Cyber City: Merancang Wajah Baru Palopo

Satu dekade ini, tak ada yang bisa membantah bahwa Palopo telah mengalami evolusi. Perubahan demi perubahan terjadi, mulai dari mafia papporo’ yang berubah menjadi JTC (Jamaah Tabligh Community), se’meng city yang berevolusi menjadi Kota Adipura, lalu crowded city yang bertransisi menjadi healthy city. Dan yang menarik di awal tahun 2008 ini adalah, Palopo bakal jadi cyber city!.

Konsep cyber city atau kota cyber, sebenarnya telah pula dirintis oleh Makassar setahun lalu. Konsep ini digambarkan oleh pemerintah sebagai konsep kawasan dengan infrastruktur teknologi informasi memadai, baik dari sisi konektivitas jaringan terpadu, kapasitas bandwidth, internet nirkabel dan kabel, dan infrastruktur serat optik mencukupi serta sarana pusat riset yang dikelola bersama perguruan tinggi dan swasta. Dalam kota cyber tersebut akan bertemu penyedia infrastruktur teknologi informasi atau aplikasi dengan pembeli dari berbagai segmen dan bidang industri. Atau secara sederhana, core idea dari cyber city adalah kota yang terintegrasi melalui fasilitas berjaringan dalam rangka aksesisibiltas masyarakat yang lebih optimal.

Banyak hal positif dari konsep ini. Transparansi dan partisipasi public sebagai teori good governance, dapat lebih dioptimalkan. Hal ini disebabkan karena di dalam sebuah cyber city, akan pula dilaksanakan e-government yang nantinya membuka akses akan transparansi pengelolaan pemerintahan. Pembuatan KTP, konon pula dapat dilakukan secara online. Demikian pula perizinan-perizinan lain, serta sector pendidikan. Dengan adanya fasilitas berjaringan, peran pegawai perizinan dan guru (mungkin) akan bakal tereduksi. Peran mereka perlahan akan digantikan dengan e-government.Dan ujung-ujungnya, tentu adalah efisiensi birokrasi.

Master Plan

Pada hakikatnya, menjadikan Palopo cyber city adalah sesuatu keniscayaan, dalam pengertian bahwa, mau tidak mau, cepat atau lambat, pasti kota ini akan menuju kesana. Tak bisa disangkal, internet di masa depan akan menjadi kebutuhan primer masyarakat. Olehnya itu, dalam melaksanakan goal Palopo Cyber City (PCC), diperlukan master plan yang terstruktur.

Pembangunan infrastruktur free hotspot di Lagota merupakan langkah awal yang cukup baik. Untuk memulainya memang diperlukan suatu monument. Ibaratnya membangun Islamic Center, acara peletakan batu pertamanya adalah dengan pembukaan free hotspot ni. Dengan demikian, paling tidak ada pengenalan mengenai internet, atau secara umum, hal ini mengomunikasikan niatan dan kesiapan kita menuju cyber city.

Selanjutnya, yang diperlukan adalah mengedukasi khalayak akan urgensi internet, baik dalam kehidupan saat ini, maupun di masa yang akan datang. Dalam konteks ini, pengenalan dasar tentang browsing, chatting, e-mail dan konsep dasar internetan lainnya haruslan dimantapkan. Disadari bahwa, pengguna internet di Indonesia dan khususnya di Palopo, memang masih mengkhawatirkan.

Tantangan berat dalam program Palopo Cyber City sebenarnya hanya terletak pada edukasi dan capital. Dalam konteks edukasi, sulit untuk merubah pandangan konservatif masyarakat. Saat ini, kaum tua cenderung menjustifikasi internet sebagai media perusak moral. Dampaknya, ada kecemasan moral untuk membumikan internet ke generasi muda. Sehingga, target yang sejatinya diutamakan adalah mengedukasi kaum tua konservatif, yang secara moral dan pengetahuan, belum mampu menyerap perubahan mutakhir dalam teknologi. Kaum muda, cenderung lebih mudah untuk diarahkan. Tentu dengan pendekan pendidikan formal di sekolah, yang orientasinya adalah e-edu.

