Malpraktik Demokrasi dan ‘Simbole’ Pilkada

Sebagai perwujudan demokrasi, pemilu-pemiluan yang kita gelar, mulai dari pemilu kades, bupati/walikota, gubernur dan presiden; intinya adalah melaksanakan kedaulatan rakyat dan menghasilkan pemimpin-pemimpin masyarakat. Sederhana? Mungkin, tapi sebagian orang juga melihat hal tersebut jauh lebih luas kajiannya. Konon, demokrasi adalah jalan untuk menyejahterahkan rakyat. Logikanya mungkin seperti ini: Demokrasi>lakukan pemilu>menghasilkan pemimpin baru>pemimpin baru berprogram>merealisasikan janji/programnya>kebutuhan rakyat terpenuhi>rakyat sejahtera. Namun, secara pribadi, saya ingin menambahkan bahwa, satu hal yang kerap menjadi output demokrasi (khususnya dalam konteks pemilu-pemiluan) adalah ‘bombe-bombe’ culture (budaya saling benci).

Mau bukti? Siapa yang membantah, kalau saat ini, Megawati dan SBY gak pernah lagi telpon-telponan?. Demikian pula SYL dan Amin Syam, akhirnya baku bombe pasca Pilgub lalu. Dan yang lebih parah, para pendukung calon-calon pemimpin kita yang di garda depan, acap kali bentrok. Jadi, tampaknya kita memang telah malpraktik demokrasi. Akibatnya, logika demokrasi yang bermuara di kesejahteraan masyarakat di atas tadi, belum juga terwujud.

Beberapa waktu lalu, kakak saya membeli durian enam talaja dari Pasar. Sayangnya, keenam-enamnya semua isinya tidak enak. Tampaknya hasil karbitan. Jadi, sang kakak akhirnya meramu durian-durian itu menjadi simbole durian, agar bisa dinikmati (walaupun tadi kami ogah untuk mencicipi). Hasilnya, setelah dicampur santan, gula dan air, durian itu menjadi enak, walaupun sekarang bukan pure buah durian lagi (karena sudah ditambah bahan-bahan lain).

Nah, saudara, sejatinya calon-calon yang kecewa (atau kata ekstrimnya: kalah) dalam pilkada atau pemilu, harus paham tentang filsafat simbole. Simbole, secara pribadi saya sebut sebagai makanan orang-orang kecewa. Dia menjadi second plan ketika orang-orang kecewa dengan buah durian yang telah dibelinya. Namun, second plan ini ternyata masih bisa diandalkan. Merubah bentuk, rasa dan packaging yang baru, yang ternyata memberikan sensasi baru, cita rasa baru, pengalaman baru dan kepuasan baru. Kalau dalam kompetisi pemilu kita gagal jadi presiden, ada baiknya melakukan second plan sebagai negarawan yang bijaksana, yang selalu memberikan alternative solusi bagi bangsa. Harapannya, dengan melakukan second plan atau filasafat simbole ini, kita akan lebih berwibawa. Beda dengan melakukan oposisi yang cenderung doyan mengkritik tanpa solusi jelas. Oposisi memang penting, tapi harus dilakukan dengan elegan.

Demikian pula dengan pasangan cagub/wagub pasca pilgub. Hari ini, Sayang dilantik. Amin Syam, saya tahu, pasti tidak bakalan hadir di pelantikan itu. Kecewa dan (mungkin) bawaan ‘bombe-bombe’ culture. Akhirnya, dia (mungkin) milih buat acara simbole saja di Luwu. Mudahan saja, simbole-nya tambah enak, dan filsafatnya dapat ditangkap. Simbole memang diciptakan untuk orang-orang kecewa. Termasuk orang-orang yang kecewa terhadap output-output demokrasi. Semoga saja, malpraktik demokrasi kita hanya untuk orang-orang tertentu saja. Anda pasti tahulah, siapa yang melakukan malpraktik politik. Iya, para politikus busuk itu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s