Republik Aneh

Aneh, betul-betul aneh republik ini. Apakah iya, Soekarno waktu baca proklamasi gak baca basmalah, sehingga hal-hal aneh kerap kali hadir menghias perjalanan bangsa ini? Aneh…

 

Aneh, mahasiswa demonstrasi menentang BBM, saya yakin ini idealisme dan bukan ditunggangi, tapi sayang ujung-ujungnya anarkis. Bingung saya lihatnya. Mungkin musabab stres dengan tugas kuliah, makanya anarkis. Jujur saja, seandainya saya masih berada di tengah teman-teman kuliah yang dulu (bukan yang sekarang), hampir 100 persen saya memastikan berada di antara mereka, ikut demo dan (mungkin) jadi oratornya. Dengan catatan misi damai tanpa kekerasan tentunya. BBM otomatis menaikkan biaya transportasi mahasiswa macam saya. Tentu ini sangat berat, apalagi saya yang doyan jalan-jalan sore sampai malam.

 

Aneh-aneh saja mahasiswa sekarang. Diberi bantuan kuliah kok malah nolak? Kalau saya, hampir pasti saya yang pertama mencari akses untuk mendapatkannya. Betul, bahwa ini adalah semacam ’suap’ SBY buat mahasiswa, tapi aliran saya hampir sama dengan Gus Dur, Gitu Aja Kok Repot, ambil duitnya lalu tetap demo kebijakannya! Ya kan?

 

Lebih bingung lagi, ada ustad yang ke-preman-preman-an atau (mungkin) preman berjubah  yang menghadiahi bogem gratis di Hari Lahir Pancasila. Jujur, saya bingung. Di satu sisi, saya nentang Ahmadiah, tapi di sisi lain, saya sekali lagi tulis: Saya anti kekerasan! Di sisi lain pula, sempat terpikir oleh saya bahwa saya malu jadi orang Islam kalau begini, atau ini malu-maluin Islam saja. Saya baru-baru saja recharge diri di ESQ dua hari lalu, tapi entah mengapa, saya geram dan betul-betul malu dengan insiden itu. Benar-benar saya bingung waktu nulis ini. Astagfirullah…astagfirullah…astagfirulah… Jadikan saya kaffah di Islam-Mu yaa Allah!

 

Memang, ini mungkin era orang-orang aneh ya? Saking anehnya, ada orang yang buat hujan uang. Pamali euy. Aneh! Tapi saya maklum karena beliau memang pakar marketing. Strategi marketing yang ’aneh-aneh’ memang lagi ngetren. Sama seperti kasus sms santet beberapa waktu lalu. Beberapa orang bilang itu strategi marketing, dan saya ikut dalam paham itu. Saya ingat zaman dukun santet dan kolor ijo kalau ada isu-isu seperti itu. Hehehe…

 

Aneh, ada oknum di bea cukai yang masih korup, padahal gajinya hampir mencapai puncak monas. Aneh, orang terkaya Asia Tenggara ada di Indonesia, sekaligus orang termiskin juga masih ber-KTP Republik ini. Yang anehnya, usaha orang terkaya itu konon nyaris bangkrut akibat lumpur panas, tapi kok malah nambah ya? Hebat bin aneh!

 

Aneh, sebegitu banyak pengamat politik sekaligus politisi di negeri ini, satupun tak mampu menciptakan situasi kondusif dengan tidak saling sikut. Aneh, sebegitu banyak anggota ISEI namun satupun tak dapat memberi solusi harga minyak. Kalau saya jadi sarjana, saya (mungkin) menambah urutan sarjana memble itu. Saya memang lagi kesal dengan salah seorang sarjana ekonomi (yang kebetulan dosen saya hehehe…), masa’ dia bilang dalam kuliah makronya bahwa pemerintah tidak melakukan investasi. Gedubrak!!!!???? Ya sudah, monggo lanjutin kuliahnya pak! J

 

Aneh, banyak mahasiswa nuntut pejabat jangan mubazir dalam anggaran, tapi tidak sedikit pula omzet ’mace-mace’ dari hasil ngerokok para mahasiswa. Baru-baru teman sms, himpunannya untuk keduakali periodenya masih dipegang angkatan mereka. Padahal, di mimbar sana, ada golongan muda yang rindu dikader. Aneh saya lihat mahasiswa-mahasiswa macam itu. Kayaknya beberapa oknumnya memang butuh di refresh atau mungkin di restart otaknya. Jujur, ini hanya kebingungan saya, tanpa ada konfirmasi dan pembelaan dari oknum-oknum itu.

 

Aneh, saya cuma bisa bisa cuap-cuap tanpa ada langkah solutif yang konkrit. Makanya, saya juga heran. Mungkin karena sindrom ke-aneh-aneh-an juga melanda saya. Buah dari kebingungan mungkin…

 

Kalau gitu, mari pejamkan mata, hirup udara segar, lalu lepaskan. Mulailah dengan basmalah dan Al Fathihah dan mulai dengan sesuatu yang normatif tetapi luar biasa. Dengarkan suara hati, karena di sana ada kebenaran! Suara hati bukan hal yang aneh-aneh, tetapi itu adalah fitrah yang kadang dibohongi oleh belenggu jiwa. Makanya kalau mau mengungkapkan perasaan (semacam demonstrasi) ya dilakukan secara elegan dan berwibawa. Kalau dapat rezeki ya bersyukur, tetapi perjuangan lain tetap dilakukan. Kalau sudah ber-Islam, sejatinya membawa rahmat, bukan kemudharatan. Kalau mau menjadi winner sejatinya dengan cara yang elegan pula, tidak berlebihan dan kekurangan. Kalau sudah kaya, baiknya tetangga miskin sebelah diberi infaq juga. Kalau sudah jadi somebody, sejatinya totalitas dan beri yang terbaik. Kalau ngucap sesuatu, ya harus dilaksanakan. Dan kalau sudah tua, ya tau diri lah. Sederhana bukan?

 

Smile TJEKANG SENJJEM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s