Kelompok Ilmiah Remaja: Qualistyle Sekolah Unggulan

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah blogwalking, tanpa sadar saya mengunjungi http://hasrilpmp.wordpress.com , blog milik seorang guru saya. Seketika, saya teringat kembali tentang pengalaman mengikuti kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja bersamanya. Mengesankan sekali, dan sedikit banyak hal itulah yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang ilmuwan, atau paling kurang menjadi trainer penulisan karya ilmiah, seperti guru saya itu. Profesi yang kedua sempat sih, tapi cuma hampir tiga bulan. Yah, menjadi trainer buat adik-adik kelas waktu SMA, hehehe.

Masa-masa SMP dan SMA memang belum terlalu diorientasikan untuk melakukan penelitian. Masa tersebut, oleh program pendidikan nasional kita (kecuali sekolah kejuruan), baru difokuskan untuk meletakkan fondasi teoritis dari disiplin-disiplin ilmu. Olehnya itu, penelitian di tingkat SMP dan SMA diistilahkan sebagai penelitian ilmiah remaja. Oleh karena sifatnya masih ‘amatiran’, maka ada banyak sisi-sisi fun yang diselipkan di dalamnya. Jadi, istilah populernya: Sersan (serius tapi santai). Menjadi peneliti muda memang seru. Ada kepuasan tersendiri dalam proses penelitian. Kegiatan penelitian ilmiah remaja ini, bisa dikemas dalam bentuk perkemahan ilmiah remaja, workshop penulisan KIR (Karya Ilmiah Remaja), widya wisata ilmiah, atau dalam bentuk-bentuk lainnya.

Menjadi peneliti muda, dalam teorinya, memang memerlukan klasifikasi personal yang khusus. Paling tidak, katanya haruslah minimal masuk 5 besar juara di kelasnya. Harus punya kebiasaan membaca, mengamati, menganalisis, ini dan itu sebagainya. Namun, menurut saya, seorang peneliti remaja tidaklah sehebat klasifikasi di atas. Newton saja, seingat saya, tidak lulus sekolah dasar. Dan memang, saya (yang menjadi peneliti remaja dengan dua kali nyumbang piala jawara untuk SMA saya) waktu itu (narziz abiezz…), tidaklah masuk 5 besar di kelas. Gak perlu kacamata pantat botol untuk menandakan diri kita burenk dan patut menjadi peneliti remaja. Jadi intinya adalah seorang peneliti muda itu adalah tidak mesti somebody, dia bisa lahir dari nobody. Beberapa hal yang mungkin bisa diperhatikan adalah:

1. Yang pertama adalah kemauan. Saya dulunya ikut ekskul KIR karena tertarik dari kakak ketiga yang juga ikut KIR. Awalnya saya bilang ini kerjaan ribet, namun karena saya tertarik dan mau ikut prosesnya, akhirnya gitu deh…nyemplung!

2. Bermimpi. Waktu kelas empat sampai enam SD, saya senang baca komik seri tokoh dunia. Dari situlah, saya bermimpi dibuatkan komik pula, 50-100 tahun yang akan datang. Ya tentu, sebagai tokoh dunia yang memiliki karya nyata bagi orang banyak. Dan waktu SMP-SMA kesadaran itu datang, menurut saya menjadi peneliti mungkin bisa mewujudkan mimpi saya itu.

3. Cari pengalaman dan manfaatkan peluang. Ikut ekskul KIR memberi banyak pengalaman lebih dibanding ekskul lain. Misalnya, bisa kenalan dengan instruktur yang bergelar Dr, Ph.D. bahkan Prof (anak SMP-SMA pasti sudah bangga kalau jabat tangan sama mereka). Dan tentu, peluang untuk menggali ilmu dari mereka terbuka lebar.

4. Seru-seruan di PIR (Perkemahan Ilmiah Remaja). Dengan latar belakang yang berbeda, peserta PIR dapat lebih mengekspresikan dirinya sebagai orang yang mumpuni di bidang penelitian. Dengan begitu, bakal ada keseruan antara para peserta dalam adu argumentasi dan adu analisis. Sehingga, kegiatan penelitian remaja bisa lebih meriah. Agak ekstrim sih, tapi emang begitulah. Sejarah tentang Royal Society di Inggris juga begitu kan?

5. Pengembangan diri. Ada banyak hal yang dapat membekas dari ekskul KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Beberapa di antaranya adalah pembinaan sifat melit (ingin tahu), problem solving, integral (kekompakan tim), struktur berpikir (kepaduan ide dan analisis), responsive, keuletan, kerja keras, kejujuran, ketelitian, kesabaran dan beberapa mental-mental peneliti lainnya, yang tidak didapatkan di bangku kelas.

Oleh karena urgensi Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) ini bagi remaja (khususnya siswa SMP-SMA) cukup signifikan, maka sejatinya manajemen sekolah memberikan apresiasi bagi sektor ini. Kalau saya tidak salah, indicator sebuah sekolah dapat dikategorikan sebagai sekolah unggulan, juga dilihat dari segi seberapa bagusnya manajemen sekolah melahirkan KIR yang mumpuni. Bukan dari segi seberapa banyak prestasi atlit-atlitnya atau tim cerdas cermatnya. Apa salahnya, di acara perpisahan siswa pasca UAN, manajemen sekolah menggelar orasi ilmiah dari seorang siswa atau guru? Murah, mendidik dan lebih elegan dibanding dengan ngadain pentas modern dance dengan pakaian berbahan minim. Ya, kan?

Kata guru saya di atas tadi di blognya: “Sejak dini kita perlu melatih generasi kita melakukan penelitian. Banyak temuan yang diperoleh dari masa remaja yang mencengangkan dunia. Temuan piranti recorder oleh Thomas Alfa Edison pada usia 12 tahun menjadi contoh akurat”.

Jadi mulailah sekarang. Lupakan kata-kata iklan: Yang muda, dipandang sebelah mata! Remaja kita menyimpan berjuta potensi. Tugas kaum tua untuk memicunya. Saya sudah tua gak ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s