Dari Pensi Sanggar Opu Dg Risadju

Wanua mappatuo naewai alena! Teriak seorang kallolo memecah keheningan setelah beberapa saat dentuman irama gendang khas Luwu jeda berbunyi. Di belakang kallolo tadi, seorang membawa payung besar, menuju pintu utama. Kelewang si kallolo dihunus, dan seorang telah berada dibawah payung besar tadi. Sebuah penghormatan tinggi terhadap orang itu, yang ternyata Kadis Parsenibud Palopo, AS Kaddiraja.

Begitulah prosesi ma’duppa, menandai pentas seni Sanggar Opu Daeng Risaju, bakal dimulai malam itu, Sabtu 19/07/08 di MCH. Prosesi ma’duppa selanjutnya dilanjutkan dengan tarian pa’duppa oleh beberapa ana’ dara. Untuk orang awam, seperti saya, tarian ini hampir sama dengan tari-tarian bosara waktu acara perpisahan sekolah. Agak membosankan.

Lagu ’rame-rame’ yang ke Maluku-malukuan, entah mengapa bisa nyelip di acara ini. Mungkin sebagai starting point yang bertujuan membangun semangat penonton. Duetnya tampaknya tidak begitu balance, si cowok lebih dominan daripada si cewek. Namun, cukup menarik juga menurut saya. Aransemennya spektakuler!🙂

Lain tari pa’duppa yang membosankan di awal tadi, lain pula tarian bunga ri tana arung. Malam itu tiga ana’ dara mengenakan baju bodo merah mementaskannya dengan baik sekali. Gerakannya begitu kental dengan ciri khas Luwu-Bugis. Bersarung, menggunakan kipas dan gerakan yang menonjolkan lentik jari yang indah. Keistimewaan tampilan tari bunga ri tana arung malam itu, sebenarnya ada pada ketika tembang ”Dimenna Luwu” menjadi iringannya. Suasana sakral begitu terasa di bagian itu. Dan saya pikir, koreografernya berhasil membangun emosi penonton. Salut saya dibuatnya. Ngomong-ngomong siapa ya koreonya?🙂

Suguhan kolaborasi nyanyian lagu Lembata Tana Luwu, lagu Cinta-nya Chrisye dan lagu Dimenna Luwu, saya pikir juga sangat sukses. Lagi-lagi aransemen yang spektakuler menjadi faktor terutama. Saya baru kali ini mendengar tembang Lembata Tana Luwu dan Dimenna Luwu dibawakan dengan begitu apik. Trio penyanyinya mampu membuat improvisasi di lagu tersebut. Tak rugi saya membayar 5000 perak untuk suguhan yang menghibur ini, apalagi plus kue bolu pula’!😀

Pertiwi menangis, itu judul teatrikal yang disuguhi setelah beberapa welcome speech yang membosankan. Saya pikir acara pote-pote di pentas ini tidak ada. Jadinya, saya berkesimpulan acaranya semi formal ternyata. Mudahan saja pote-pote pejabat tidak menjadi pembatas sifat kritis dan kreatifitas dari sang seniman.

Pertiwi menangis intinya menceritakan betapa kacaunya negeri ini. Banyak pemalas, orang bodoh, pejabat yang korup, pemimpin angkuh yang selalu meminta sesembahan seperti orang ma’badong, sampai orang yang gak punya hati. Beri kami jiwa! Itu inti tuntutannya, dan juga saya pikir adalah cerminan sebuah optimisme. Optimisme yang lahir, karena timbulnya jiwa nasionalisme yang sempat hilang. Pertiwi Menangis juga menitip nilai-nilai keikhlasan dan kesabaran menghadapi tantangan pertiwi. Pertiwi Menangis diakhiri dengan atraksi bendera yang disambut riuh tepukan penonton. Bisaji…🙂

Setelah Pertiwi Menangis, tari empat etnis selanjutnya. Lagi-lagi, kipas menjadi point of interest. Untunglah tiga pemuda Toraja memberi kesan berbeda di suguhan ini. Mereka mampu menghidupkan tariannya dengan gerakan yang lebih enerjik. Lebih baik ketimbang hanya tampilan kipas-kipasan yang sedari awal juga ada. Satu hal pula yang paling mengagumkan di pementasan tarian ini adalah lightingnya yang mampu membuat suasana spektakuler. Kayak Indonesian Idol…😀

Lakon ”Mengejar La Bombo”, juga menarik perhatian. Cerita diawali dengan titipan Tetta (seorang kakek kaya raya) tentang pembagian warisannya kepada empat orang. Padahal anaknya cuma tiga (Tenri, Sitti dan Addo). Istrinya tidak dijelaskan. Yang jelasnya, orang keempat menurut amanat Tetta di akhir hayatnya adalah setan! Inilah konfliknya karena ketiga anak Tetta ternyata mendapat tantangan mencari si setan (La Bombo). Sampai-sampai Tenri, Sitti dan Addo mengunjungi dukun hingga Kiyai. Di perjalanan mereka inilah dialog-dialog jenaka khas Palopo mengocok perut penonton. Disinilah letak kekuatan lakon ini. Jenaka dan instrumentalia yang Palopo banget. Dengar saja lagu ”Junjung Minyak” yang berungkali dinyanyikan di jeda latarnya. Mantap sekali. Sebenarnya tidak berat menemukan pemaknaan cerita ”Mengejar La Bombo”, karena ceritanya memang ringan dan orientasinya adalah kisah jenaka. Intinya adalah laksanakan amanah orang yang telah dipercayakan kepada kita. Dan ketiga anak Tetta, berhasil menemukan si setan itu.

Acara yang molor, mengakibatkan tidak efektifnya waktu. Jadi, pentas terpaksa digelar hingga larut. Saya tidak bisa menghabiskan menu Sanggar Seni Opu Daeng Risaju malam itu. Namun, apresiasi tertinggi untuk sajiannya itu, patut saya tulis di blog ini. Seperti kata kallolo di awal acara tadi, Luwu memang wanua mappatuo naewai alena, tempat hidupnya kreatifitas dan perjuangan. Hebat!

5 thoughts on “Dari Pensi Sanggar Opu Dg Risadju

  1. Tapi ada 1 yang agak ganjal, sappo…
    tarian yang bernuansa ceria penuh semangat dan warna, tapi lightingnya agak “remang-remang”…kayak “nightclub”…(mungkin pengaruh nuansa lightingnya Orisinil Cafe…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s