Pak Imam

img00248.jpg

 

Baru-baru hujan turun. Cukup sejuk sekarang. Tadi siang sampe sore agak panas. Rumahku agak ramai. Mungkin karena anak-anak kost di samping rumah sudah pada balik. Mirip eksekutif muda saja mereka. Weekend keluar kota, balik minggu malam. Hehehe…

 

Jumat lalu saya tidak ngantor. Cukup untuk menggambarkan bagaimana lazyholic-ku bekerja dengan baik. Tapi untuk kasus ini bukan karena penyakit menular itu. Jumat siang saya harus ujian final semester. Biasalah untuk makhluk-makhluk dwiprofesi seperti saya ini. Ngantor sambil kuliah, atau kuliah sambil ngantor. Maunya sih, saya kategori yang kedua. Tapi biarlah, yang penting dapat dua-duanya, duit dan gelar sarjana! Hehehe…J


Tidak ngantor hari jumat, berarti tidak jumatan di masjid puncak. Saya senang jumatan di masjid itu. Masjid paling barat di kota Palopo. Tenang, sejuk dan yang pasti khutbahnya tidak kepanjangan J. Gak kepanjangan karena yang bawakan pasti Pak Dakli, imam masjid Puncak. Umurnya mungkin sudah 60 tahun. Awalnya saya panggil dia uztaz. Tapi belakangan saya panggil dia Pak Imam. Orang-orang juga manggilnya demikian. Bukan mau ikut-ikutan, tapi kayaknya dia risih dipanggil uztaz sama saya.

Pak Imam Dakli bukan lulusan PMDS Palopo atawa Pesantren Gontor. Kayaknya dia juga tidak tamat SMP-SMA deh. Yang menarik dari pak imam karena tiap jumat ia harus menjadi khatib di masjid puncak. Kurang kader katanya (padahal saya tahu, tidak ada muballig yang mau khutbah disana, karena kejauhan dan mungkin isi amplopnya gak sebanding). Bisa dipastikan, khutbah pak imam pasti dari buku kumpulan khutbah jumat. Rentetan kalimat dari buku kumpulan khutbah itu, dibacanya dengan Dakli’s Style. Khas sekali. Bisalah menyimpulkan bahwa memang, pak imam tidak terlalu piawai dalam public speaking. Intonasinya datar, hambar dan tersendat-sendat (walaupun kalau bahasa tae’ dia lancar sekali). Namun, orang-orang maklum. Saya pun demikian. Tapi, ada satu hal yang menarik adalah, pak imam sangat ikhlas melakukannya. Mungkin hampir setengah umurnya sudah diabdikan untuk masjid puncak. Mengagumkan! Walaupun katanya, dia tidak khatam quran, tapi kecintaannya terhadap masjid bisa dibuktikan deh. Dia tinggal tepat di depan masjid. Rumahnya sederhana. Tapi masih mampu nampung anak-anak dan cucunya. Memang, pak imam adalah orang yang sederhana. Santun, walaupun sama anak dan cucunya agak ‘militerisme’. Suka senyum, pertanda hati yang selalu bersyukur. Smile inspiring!

 

Pagi hingga sore tadi saya ikut final. Agak capek juga. Tapi ponakan yang lucu-lucu cukup menghibur juga tadi. Capek hilang, yang ada sekarang ngantuk. Cerita pak imam udahan dulu. Besok-besok, saya mau cerita pak imam yang lainnya. Imam dekat rumah. Yang baca gak usah protes. Ok, mari bobo!

 

Palopo, 3 Februari 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s