak ada. Terpaksa kami bergerombol berjalan kaki. Terik matahari membuat keringat ini bercampur dengan air mata. Satu hal yang saya lihat dari keluargaku hari ini, kami begitu solid. Saya baru kali ini melihat keluarga ini berjalan di bawah terik, dengan menenteng beberapa peralatan yang dipakai prosesi tadi, dengan suasana duka tanpa kata-kata, berjalan lemah sepanjang Lemo Lemo – Balandai, di antara anak sekolah dan ramainya kendaraan, dan pakaian yang agak kotor karena tanah-tanah kuburan tadi. “Ya Allah, terima kasih atas keutuhan keluarga ini ya Allah”

Setelah sampai di rumah, saya mandi karena memang dari tadi pagi belum mandi. Shalat lalu mengirimkan bacaan Al Quran untuk mama’. Ikut gabung dengan kakak ngitung-ngitung sumbangan pelayat untuk mama’. Dan akhirnya terkapar tidur karena kelelahan di ruang tengah. Tante dari Pare Pare dan om dari makasar tiba. Ashar saya bangun dan langsung shalat. Setelah itu persiapan untuk ta’ziyah sebentar malam.

Shalat magrib di rumah karena gak sempat ke masjid. Habis isya, ta’ziyah digelar. Yang bawakan hikmah H. Yahya Hamid. Uztad yang ayahku (dan saya pula) kagumi. Cukup menghibur untuk kami. Habis shalat isya, saya tidur di garasi untuk menjaga kursi-kursi dan peralatan lain yang berada di luar rumah. Terimakasih untuk bantuan orang-orang hari ini.

6 Maret

Rumahku masih ramai. Kegiatan persiapan ta’ziyah sebentar malam masih seperti kemarin. Sayangnya malamnya hujan lebat. Ta’ziyah batal dilaksanakan. Akhirnya cuma cerita panjang lebar di garasi. Anak-anak pesantren yang dipanggil, mengkhatamkan mama’ Al Quran. Terimakasih untuk mereka. Sampai saya tertidur lagi di garasi, menjaga rumah. Dan terimakasih untuk orang-orang yang membantu kami hari ini.

7 Maret

Seharian ngantar undangan untuk kegiatan ta’ziyah besok. Alhamdulilah lancer. Cuma dua undangan yang gak nyampe, soalnya rumahnya gak ketemu. Sore habis ngantar undangan, saya ikut gabung di belakang rumah. Ada acara potong sapi. Mama’ pesan, di hari ketiga meninggalnya ia ingin bersedekah seekor sapi untuk tetangga, kolega dan keluarga. Malamnya ta’ziyah diisi Uztazah Solehati. Hadir 2 orang teman kantor. Cukup menghibur. Tidur di luar lagi.

8 Maret

Acara makan siang (sedekahannya mama’). Banyak undangan yang gak hadir. Tak apalah. Mungkin mereka pada sibuk. Sorenya kami ke kuburan mama’. Bawa batu nisan. Dan berdoa lagi. Setelah itu saya sibuk beres-beres lagi. Ba’da magrib, saya buka lemari mama’. Nyari buku-buku mama’. Saya tahu, mama’ suka nulis. Saya ingat dulu ada juga kitab-kitab berbahasa bugisnya, yang saya tahu dia berikan ke om setahun lalu. Saya menemukan foto-foto tempo dulu yang disimpannya. Fotonya bersama suami tercinta, Abd Hafid, dia simpan baik-baik. Juga ada satu album yang kami tidak tahu siapa semua. Karena rata-rata tanggalnya menunjukkan 50-60an. Beberapa saja yang berketerangan berbahasa lontara bugis. Saya paham membacanya.

Di lemarinya juga saya dapati catatan-catatannya. Semacam diary. Lengkap dengan tanggal-tanggalnya. Tanggal terakhir saya lihat 20 Februari 2008. Dua pekan lalu. Tepat ketika ia mulai sakit. Di diarynya (yang bertulis lontara bugis), saya sadar bahwa mama’ begitu perhatian dengan kami. Tanggal wisuda kakak keempatku saja ia tulis baik-baik. Juga televisinya rusak pun dia tulis. Diam-diam saya terkagum-kagum dengannya. “Ya Allah, mama’ orang baik, tempatkanlah ia di tempat orang-orang terpuji. Tempat yang mendapat rahmatMu ya Allah”. Sedih lagi…

9 Maret

Om dan tante dari Makassar dan Pare Pare sudah ingin pulang. Kami hunting durian dulu ke Battang dan Latuppa. Dapat cukup banyak. Sampai-sampai Piposs membebani uang tambahan bagasi untuk mereka. Sorenya, sepupu satu kaliku, bentrok lagi dengan om. Memang ada masalah yang berlarut-larut di antara mereka. Malamnya Ana balik ke Palu. Dia teman sekantor kakak pertamaku yang sudah dianggap saudara. Dia langsung pulang ketika tau mama’ meninggal. Mama’ sudah dianggapnya neneknya pula. Makanya saya juga hormat dengannya. Rumah kembali sunyi. Sedih…

Saya ingat, waktu saya mau berangkat ke Makasar ikut SPMB, mama’ berikan saya sepotong sarung. Katanya “Pake’i ma’sumpajang ana’!”. Saya bilang, “Iye’ terimakasih. Doakan ka’ ma’!”. Dia balas,”Saya selalu doakan ko ana’!”. Saya cium tangannya dan siap tempur di SPMB.

Saya tahu, bagaimana besarnya perhatian mama’ waktu saya masih kecil. Makanya kami selalu hormat, walaupun kadang juga (kami cucunya) tidak sepaham dengan pikiran-pikiran orang tua. Mama’ adalah guru ngaji saya. Makanya saya gak ragu dengan amalan-amalannya. Dia orang baik. Konon, dulunya dia juga jago masak. Namun di akhir-akhir hidupnya (sejak saya dewasa), dia sudah tidak pernah masak. DIa sudah dijamin makanannya dengan anak-anaknya. Cerita tante haji waktu menjenguknya 3 hari sebelum wafat, mama’ bilang ke tante haji “Makessing manengni cucu’ ku”. Sampai akhirnya di jam-jam sebelum kritisnya dia berkata ke ayah, “De’ na ullei ana’”.

Ya Allah, Engkaulah yang menghidupkan dan mematikan kami. Hari ini, kebesaranMu engkau perlihatkan kepada kami. Kami ikhlas ya Allah karena Engkau lebih sayang kepada mama’. Jemputlah ia dengan pelangi, yang disampingnya berjejer malaikat-malaikat yang tersenyum. Bukakanlah pintu langitMu, tempat yang penuh rahmat untuknya. Terangi jalannya dan barzakhnya. Lapangkan kuburnya. Golongkanlah ia sebagai hambaMu yang engkau kasihi. Ampunilah dosanya. Terimalah amalan-amalannya. Kumpulkanlah kami kelak di surgaMu. Jauhkanlah kami semua dari api nerakaMu. Engkaulah yang Maha Pengampun dan tidak ada keraguan kami atas kekuatanMu. Shalawat kami kepada Rasulullah Muhammad SAW. Amin.

4 thoughts on “Selamat Jalan Mama’…

  1. Ping-balik: Catatan-catatan Nenek « zulham city

  2. Ping-balik: Catatan-catatan Nenek | Memoar Si Zulham

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s