Media Politika

‘Pa’ Kumis dan Bu’ Krudung’ bikin seru Pilwalkot saja. Koran Palopo Pos, pada hari Senin mengabarkan Si Empunya gambar bakal menyiapkan tim advokasi untuk menggugat Pemkot jika menurunkan paksa gambar Pa’ Kumis. Lain lagi di Selasa. Calon “yang selalu berkata benar (YSBB)”, laporannya kandas lagi. Calon ini memang selalu berkata benar, makanya, di Panwaslu dia sudah melaporkan lima kali ‘pelanggaran’ calon ‘juru kunci’. Benar-benar berkata benar, atau benar-benar membuat seru Pilwalkot saja? Terserah anda, pembaca!


Sementara itu, calon ‘metal’, di Koran itu (pada hari yang sama dengan berita calon ‘YSBB’ di atas), dikabarkan bersilaturahmi (mungkin juga bersilat lidah) di masjid Al Awwabin. Bisa ditebak silaturahmi macam apalah itu. Yang jelas Koran itu memasukkan beritanya di kolom Pilkada. Sementara, di kolom sebelahnya, baliho si ‘juru kunci’ dirusak orang tak dikenal. Kerugian materil katanya, dan saya pikir, ini bukan indikasi Pilwalkot seru lagi, tapi bakal serem!

Saat ini, media menjadi bintang untuk para calon pemimpin kita. Alasannya, media menjadi begitu penting untuk kampanye. Bukan hanya mahasiswa komunikasi saja yang paham urgensi media untuk kampanye, namun politisi berijazah SD pun mahfum hal itu. Tak heran, order baliho dan spanduk dipercetakan, baju kaos (walaupun rada-rada tipis) di usaha konveksi, hingga koran Palopo Pos laris manis jadinya. Saya yakin, wartawan Koran Palopo Pos yang baru ber-ultah ini, pasti keteteran melayani sms undangan liputan kegiatan para players Pilwalkot. Saya ingat teori The Powerfull Effects-nya Elizabeth Noelle-Neuman (1973) yang membenarkan bahwa media massa sangat memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Saya yakin, manajemen kampanye para calon walikota kita, pasti pula berusaha untuk menguasai teori ini.

Mau fakta tentang teori di atas? Kita semua pasti tahu, bahwa bukan lagi suatu rahasia, pariwisata Bali anjlok di 2002 karena publikasi buruk CNN mengenai terror bom di Pulau Dewata itu. Oleh karena berita Kompas pula yang mengatakan bahwa kita bangsa ‘boros’, makanya Presiden SBY menginstruksikan pejabatnya mengganti jasnya menjadi batik dan mengurangi AC pada saat rapat di kantor pemerintah. Artinya bahwa, sekali lagi, media memiliki pengaruh sangat signifikan, baik dalam hal menarik perhatian, menimbulkan minat, membuat keputusan dan hingga melakukan sebuah aksi. Media dapat mengantarkan kesuksesan kekuasaan dan di sisi lain pula mampu memperkosa (bahkan membunuh) kekuasaan seseorang. Olehnya itu, dalam konteks kampanye,core-nya adalah membangun image positif, dan komunikasi politik bermain pada ranah ini.

Adu Strategi

Baliho ‘juru kunci’ yang dirusak, dan adanya complain terhadap karikatur ‘pak kumis’, mengindikasikan betapa takutnya manajemen kampanye para calon untuk kehilangan peluang mengedukasi masyarakat. Dan sekaligus pula, penulis pikir, mendeskripsikan ketakutan calon satu terhadap atraktifnya gerak competitor lainnya. Wajar saja dalam sebuah kompetisi. Dan di sinilah ‘serunya’ Pilwalkot kita. Namun, bukan berarti keseruan itu, akan bermetamorfosis menjadi keseraman dan kesengsaraan. Mudahan saja tidak.

Untuk mencapai keefektifan komunikasi, hal yang perlu dipahami oleh manajemen kampanye adalah bahwa komunikasi adalah selling, not telling. Olehnya itu, kampanye bukan hanya sekadar menuliskan visi-misi di media, namun sejatinya memberikan nilai jual atau tawaran yang berkualitas dan memasarkan kehendak kita (visi-misi) itu kepada khalayak. Dengan demikian, diperlukan pemahaman internal tentang apa yang dijual (visi-misi), pemahaman tentang karakter dan harapan masyarakat (target), serta menganalisis kondisi kompetisi yang tengah berjalan. Dalam konteks ini, riset sejatinya tetap terus dilakukan. Bukan hanya pada saat survey awal popularitas untuk mengusung calon, namun pula harus ada follow up yang dilakukan secara sustainable dan obyektif, hingga 5 Mei mendatang.