Olehnya itu, edukasi ini, menjadi keniscayaan untuk sukses. Sehingga kita mampu untuk melangkah ke planning selanjutnya (dalam rangka mencapai goal PCC tadi). Indikator keberhasilan dari edukasi ini dapat dilihat dari traffic ataupun jumlah user. Dengan adanya tren peningkatan jumlah user di free hotspot, maka berarti terjadi peningkatan kemanfaatan fasilitas. Adanya peningkatan kemanfaatan fasilitas, menunjukkan kebutuhan masyarakat memang tinggi.

Di samping itu, indicator lain yang bisa digunakan untuk menilai keberhasilan edukasi ini adalah dengan terbentuknya komunitas netters, blogger atau chatter secara mandiri dan luas. Dengan adanya komunitas-komunitas ini, dengan sendirinya nanti akan ditemui kegiatan-kegiatan litbang terhadap eksistensi PCC. Olehnya itu pula, perlu menjadi perhatian untuk menggandeng komunitas-komunitas ini dalam rangka mengedukasi masyarakat.

Pada saatnya, ketika masyarakat Palopo secara holistic telah melek internet, maka e-government dapat dieksekusi. Pengelolaan kepemerintahan dilakukan secara terintegrasi dengan dinas, badan atau kantor satu dengan yang lainnya. Diharapkan, dari aplikasi ini, terjadi sinkronisasi kegiatan (karena terjadi koordinasi integral); terjadi efektifitas waktu (karena korespondesi dilakukan via email); serta efisiensi anggaran (karena SDM dapat dioptimalkan dan dokumen-dokumen dapat digantikan dengan database). Perizinan KPTSP dapat dilakukan secara online. Retribusi dan pembiayaan lainnya dapat terkoneksi langsung dengan rekening bank masyarakat yang bersangkutan. Semua terasa mudah dan praktis.

Eksternalitas

Di samping memberikan hal positif terhadap kemajuan pengetahuan masyarakat, hal yang perlu pula diperhatikan dari konsep cyber city kelak adalah tumbuhnya generasi yang saya sebut sebagai pengidap e-holic syndrome (ketergantungan terhadap teknologi elektronik). Masyarakat kita akan semakin dimanjakan dengan teknologi (terutama yang bernergi utama listrik), sehingga pada titik tertentu, di mana terjadi krisis energy listrik, kita akan merasa begitu sulit untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, rumah maupun urusan-urusan social tanpa bantuan teknologi. Demikian pula kelak, masyarakat kita bakal banyak yang hanya menghabiskan waktunya di depan computer dan kurang bersosialisasi dengan kawan, tetangga maupun keluarga. Sehingga, pada akhirnya adalah adanya ancaman perubahan budaya masyarakat.

Saya ingat, ketika program ini digelontorkan februari lalu, ada sikap skeptic dari seorang pembaca Koran local. Dia melakukan satire bahwa, program ini terlalu bombastis padahal cakupan listrik untuk Palopo saja belum 100%. Memang disadari, infrastruktur pendukung PCC memang membutuhkan capital yang tidak sedikit. Namun, dampak positifnya juga tidak kecil. Sekali lagi, konsep ini mampu untuk mengefisiensikan anggaran, sehingga budget untuk investasi dan pengentasan kemiskinan dapat lebih dipacu. Yang jelas, cepat atau lambat, mau tidak mau, PCC akan menjadi keniscayaan, dan detik ini kita memulainya! Kalau bukan sekarang, kapan lagi…

2 thoughts on “Cyber City: Merancang Wajah Baru Palopo

  1. Pemerintah melalui instansi terkait harus sejak dini mensosialisasikan “Program Internet Sehat” kepada masyarakat, jgn sampai fasilitas yg disediakan malah disalah gunakan dan justru berdampak negatif bagi perkembangan sosial dan budaya masyarakat palopo. Sy sangat mendukung Palopo menjadi Kota Cyber, namun yg terpenting dari semuanya adalah usaha kita agar dapat memaksimalkan fasilitas yg diberikan utk sebesar2nya kemajuan masyarakat kota palopo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s