Head Hunter dan Parpol Baru

Pemilu legislatif tinggal menghitung bulan. Seiring dengan itu, parpol-parpol baru muncul ibarat jamur di musim hujan, yang dibibit orang pula. Tattale’, dan begitu banyak yang tumbuh. Booming dan seakan mengulang sejarah 1999. Seperti di 1999 lalu, hunting pengurus untuk menukangi parpol di tingkat lokal pun menjadi kewajiban untuk dilakukan. Alasannya sederhana, supaya bisa ikut pemilu 2009. Dan sadar atau tidak, hal ini membuka peluang lahirnya politikus baru di daerah.

Parpol baru, mau tidak mau menjadi head hunter dalam proses ini. Head hunter dalam konteks ini adalah pengurus pusat partai (yang baru), memiliki tugas untuk mencari pimpinan partai di tingkat daerah. Ada bagusnya memang. Paling tidak pendidikan politik untuk masyarakat dapat lebih dipacu (kalau mau bicara idealis). Sistem pemilu yang ketat, mengisyaratkan head hunter untuk Parpol di tingkat lokal harus bekerja lebih keras. Bukan hal yang aneh memang, karena sejatinya harus begitu kan? Politisi harus punya kualitas. Tentu kualitas yang berorientasi positif. Dan tugas head hunter berada pada konteks ini.

Belajar dari 2004 dan 1999, keberhasilan head hunter bisa diukur dari prestasi local head yang dipilihnya. Prestasi itu ukurannya cuma satu, yaitu seberapa besar beliau mendulang suara untuk tingkat di atasnya. Sayangnya, local head partai-partai baru pada 1999 dan 2004, hanya bermain di tingkat lokal. Dalam artian, mereka cuma lebih concern untuk menggarap kesuksesan di tingkat lokal, tanpa mau ambil pusing pada tataran pusat maupun tingkat satu (baca: propinsi). Akibatnya, ada partai yang sukses mendudukkan seorang legislator di tingkat kabupaten/kota, tetapi di tingkat pusat dan propinsi satu pun kader partai tersebut tak ada.

Lantas kita bisa bertanya, fenomena apakah ini? Ada tiga hal yang mungkin bisa kita cermati dalam gejala ini. Yang pertama adalah tentang ideologi partai. Partai-partai baru, saat ini lahir karena dibidani oleh ’kelompok sakit hati’ dari partai-partai besar. Oleh karena tokohnya adalah 4L (lu lagi, lu lagi), maka ideologi partai baru yang bersangkutan, masihlah merupakan salin-tempel (copy-paste) dari parpol induknya. Alamat ini parpol wajah baru dan membawa perubahan dari induknya, bisalah dicermati dari pengalaman 2004, seberapa berhasilkah parpol baru membawa perubahan dari induknya. Ideologi nyaris sama, dan sayangnya kinerjanya pun hampir mirip. Parah bukan?

Fenomena kedua adalah adanya management mistake di semua tingkat. Hal ini bisa dilihat dari kurangnya profesionalisme para head level (HL), baik pusat, propinsi dan kabupaten/kota. Pusat tidak mampu membuat sebuah mekanisme kerja sukses untuk mencapai tujuan partai. Sehingga, pusat maunya begitu, daerah inginnya begini. Pusat mengatakan ini, daerah mengeksekusi itu. Jadi ada disharmonisasi di setiap level. Parahnya, hal ini disebabkan oleh belum matangnya political skill para HL beserta turunannya. Apakah ini alamat head hunter gagal melakukan perannya? May be yes, may be no. Karena di satu sisi pula, kembali ke realitas awal, politisi tingkat lokal banyak yang sukses di daerah ‘jajahannya’, tanpa menyukseskan tingkat di atasnya. Padahal, kerja parpol adalah kerja kolektif, bukan? Semua ujung tombaknya adalah pengurus di tingkat daerah.

Fenomena yang kedua adalah profit taking di tingkat daerah. Fenomena di daerah sukses dan di pusat pacce, bisa jadi karena pengurus daerah bermental profit taking (mengambil keuntungan). Parpol hanya dijadikan sebagai jembatan untuk sukses sendiri, tanpa mau loyal kepada lembaganya. Inilah yang mungkin pula bisa dikategorikan dalam anugerah ’politikus busuk award’. Jadi, head hunter harus jeli melihat kemungkinan ini.

Lantas, hal-hal lain apa yang sejatinya dicermati oleh head hunter? Banyak hal memang, tetapi beberapa di antaranya adalah:

Pertama, rekam jejak (track record) calon HL. Bisa jadi calon HL yang bersangkutan pengalaman di ’hotel prodeo’, yang masyarakat belum mampu menerima beliau secara utuh sebagai manusia ’normal’. Atau mantan (ataupun calon) koruptor, yang orang masih benci sama beliau. Atau dia bekas pengurus parpol lain yang siap hijrah ke parpol anda? Dua kategori pertama di atas, bisa jadi adalah hijab yang akan menurunkan derajat parpol anda. Tetapi kategori yang terakhir disebutkan, mungkin bisa jadi sebuah kekuatan lain untuk parpol anda. Alasannya yang pertama, dia lebih memiliki pengalaman berpartai (walaupun kualitasnya belum tentu baik), dan alasan yang kedua adalah paling tidak dia telah memiliki basis massa pasca pemilu 2004 lalu (walaupun belum tentu banyak).

Kedua, kemampuan komunikasi atau presentasi yang mumpuni. Head hunter harus jeli melihat potensi ini. Jangan sampai sang target adalah orang yang malu-malu kucing tapi mau. Atau nafsu gede tenaga kurang. Cuma bisa memikirkan tanpa bisa melakukan. Intinya adalah berpolitik (khususnya pengaruh-memengaruhi) dalam pemilu adalah selling not telling. Seorang HL disyaratkan memiliki potensi ini. HL harus mampu mengomunikasikan parpolnya, memastikan mampu meraih suara dan menyukseskan parpol. Dan hal itu, tergantung cara HL melakukan komunikasi dan presentasi.

Ketiga, memiliki jaringan luas. Baik itu di lingkup politik maupun lingkungan non politik. Relasi dan jaringan otomatis perlu dalam hal proses politik. Olehnya itu, head hunter sejatinya mencari ’anak gaul’ agar parpol barunya lebih dapat tumbuh di masyarakat.

Pemilu ibaratnya ’pasar malam’ lima tahunan bagi republik ini. Sadar akan hal itu, head hunter untuk pengurus parpol daerah telah siap (bahkan telah) melakukan operasinya. Hasil kesuksesannya tentu bukan hari ini dievaluasi, tetapi pasca pemilu 2009 (legislatif dan pilpres) berlangsung. Jadi, bisa jadi pengalaman 1999 dan 2004 kembali membentuk siklus GL Kuadrat lima tahunannya. Gagal lagi, gagal lagi. Dan kalau memang demikian, bisa dipastikan negasinya adalah formula BPBL, bikin parpol baru lagi! Setuju? Kacau…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s