BBM Naik, C4P3 deh…!

Seabad kebangkitan bangsa, hadiah terbesar untuk rakyat Indonesia adalah kebangkitan harga BBM. Begitu mungkin logika Ucup Kelik di Democrazy. Bukan itu saja sih, acara di Gelora Bung Karno (yang cenderung extravaganza) juga kado untuk bangsa ini. Cukup menggugah, namun lebih banyakan hiburannya. Padahal hiburan masyarakat sudah banyak. Aming, hampir saban malam nongol di TV, tempat-tempat bermain macam Dufan udah banyak, dan yang eksklusif dikit, kupu-kupu malam lokalisasi udah gampang didapat oleh pencari hiburan malam. Kurang apalagi untuk sekadar hiburan?

Secara hitung-hitungan ekonomi, mungkin kebijakan public menaikkan BBM inilah yang terakhir (bukan terbaik) bagi pemerintah. Dan bisa ditebak, seperti di 2005 kemarin, orang melarat bakal lebih banyak. Hitung-hitungan ekonomi pemerintah, jelas sekali memperlihatkan adanya pergeseran ilmu ekonomi menjadi sebuah ilmu eksakta. Padahal, ekonomi, dari dulu hingga kapanpun, adalah terkategori di ilmu-ilmu social. Buktinya, ekonomi gak pernah nongol di Ujian Nasional anak-anak IPA. Saya anak IPA, di kelas tiga, ekonomi gak dijadwalin tuh. Sebagai ilmu social, wujudnya sejatinya akan selalu humanis. Sehingga, tatkala ekonomi tidak mewujud dalam pemanusiaan manusia secara fitrahnya, kita bisalah mempertanyakan kecenderungan ini. Manusia memang adalah homo economicus, namun di sisi lain pula adalah homo socius, yang dipahami sebagai insan yang memiliki karakter-karakter social. Dan salahsatu karakter tersebut adalah peradaban kesejahteraan. Bener gak? Kalau keliru tabe’ interupsi!

Lantas, masih bisakah hitung-hitungan ekonomi kemudian dipercaya bisa menemukan tujuan ‘kesejahteraan’ yang dicarinya, jika kemudian rekomendasi dari hitung-hitungan itu meniscayakan kenaikan BBM? Ambil nafas dulu…! Realistis saja bung, tahun 2005 lalu, sekali lagi saya tulis, orang melarat tambah banyak hanya karena BBM naik! Mungkin di 2005 kita bisa dikit mafhum bahwa, dulu itu memang supply-nya ngadat. Saya ingat kala itu ada badai Catarina,badai ini, badai itu… (lupa namanya, yaa… mirip-mirip badai Agnes Monica lah…).

Berbagai krisis yang dialami bangsa ini, telah memberikan survival training bagi rakyat kita. Hasilnya, bagi yang mampu memanage krisis ya dapat nilai bagus, namun yang bisanya cuma gitu-gitu aja ya dapat nilai merah! Namun demikian, bukan berarti pemerintah bisa permisif gitu aja terhadap kebijakannya itu. Rakyat, dengan karakter berpikirnya, memang telah terbiasa dengan krisis. Oleh karena itu, tega sekali jika krisis baru diciptakan lagi. Ya gak?

Demonstrasi yang terjadi di mana-mana membuat kita barharap-harap cemas. Jujur saja, gejala ini memperlihatkan suatu hal yang kurang baik. Tatkala rakyat kita menggugat harga pangan dan BBM, inilah embrio terbentuknya valley of death bagi suatu rezim. Menteri Perdagangan telah mengaku ‘keok’ gak bisa turunkan harga, kalau gitu menterinya aja yang diturunin! Kata Gus Pur, gitu aja kok repot! Sang menteri hanya bisa merasakan, dan pasrah. Kalau gitu sih, saya juga bisa jadi menteri!

Tadi malam, teman yang mau demo sms ke ponsel saya, katanya kita butuh revolusi. Pikirku, revolusi berpikir aje kaliee…! Kalau mau nurunin presiden, jangan dulu deh. Soalnya, itu bakal buat masalah baru. Coba pikir, siapa yang bakal jadi presiden? Kalla? Ya mungkin saja bisa, tapi apa iya ‘orang-orang sono’ pengin dipimpin Kalla. Kalau saya sih oke-oke saja. Kalla itu orangnya lincah, gak sama yang sekarang, beliau telmi (telat mikirnya…). Tapi sudahlah, saya ndak mau bahas itu. Ntar 2009 lah…

Terus, gimana selanjutnya? Sebagai insan kelurahan (ceile…), BLT bakal buat pusing saya juga ntar. Baiknya, BLT konversi saja ke pendidikan atau kesehatan gratis. Jadi, intinya BLT saya gak gitu dukung, maaf! BBM naik saja ane ndak dukung apalagi turunannya, BLT. Tapi, mungkin saya bisa pikir-pikir lagi, kalau pemerintah menyeimbangkannya dengan menaikkan gaji pegawai. Paling tidak 30%, huahahahaha… Tapi kalau mau hitung-hitungan (pakai hitungan matematika, bukan ekonomi), sama saja. Biaya transport ke kantor, jalan-jalan rutin sore saya, terus cuci mata saat malam ditambah acara weekend, sama saja, abis juga (malah minus) dan tetap bisa membuat saya tergolong orang-orang melarat! Dulu, waktu masih muda (sekarang udah tua, maksudnya bukan ABG lagi, hehehe…), dampak langsungnya memang tidak kerasa sekali. Maklum, dulu kita cuma kerjanya ngabisin duit ortu. Beda dengan sekarang, orang-orang yang memang telah merasakan sulitnya nyari uang, beban itu memang begitu berat. Jadi, intinya BBM naik lagi, ce empat pe tiga, C4P3 deh… Saya yakin, anda pula gitu, ya kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s