Wisma Sawerigading

Wisma Sawerigading

Episode Memoar KKLP STIE Muhammadiyah Palopo

Saya sadar, saya termasuk golongan penganut primordialisme. Sebuah lukisan Sultan Hasanuddin saja sontak membangkitkan rasa patriotismeku malam itu. Si Hasanuddin adalah orang Bugis-Makassar, jadi tampaknya lukisan ini berhasil saya maknai dengan baik. Paling tidak, maknanya adalah terus berjuang dan ingat kampungmu! Ingat kampung, bukankah itu sikap primordial?

Hasanuddin di Ruang Nonton Wisar

Hasanuddin di Ruang Nonton Wisar

Kalau lukisan itu terpasang hanya di dalam kelas belajar sekolah (seperti umumnya ruang-ruang kelasku waktu SD sampe SMA), mungkin saya tidak begitu ‘tallajju’. Tetapi ini beda, saya menemukannya di sebuah asrama mahasiswa. Yah, Asrama Mahasiswa Provinsi Sulawesi Selatan Wisma Sawerigading, Yogyakarta.

Wisma Sawerigading

Ini sebenarnya cerita pengalamanku waktu nginap di Wisar, 8-12 Agustus 2008. Kisahnyanya diawali ketika😀 saya ikut KKLP Angkatan XIV STIE Muhammadiyah Palopo, yang mungkin lebih tepatnya disebut study banding, study wisata dan study belanja, hehehe😀 Rombongan nginap di Wisar. Mungkin karena murah (atau gratis malah). Tapi kayaknya tidak gratis deh. Di Jawa-Bali mana ada yang gratis? BAK dan BAB saja bayar, apalagi nginap! Kata teman-teman: “Tinggal kentut dan udara bebas saja yang gak kena charge!”. Masa’ sih? Gak gitu-gitu amat kali…🙂

Wisma Sawerigading (Wisar) berlokasi di Jalan Sultan Agung No 18, Yogyakarta. Kalau dari Pakualaman, Wisar di sebelah kiri. Sebelum dapat pertigaan Bioskop Permata, ada Gedung Muhammadiyah (yang lagi direhab). Nah, Wisar ada disebelah kanan gedung itu. Di sebelah kanan Wisar berturut-turut ada Gedung BPKP jadul (kalau gak salah), ada praktek dokter gigi, juga ada Laboratorium Biologi UGM. Semuanya bangunan-bangunan tua (maklum Yogya kota eyang). Yang paling aneh di antara deretan bangunan tetangga Wisar itu, adalah praktek dokter gigi itu. Saya sempat berpikir, yang mau konsul kesitu adajiga e? Pasalnya, ya itu tadi, bangunannya terkesan angker! Kalau museum biologi ya okelah ya, tapi kalau prakter dokter gigi? Ampun DJ…

Wisma Sawerigading juga bangunan tua. Dari prasasti yang ada di ruang nonton, disitu ditulis Wisma Sawerigading 29 September 1955. Saya tidak paham apakah ini tanggal pendirian atau tanggal mulai dijadikan asrama mahasiswa. Masih dari prasasti itu, ditulis dirsemikan 27 September 2003, dengan pelopor Amin Syam, Edi Baramuli,Pengurus 2002-2003, dan Keluarga Besar Wisar. Dari prasasti itu saja, saya bisa menangkap sejarah panjang wisma ini.

Bersama Para Penghuni Wisar

Bersama Para Penghuni Wisar

Hari Ahad di Yogya, jadwal kami adalah jalan-jalan ke Borobudur, Parangtritis dan Manding. Dari obyeknya saja, apakah ini bisa dikategorikan sebagai kegiatan KKLP, atau kalau kampus lain menyebut dengan istilah KKN? Saya bisa menjawab ya, KKLP -Kuliah Kerja Lapangan Plus- plus jalan-jalan, plus belanja-belanja, plus cuci mata, dan plus ngabisin isi dompet, dan plus-plus yang lain (pijat plus-plus, masuk gak ya?). Rekan Munir sempat cerita-cerita dengan seorang penghuni asrama waktu di Parangtritis, namanya Achenx, anak Wajo. Menurut Achenx via Munir, asrama Wisar dulunya konon adalah rumah sakit pada zaman Belanda. Bangunan utama, yang terdiri dari 5 kamar dan sebuah ruang tamu, satu di antaranya konon pernah digunakan sebagai kamar mayat! Dua ruangan sebagai UGD dan ruang operasi dan dua lainnya adalah kamar rawat inap. Sedangkan ruang tamu tetap sebagai ruang publik. Makanya, pesan Achenx, jangan terlalu banyak tingkah di Wisar! Oh, itu toh intinya…

