Andoli, Riwayatmu Nanti…

Tiga hari lalu, ketika saya duduk-duduk di teras rumah, menggenggam koran dan memelototi kata demi kata berita koran itu, saya terbawa di memori masa kecil. Kusaksikan kembali padang luas, yang ditumbuhi rumput-rumput gatal, seratus lima puluh meter dari rumah orang tuaku, di Balandai. Di sana, saya dan kawan masa kecil, berlari-lari tanpa takut jatuh dan lecet di lutut, menikmati permainan bom. Masih teringat aba-abanya, bom kali bom tidak boleh celang! Seru sekali, sampai-sampai baju kuyup oleh keringat. Setelah pulang, kerap dimarahi ibu, karena celana pasti dilekati biji rumput padang liar, sulit dikeluarkan walaupun disikat beberapa kali. Di tempat itu, juga teringat permainan enggo. Beberapa gubuk tua, peninggalan tetangga yang datang dari Sumatera, kami tempati bersembunyi. Sementara di dekatnya, suara gendang tarian Pangngaru’, dilatihkan kepada remaja-remaja Sanggar Cenning Ati pimpinan Haji Sibenteng. Sesekali kami dimarahi oleh pak haji si pelatih karena biasa mengganggu mereka. Kami maklum, karena pak haji memang disiplin. Penarinya saja biasa beliau marahi.

 

Sekarang padang rumput itu kini telah dipagar keliling kawat duri. Di tengahnya telah dibuat drainase besar, membelah jalanan poros Rante-rumah orang tuaku. Di depannya dituliskan “Lapangan Menembak Kodim 1403 Swg”. Konon disini dulu adalah lokasi SD Matekko, yang akhirnya dipindahkan ke Lemo Lemo, lokasi yang sangat dekat dengan sebuah tempat hiburan malam. Namun seingatku, lapangan tembak ini adalah proyek waktu Porda 2002 lalu. Drainase besar itu menuju Sungai Andoli, sungai yang tepat mengalir di belakang rumahku. Dulu, diawal tahun 1990-an, sungai ini merupakan sumber air bersih kami. Walaupun kadang dipakai sebagai jamban pula oleh kawan-kawan kecil saya, diare tidak begitu intens menyerang. Untuk mandi dan cuci pula, kami disitu. Satu-satunya orang yang saya akui paling getol menjaga kebersihan sungai itu adalah Tante Lija, seorang buruh cuci pakaian. Dia tidak segan meneriaki, memaki bahkan menimpuk kami batu, jika kedapatan membuang sampah (termasuk tinja bocah-bocah kebelet). Entah dimana tante Lija sekarang. Seandainya ada, mungkin dia bisa ikut nominasi Kalpataru.

 

Berita yang kubaca di koran adalah mengenai investor Asia Timur yang bakal mengeksplorasi bijih besi di hulu Sungai Andoli. Seketika, harapku berkata jangan. Bagaimana nasib Andoli masa depan. Dia akan kehilangan air mata untuk menangis. Saya tahu, sekarang dia terus menangis. Hingga di kemarau, air matanya bahkan nyaris kering. Tubuhnya kini penuh noda. Tak bisa dihilangkan, bahkan dengan mandi junub sekalipun. Segala noda telah lengket di wajahnya. Saya ingat, perubahannya dimulai ketika sebuah developer meratakan tanah di sebelah utara Andoli. Menjadi hamparan, yang dipetak untuk digalikan fondasi. Kemudian dipasangkan beribu batu kali dan batu bata. Akhirnya atap warna merahnya, yang berjejer rapi, walaupun dalam ukuran mungil, menyombongkan keangkuhan. Terlebih ketika mulai dihuni makhluk-makhluk sejenisku, manusia khilaf. Tidak bisa ditolak, limbahnyapun akhirnya menodai Andoli. Lebih sadis, kejam dan menjijikan dari sekadar tinja kami, anak-anak mungil tanpa dosa, kala itu.

