Obama ala Indonesia

Awalnya, saya tidak tahu daya tarik apa yang ada dibalik diri Barack Hussein Obama sehingga dia nekat maju nyapres di negara paman Sam. Kulit blacky, nama agak ke-muslim-musliman, pernah tinggal di Jakarta, dan belum berpengalaman di eksekutif. Apa iya, dia mampu nantinya? Mungkin, karena rasa penasaran itulah sehingga pada medio November tahun lalu, saya serta merta membeli buku karya Anwar Holid, di toko buku langganan saya. Setidaknya, dari buku itu, pengetahuan saya tentang Obama bisalah sedikit lebih dalam memahami pribadi beliau. Ketimbang berita-berita koran, buku itu lebih komprehensif.

Hari ini, Kompas menurunkan opini seorang bule tentang Obama dan Reformasi Indonesia. Menarik sekali, si bule yakin lima tahun mendatang ada Obama ala Indonesia yang secara mendadak bakal muncul. Sepintas, saya ingat Lia Eden kalau bicara tokoh-tokoh dadakan. Anda, masih ingat juga kan? Sekarang dia dimana ya? Sudahlah, saya mau ngomong soal Obama kini.

Optimis sekali bule itu ya? Awalnya saya juga sangsi. Ada beberapa hal yang mereferensikan anggapan keraguan saya itu. Yang pertama, mahasiswa kita demo-nya anarkis-anarkis jek! Saya kok prihatin lihatnya. Okelah kalau itu sekadar untuk menghangatkan isu, tapi kok akhir-akhir ini pada lesu ya? Kayak ejakulasi dini aja! Tahan ngedemo atau unjuk protes gak hampir sebulan. Tapi maklumlah, akhir-akhir ini kan lagi final semester, bukan?

Alasan yang kedua, Front Pembela Islam yang mayoritas anggotanya kaum muda enerjik, jujur, dan idealis, juga ikut-ikutan anarkis. Sekali lagi, saya kok tidak begitu setuju ya dengan anarkisme. Dan alasan ketiga, tokoh reformasi kita kayak lepas tangan dari bangsa ini. Mahasiswa-mahasiswa angkatan 1998, manakah engkau?

Entah inspirasi apa yang kemudian membuat saya sejalan dengan opini si bule tadi. Saya optimis pula, Obama ala Indonesia juga bakal muncul lima tahun mendatang! Siapa beliau? Entahlah, tapi pemilu 2009 tampaknya akan menjadi gerbang selamat datang untuk beliau. Mungkin mirip-mirip Obama, yang meniti karir politiknya waktu pencalonan John Kerry lalu. Beberapa pikiran praktis saya mengatakan (ceile…), di antara ketiga pesimisme di atas tadi, sebenarnya ada potensi luar biasa di sana. Makanya, saya juga tidak setuju untuk membubarkan FPI. Saya juga setuju untuk memberi mahasiswa BKM, tetapi sikap kritis harus tetap jalan. Juga, saya yakin, tokoh gerakan muda 1998, di antara kebisuan mereka, ternyata lagi buat suatu ‘strategi kebijaksanaan’ melakukan reformasi jilid dua. Saya yakin, untuk mengubah mental bangsa ini (yang cenderung dirusaki oleh kaum tua), harus ada pemotongan generasi. Dan tentu, kaum muda-lah yang harus mengambil alih semua ini. Di balik semua ketidak jujuran, ketidak adilan dan ketidak pedulian, saya kok optimis anak muda mampu membalik itu semua.

Saya ingat seorang teman (mungkin kenalan) beberapa hari lalu di kantor, sewaktu menasehati saya agar membatalkan permohonan pindah ke kantor lain. Dia memberikan gambaran betapa sulitnya bersaing dengan orang-orang kota jika saya hijrah. Saya tidak menanggapi karena nanti terkesan melawan (soalnya beliau lebih tua), tapi dalam hati saya menggerutu. Saya berujar dalam hati: ”Saya orang muda pak, alumni doktrin senior FT Unhas, No Time for Looser, bagi saya hanya pecundang yang tak berani berkompetisi. Perihal nanti tantangannya begitu berat, itulah warnanya. Seseorang tak akan menang jika tak bertarung. Lagipula, saya kok yakin budaya birokrasi ke depannya akan lebih elegan!”

Ujaran hati itu, bisa jadi karena akhir-akhir ini pula saya termasuk Obama mania. Mungkin akibat filsafat (kalau saya mau sebut itu filsafat) The Audacity of Hope. Saya lebih berani berharap. Berharap dan yakin bahwa akan ada cahaya lebih terang setelah malam yang berpurnama. Akan ada kondisi lebih baik dari yang baik, yang baik dari yang cukup, dan yang cukup dari yang kurang. Lihat saja sekarang, film-film nasional kita. Dulu adanya cuma tusuk jelangkung, kuntilanak, suster ngesot dan sejenisnya, tapi sekarang sudah ada Nagabonar, Ayat-ayat Cinta, dan yang up to date Mengaku Rasul. Ada tren perubahan kualitas di negeri ini, bukan?

Obama memang bukan segalanya. Dia juga sempat nge-drugs, dia pendukung Israel, yang saya muak lihat tingkahnya bagi rakyat Palestine, istrinya juga gak cantik-cantik amat, dan jenis rambut kecil anehnya seakan mengganggu pemandangan. Saya juga agak ragu terhadap komitmennya kepada Indonesia. Tapi dari sekian positif-negatif serta optimis-pesimisme itu, ada sisi di mana kita bisa bercermin dari fenomena Obama hari ini. Yang muda-yang dipandang sebelah mata, bisa jadi negasinya adalah fenomena Obama ini. Kayaknya, Indonesia rindu orang seperti beliau. Dan 2009 tampaknya baru memulai menjawab kerinduan itu. Apakah anda setuju?

8 thoughts on “Obama ala Indonesia

  1. Tulisannya bagus om🙂
    saya juga setuju kalo tren birokrasi ke depan akan lebih elegan, kita semua harus optimis.
    Btw, baru pindahan ya om?🙂
    salam kenal..

  2. mantap ko sappo…!!
    tapi satu yang saya disagree, soal pembubaran FPI…pmbubran mrupakan lngkah tegas…
    Anarkisme FPI dalam pndngan sy merupakan peniru sikap kolot rezim orde baru yg m’gunakn kekerasan trhdp perbedaan pndapat, so potensi dari pmuda dlm FPI tidak lebih hanya grombolan preman bersorban…
    btw. kpn ko pndah,sappo?

  3. @ Gelandangan: wah… saya juga lagi cari juga tuh! Tapi tidak tertutup kemungkinan Gelandangan juga bisa jd Si Ahmad ala Indonesia, bukan?🙂

    @ RIDWAN: saya masih percaya sama FPI…
    pindah..? sy tidak bisa jawab…😀

  4. @ gazalba: trimakasih atas apreciatex.
    sy sdh kunjungi blog anda, syangx ndak bs post comment…🙂
    btw, kluargaq sama etta Nursyam? sory sotta ka’… -:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s