Doa di Hari Kartini

Dewi, sebenarnya aku memiliki perasaan yang tak dapat kuungkapkan padamu. Mungkin karena perbedaan negeri yang kau jejaki saat ini berbeda denganku. Perasaan itu Dewi, adalah perasaan yang sama, ketika aku mengagumi cinta pertamaku sewaktu SMP, sembilan tahun lalu. Naluriku sebagai lelaki menjadi-jadi ketika melihatmu. Di televisi, aku menyaksikan betapa gemulainya engkau, selentur dahan-dahan pohon karsen yang waktu kanak-kanakku, selalu kutunggui buahnya, di bukit dekat rumah orangtuaku. Dan satu yang begitu berkarakter darimu adalah serak suaramu, begitu memerdukan telingaku, ketika dangdut modernmu kau dendangkan.

Entah mengapa hari ini, Dewi, kekagumanku luntur padamu. Hanya karena membaca koran langganan orangtuaku tadi pagi. Tanggalnya dua  puluh satu April, tepat ketika Kartini lahir, engkau mengecewakanku. Dan mungkin inilah dirimu sebenarnya. Engkau janda, yang tentu dengan musabab khusus ditinggalkan suamimu. Aku tak ingin sampai menikahimu sebenarnya, kalau kau tahu. Jadi jangan begitu berbangga diri. Karena, hanya ada kekaguman lelakiku kepada eksistensimu sebagai wanita yang punya karakter. Juga karena kau punya kekuatan yang tidak dimiliki perempuan lain, ketika mereka (perempuan-perempuan itu) menyuarakan emansipasi tanpa bargaining position yang jelas. Dan engkau mampu menjawab tantangan itu. Walaupun kini caranya saya anggap keliru. Dan akhirnya mengecewakan hatiku yang telah berperasaan padamu, Dewi!

Mengapa engkau menjawab pertanyaan wartawan-wartawan itu dengan UUD (ujung-ujungnya duit), Dewi? Sontak hatiku kecewa berat. “Inilah dirimu sebenarnya!” sadarku berkata demikian. Engkau memang patut dicekal kini. Aku tak sudi pula mengikuti kisahmu lagi. Sadar atau tidak, Dewi, keberuntunganmu yang seperti buah persik di Tiongkok, sedikit-sedikit mulai tergerus. Jangan pikir, dengan heboh goyangan dan akting ciumanmu itu, bakal mengembalikan perasaanku yang telah hilang tadi. Saya sebenarnya berharap ada perubahan setelah umrohmu kemarin. Tapi sayang, doaku tidak makbul untukmu. Namun demikian, aku tak berhenti berdoa untukmu, semoga engkau mampu untuk sadar kembali ke jalan-Nya. Jalan yang mantan suamimu inginkan, saya inginkan, walikota Bandung inginkan, dan tentu orang-orang lain pun inginkan tentang itu. Kuaminkan ini untukmu, Dewi Persik, di hari Kartini ini! Kabulkan yaa Allah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s