 

Akhirnya semua tersadar, ketika Andoli geram. Menggerus nyaris ke bilik rumah mereka. Meruntuhkan semua batu-batu yang tersusun alami sepanjang sisi Andoli. Dan tiga hari setelahnya, ketua RW menggotong dan meroyong perbaikan sisi utara Andoli. Orangtuaku geram. Adu mulut terjadi. Merasa tidak diadili, karena mengeksploitasi Andoli secara sepihak. Dan sebulan kemudian, pemerintah menengahi, membuatkan pasangan batu berkawat di sisi Andoli. Sayang, sisi rumahku tidak kebagian. Orientasinya memang untuk orang-orang utara itu.

 

Sisi utara Andoli juga banyak kenangannya bagi saya. Dulu, di sana ada pohon kemiri besar. Tempat kami mencari biji-bijinya untuk rempah dapur ibu, dan pula mainan seru zaman kanak-kanak kami. Tak ada lagi kini kemiri angker itu. Kini, satu persatu bagian tubuh Andoli renta. Jangan perparah lagi dengan mengambil besinya. Di hulu ada Batupapan, tempat rekreasi kami. Tempat kami berseluncur air sampai celana robek sobek, makan nasi kuning ayam sebelum ramadhan menyapa, dan tempat beberapa cinta pertama kawan-kawan terpatrikan. Jika besinya diambil, hilanglah semua bukti cinta mereka. Di atas Batupapan, ada air terjun setinggi 3 meter, dan hiasan eksotisnya adalah pelangi warna-warni. Cerita kanak-kanak kami, di pelangi air terjun itu banyak bidadari. Jika mesin-mesin alat berat bekerja di sekitarnya, pasti akan mengganggu kenyamanan bidadari-bidadari rupawan itu.

 

Andoli memberi nafas bagi Balandai. Ia menjadi saksi ketika To Ije menghadang tentara tri warna di muaranya. Patriot angkatan Andi Tadda ini sampai syahid di sekitar muara Andoli. Saya yakin, To Ije tak ingin dijajah dua kali. Kini yang datang Bangsa Asia Timur si kulit kuning, bakal menggusur makam-makam temannya di hulu Andoli sana, bakal mengambil (dengan imbalan yang tidak begitu signifikan) besi kampung halaman To Ije. Saya yakin, sekali lagi To Ije tidak sepaham ide itu, dan saya mendengar kekecewaannya hari ini. Sebagaimana kecewanya ia, karena kehilangan nama besarnya di papan nama jalan menuju Palopo out ring road di kampungnya sendiri itu. Untunglah ia kini sudah syahid, sehingga tangisnya tidak kulihat dengan mata bugil. Jika kulihat langsung, pasti air mata inipun meleleh.

 

Sore itu, ketika teh hangat yang menemani saya membaca Koran hampir habis, hujan turun. Perlahan hanya rintik, hingga hujannya cukup deras. Kudengar cakupannya dimulai dari Teluk Bone. Muara Andoli pasti menyambutnya girang. Alhamdulillah, Andoli bakal senang. Teman-temannya di hulu bakal dapat nutrisi sore ini. Demikian pula, saya bersyukur, tiap rintiknya saya rasakan ada bidadari yang membawanya. Ingin rasanya mengguyur kepala yang sedari tadi penat ini di air terjun Batupapan. Di sana pasti ada banyak bidadari yang reunian, yang bermain di antara warna-warni pelangi. Kuharap jika sampai di sana, tak ada yang bakal mengganggu pergumulan kami. Mudahan hanya suara burung-burung hutan yang seksi saja, dan wangi khas tanah, yang basah oleh rintik hujan yang jatuh setelah ditadah dedaunan. Semoga saja, keindahannya masih seperti dulu. Sehingga anak cucuku esok hari dapat pula memuja pesona kampung buyutnya ini, sebuah Andoli di Kampung Balandai. Kuaminkan ya Allah!

 

One thought on “Andoli, Riwayatmu Nanti…

  1. wah, bagus sekali kata2nya…Saya sangat memahami yg Anda rasakan. Hidup ini memang seperti itu, kejam dan menghantam bagi siapa saja yg merasa dihantam & dikejami. Mungkin Orang Andoli Lama juga merasa kecewa bahwa pohon durian miliknya diratakan dgn tanah dan digantikan dgn pohon kemiri yg Anda pakai untuk rempah ibu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s