Kompleks Wisar cukup besar untuk ukuran asrama. Bangunan utama ada 5 kamar, di bagian belakang ada bangunan dua lantai dengan kamar 8 buah, samping kanan ada 2 kamar dan samping kiri ada 6 kamar. Lengkap pula dengan dapur di bagian belakang, mushalla, ruang nonton & baca koran, lapangan bulu tangkis, rangkap takraw, rangkap futsal, dan rangkap basket 3 on 3 pula! Tiap hari dapat koran Kompas dan komunikasi telepon ada, Yang menarik, ada dua sepeda ontel di ruang tamu. Seandainya sepedanya lagi fit (beliau lagi kena sindrom ban kempes), saya mau traktir dia jalan-jalan keliling Yogya. Targetnya tentu gak jauh-jauh dari Wisar: Pakualaman, Benteng Vredeburg, Keraton, Alun-alun, Malioboro, Bringharjo, atau Sarkem juga boleh😀 Kalau inget tempat itu, inget lagi dengan mas becak yang bawa saya dan seorang rekan muter-muter. Muka si mas becak itu mengingatkan saya sama … Sardi waktu di film Nagabonar Jadi Dua, mirip bos!

Di depan Wisar ada ayam goreng Bu Tini. Saya ndak sempat coba. Tapi biasanya sih, yang merek-merek ibu ini, mbak itu, pak ini, mas itu, biasanya sih bisa diandalkan. Contoh, di Palopo ada Bakso Mas Edi, enak bukan? Warkop Daeng Sija, mapappe bukan? Di depan Wisar juga ada warung coto makassar dan pisang ijo. Namun, kabar rekan-rekan yang sudah nyicipin, katanya ‘gak coto sekale…’ Katanya: “Masa’ ada coto rasanya manis?”. Ah, masa’ sih bro?

Papan Nama Wisar

Papan Nama Wisar

Tinggal di Wisar asyik juga. Suasananya Yogya banget. Ya iyyalah… emang di Yogya kan? Maksudnya, untuk atmosfir-atmosfir akademis, tempat itu cukup nyaman untuk ditempati belajar. Cukup tenang, walau banyak kendaraan lalu lalang di sepanjang Jl Sultan Agung. Cukup tenang pula, jika anak-anak –sensor– gak nyerang wisma ini. Beberapa huruf di plat nama depan wisma copot, mungkin musabab kejadian nahas itu ya? Tapi konon, info dari rekan Rahmat pasca bincang-bincang dengan salah seorang penghuni asrama, akan ada rencana baru. Katanya: “Insyaallah setelah adik-adik pulang, kami akan melakukan aksi”. Ha…? Sudahmi, mahasiswa ko itue…!

Penghuni Wisar + Dosenku

Penghuni Wisar + Dosenku

Nginap di Wisar memang berkesan. Penghuni-penghuninya sangat welcome dan friendly (walau saya sempat minjam helmnya kelewatan waktu, sorry kuadrat bro!). Nandingin main badminton, mereka kalah. Saya tahu, itu sudah disetting sedemikian rupa agar memberi kemenangan kepada tamu. Yah, seperti game-game para pejabat yang diberi kemenangan dari bawahannya. Tapi, saya maklum, ini bentuk apresiasi kepada rombonganku. Dan saya juga apreciate. Intinya, saya puas di Wisar. Diam-diam saya punya keinginan untuk balik lagi ke tempat itu. Untuk kuliah mungkin di Yogya. Mudahan saja. Mudahan ketika di lain waktu saya kesitu lagi, Hasanuddin masih masih ada terpajang di tempatnya, di ruang nonton. Memberi inspirasi bagi mahasiswa-mahasiswa kita di Wisar. Bukan cuma tentang perjuangan, tapi pula inspirasi tentang kebenaran, siri’, kecendikiawanan, dan ingat kampung! Di samping Hasanuddin ada lukisan pengemis. Mungkin sugesti untuk selalu respon terhadap sekitar. Jangan extravaganza di dekat kaum papa. Mudahan, kita bisa menjadikan ini bahan kontemplasi.

Harapanku, ketika saya ke tempat itu lagi, penghuninya bukan mereka-mereka lagi, tapi berganti dengan wajah-wajah baru. Ya to?

4 thoughts on “Wisma Sawerigading

  1. Lain kali bawa helem sendiri yaaa hehehehe *bcanda* btw met puasa… aku kebetulan lagi ngeliat2 member blogfam dimulai dari Z😀 dan emang banyak juga yah member blogfam yang udah nggak aktif lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s