Ada Apa Dengan Pendidikan Gratis?

Ada masalah apa sebenarnya dalam program pendidikan gratis di Palopo? Koran lokal mengabarkan sejumlah keluhan-keluhan kepsek khususnya SMA Negeri. Keluhannya antara lain dari kurangnya dana penerimaan siswa baru, dilarangnya memungut satu sen pun uang dari siswa baru, keterpaksaan mengurangi jumlah kelas unggulan, hingga membanjirnya siswa luar kota Palopo yang mendaftar di SMA-SMA Palopo.

Sebenarnya, untuk hal-hal yang menyangkut finansial, misalnya uang pendaftaran, dan tidak bolehnya memungut biaya apapun, pada dasarnya idenya memang bagus, apalagi dalam kondisi BBM lagi naik-naiknya. Saya sebenarnya dukung program gratis-gratisan ini. Olehnya itu, masalah finansial ini sebenarnya menjadi tantangan Kepsek untuk mengembangkan kreatifitas mencari sumber-sumber dana alternatif, yang halal, toyyib dan tidak melanggar perda (tapi ngomong-ngomong perdanya sudah diteken belum ya?). Dalam bentuk apakah itu? Saya pikir bisa dalam bentuk penggalangan CSR (terutama perusahaan penerbitan), kelompok sosial pendidikan maupun alumni. Memang agak gampang idenya, tapi apa iya ada yang mau secara sukarela nyumbang kiri-kanan saat-saat ini? Saya tidak jamin juga sih, tapi kan namanya usaha, lagipula ingat, masa-masa sekarang kan pre campaign era, jadi tampaknya akan banyak dana-dana sosial yang bakal digelontorkan.

Terus, tentang masalah banyaknya calon siswa baru yang masuk ke Palopo, saya pikir sah-sah saja. Malah menurut hemat saya ini tanda positif jek! Kota tujuan pendidikan telah menampakkan wujudnya, dan tentu merupakan kesuksesan para kepsek. Ya kan?

Jadi, masalah sebenarnya mungkin belum terlalu terstrukturnya program gratisan ini. Untuk sesuatu yang bersifat awal, hal itu sebenarnya wajar. Tapi kalau sampai hampir semua kepsek mengeluh, itu hal yang wajar. Apakah ini isyarat kurangnya pemasukan sekolah dari uang formulir pendaftaran hingga biaya pengadaan tanda lokasi sekolah? Wallahu a’lam. Tapi saya masih lebih kuat kepada asumsi bahwa, kepsek-kepsek kita belum bisa beradaptasi kepada kondisi yang serba gratisan ini. Solusinya, lebih banyak belajar dan gali kreatifitas. Salahsatunya, mungkin study banding ke kota gratisan lainnya?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s