Cukka Ulu

Ada hal yang menarik dari kunjungan mantan presiden Megawati, beberapa waktu lalu di Palopo. Beliau mendapat gelar adat dari Kedatuan Luwu, Daengna Rumpa’ LipuE. Menarik untuk disimak, bukan berarti ada feodalisme di sana. Hal ini lebih pada luapan apresiasi dari orang Palopo, kepada seorang figur yang memiliki peran penting di negara ini. Dan apresiasi itu, secara sadar dilakukan dari pendekatan budaya. Hal serupa juga pernah dilakukan kepada tokoh nasional Amien Rais dan Akbar Tandjung.

Yang menarik adalah bahwa, penggelaran adat adalah suatu permufakatan dari para pemangku adat di Luwu. Dalam proses tersebut, dibahas mengenai gelar apa yang akan ditelle’kan kepada sang mantan presiden, dan hasilnya adalah gelaran di atas tadi. Dalam konteks marketing, hal ihwal gelar-menggelarkan biasa disebut dengan personal branding (pb). Kadang, konsep personal branding ini diadopsi pula ke dalam materi pelatihan-pelatihan human resources. Disadari bahwa, setiap individu yang masuk dalam kompetisi dunia kerja dituntut memiliki pb. Hal ini dipahami sebagai sebuah pencitraan diri seorang individu atas general description dirinya, baik dalam hal capability, eksistensi, ataupun karakternya.

Membuat personal branding, memang bukan suatu hal yang serta merta dapat langsung dieksekusi. Walaupun, ada pula yang secara instan mampu untuk membentuknya. Ada baiknya, membuat pb diawali dengan mengkaji karakter-karakter positif dari diri sendiri. Sadar akan hal itu, maka sekali lagi, pb bukanlah suatu pencitraan yang bisa langsung jatuh dari langit. Sebagai contoh, jika kita seorang mahasiswa yang kerjanya cuma memelototi buku di perpustakaan, jangan lantas mau mencitrakan diri sebagai trully student, karena dalam konteks kemahasiswaan, ada tiga fungsi disana (perubahan, kontrol sosial & cendekia). Maka, pb yang tepat bagi si mahasiswa ini adalah libraryholic. Begitu pula dengan seorang remaja, yang kerjanya cuma pacaran melulu, jangan lantas mencitrakan diri sebagai Playboy Sekolah, karena pemahaman mengenai playboy adalah gonta-ganti pacar, padahal anda adalah seorang yang setia pada pasangan. Mungkin, pb yang cocok adalah ’pencinta wanita’ kalie…?

Yang paling penting sebenarnya adalah membangun personal branding di kantor atau dalam konteks pekerjaan. Untuk meningkatkan karir, kita perlu membangun karakter-karakter positif di dalam diri. Untuk membentuk karakter-karakter tersebut, tidaklah memerlukan rahasia sukses. Kita cuma memerlukan total action yang ditopang oleh hal-hal dasar yang dilakukan secara benar. Contoh, untuk memenuhi pekerjaan proyek sebelum deadline tiba, hal dasar yang harus dilakukan adalah tidak menunda pekerjaan. Jika kita sudah tidak menunda-nunda pekerjaan, tetapi terkendala pada suatu titik, misalnya ada gangguan pada kesehatan akibat lembur, berarti hal dasar yang kita lakukan belum sepenuhnya benar. Jadi, harus ada kombinasi antara melakukan hal-hal dasar itu dengan konsep-konsep kebenaran yang lainnya. Jangan sampai, kita tidak ingin menunda pekerjaan, sehingga lembur menjadi solusi, dan akhirnya kesehatan menjadi terganggu.

Dengan melakukan hal-hal dasar secara benar, maka perlahan tapi pasti, karakter positif sebagai karyawan pasti bakal muncul dengan sendirinya. Dengan begitu, pb dapat lahir dengan sendirinya. Jika kita seorang accounting misalnya, pb dapat dilakukan dengan konsep smiling accounting, artinya accounting yang selalu senyum karena pekerjaannya dapat selesai tepat waktu. Dari sini, atasan dapat pula menilai kita sebagai orang yang memiliki kapabilitas, tanggungjawab dan visi yang jelas terhadap pekerjaan.

Personal branding memang intinya adalah mendeskripsikan tentang diri kita. Olehnya itu, harus terjadi persesuaian antara realitas dan pb. Secara tidak langsung, pb dapat membuat pigura diri, untuk selalu tetap pada visi positif kita, tanpa menghilangkan kreatifitas yang lain. Olehnya itu, gelaran To SinapatiE untuk Amien Rais, To LebbiE (kalau saya tidak salah ingat) untuk Akbar Tandjung, dan Daengna Rumpa’ LipuE untuk Megawati, sejatinya adalah pb yang mampu mencitrakan diri meraka untuk tetap ’bersinar’ di dunia mereka. Demikian pula diri kita sendiri, untuk mampu lebih ’cemerlang’, harus memiliki karakter positif yang dapat membentuk pb. Jangan sampai satupun karakter positif itu tak ada di diri kita, sehingga kitalah yang diberikan personal branding oleh orang lain. Dan sayangnya pb itu adalah Cukka UluE! Orang Palopo pasti tahulah apa maknanya…

5 thoughts on “Cukka Ulu

  1. kebetulan mampir mbak Mega di Palopo, jadi sbagai mantan presiden seharusnya diberi apresiasi. lagipula Andi Djemma jadi pahlawan nasional disaat beliau jadi presiden

  2. tidak ada ji itu daeng unsur politik sampai di berikan gelar ????????
    karena sekarang banyak orang yang mengatas namakan adat istiadat tapi sebenarnya untuk kepentingan person saja daeng😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s