Hal kedua yang sejatinya dipahami adalah komunikasi merupakan proses memperoleh persetujuan atau dukungan. Disini, hal yang ditekankan adalah kita telah mampu menjawab pertanyaan: Apakah pesannya sudah benar, tepat, jelas,dan cara penyampainnya sudah sesuai ruang, media dan waktunya? Dalam konteks ini, art menjadi sesuatu yang menjadi keniscayaan untuk di telaah. Diperlukan branding, disain identitas dan naming yang kreatif, tepat dan campaign oriented. Jadi baliho, leaflet, spanduk atau stiker tradisional dengan disain grafis yang seadanya, sejatinya ditinjau ulang. Harus eye catching. Di samping itu, tren kampanye dewasa ini pula adalah internet. Hybrid era, kampanye dunia nyata dan maya. Yang secara tidak langsung pula, paling tidak mampu mencuri perhatian kaum netters Palopo, walaupun keefektifannya masih dipertanyakan.

Calon ‘pak kumis’ membuat suatu diferensiasi dengan membuat karikatur. Plagiat dari ‘Si Kumis dan Si Kacamata’ waktu Pilgub lalu ini, menurut penulis mampu mencuri perhatian. Paling tidak, perhatian masyarakat itu tercermin dengan adanya kontroversi. Namun, bukan berarti saya bakal pilih ‘si kumis’. Visinya saya anggap biasa-biasa saja. Sebagai seorang muda, saya ingin visi yang mengadopsi strategi blue ocean , dan itu ada di calon ‘metal’. Tapi lagi-lagi saya ragu, calon ‘metal’ belum berpengalaman. ‘Juru Kunci’ bagaimana? Dia sudah berpengalaman, tapi tampaknya dia harus menjawab kritik mahasiswa-mahasiswa kita dulu. Lalu, dengan calon ‘YSBB’? Sama saja, dia harus menjawab dulu pertanyaan ‘juru kunci’ tentang isu “bage-bage barra’nya”?. Jadi, ibaratnya orang mau naik haji, seluruh utang sebaiknya dilunasi dulu, wudhu dulu sebelum shalat, atau klarifikasi dulu semua wacana-wacana public yang negative-negatif. Sehingga pencitraan positif dapat lebih mudah, dan kampanye berjalan efektif. Demikian pula, strategi komunikasi harus diadu secara elegan. Over promise under delivery, juga salah. Foto harus secantik aslinya, dalam artian pencitraan harus mendidik. Janji harus sesuai dengan kenyataan.

Negasi Teori

Sulit untuk membaca keefektifan komunikasi politik calon walikota kita, jika tidak ada riset yang dilakukan pra Pilwalkot 5 Mei mendatang. Olehnya itu, sulit pula untuk memprediksikan siapa yang bakal jadi looser atau siapa yang bakal menjadi winner. Media komunikasi kampanye, dalam teorinya di atas tadi, memutlakkan memberikan kemenangan pengaruh kepada siapa yang intensif melakukan proses komunikasi yang efektif. Namun, belajar dari Pilgub kemarin, ‘Sang Jenderal’ dan ‘Si Kumis’ -yang semua orang tahu menguasai media komunikasi- takluk di kota ini. Sehingga kita kemudian bertanya: Apakah ini memberikan justifikasi, bahwa politik memang ilmu yang tak terukur dan unpredictable? Kata iklan: May be yes, may be no. Teori komunikasi (dan mungkin pula teori pemasaran) bisa saja dibantahkan di area studi politik. Jadi, belum tentu jagoan kita-lah yang bakal pote-pote di panggung victory speech di bulan Mei mendatang. Makanya ikuti tradisi politisi-politisi kita, siapkanlah jauh-jauh hari kuasa hukum. Mungkin, ada peluang untuk banding di PT jika calon kita kalah, ya kan? Wallahu a’lam.

4 thoughts on “Media Politika

  1. Dan sekarang terbukti Pak Tenri lagi yang terpilih. tapi kenapa waktu puasa tahun ini ndada grebek sahur, padahal tahun lalu waktu mau pemilihan, ui satu kelurahan na gedor subuh-subuh?! hehe.

    gantian sekarang RMB yang muncul fogging di koran. tawwa, pemimpinta’, fogging tapi nda pake masker. begitu memangkah SOP-nya?! berarti amanji fogging nda pake masker di?! hehe. cocokmi itu, Zulham walikota, Tuo wakil. lakukanmi perubahan. sayapi yang pilihko berdua. haha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s