KM Tidar: Dari Sunset sampai Mie Celup

KM Tidar: Dari Sunset sampai Mie Celup

Episode Memoar KKLP STIE Muhammadiyah Palopo

Perlahan tapi pasti, sebuah kapal berukuran kecil membuat KM Tidar sore itu beranjak dari dermaga. Sirine isyarat keberangkatan, yang teman-teman bilang miskol canno’ 😀 sedari tadi berbunyi. Pelayaran dimulai jek! Mudahan mengasyikkan…

Ini kali kedua saya numpang Tidar, Makassar-Surabaya. Jam di ponsel menunjukkan pukul lima sore waktu Makassar. Huruf-huruf Port of Makassar, yang tertulis di kantor Pelindo, satu per satu menyatu, kabur, lalu hilang. Waktunya menikmati sunset Selat Makassar.

Karya Rekan Rahmat Amin

Karya Rekan Rahmat Amin

Sebenarnya tidak ada yang terlalu menarik waktu di kapal. Paling sunset saja. Lihat fotonya, indah bukan? Fotonya dari kamera ponsel rekan Rahmat Amin. Waktu itu, dia hampir men-delete musabab dianggap gak terlalu artistik karena ‘buntut’ kapal yang ada lampu-lampu itu ikut masuk. Untung saya sempat meminta dikirimkan, makanya anda bisa menikmati sunset-nya pula! Tapi menurut saya artistic begete…

Sore Hari Antara Makassar-Surabaya

Sore Hari Antara Makassar-Surabaya

Seingat-ingatku, pengalaman menarik memang tidak ada, tapi yang unik waktu di kapal mungkin cuma kejadian-kejadian ini:

Pertama, karena tempat tidur kelas ekonomi yang kami dapat (hasil rebut-rebutan dengan penumpang-penumpang yang lain), kami anggap gak begitu standar, makanya waktu malamnya, kami ambil kavling di depan ruang informasi dek enam (kalau ndak salah) yang berhadapan langsung dengan tangga. Awalnya sih ndak ada rencana untuk mau ‘nginap’ di situ. Waktu itu, kami cuma hunting listrik gratis untuk nge-charge ponsel. Karena kelamaan nunggu, baring-baring, tertidur deh! Awalnya berempat (saya, Ucunk, Munir, Wawan), ndak tahunya waktu terbangun sudah beranak empat pula (Mr Budiman, Adri, dan dua teman dari regular, lupa namanya). Ternyata, bukan kami-kami saja yang ‘enek’ di kelas ekonomi itu…😀 Yang unik sebenarnya waktu itu, tempat itu berubah jadi arena paduan suara. Kenapa, yak arena teman-teman ternyata doyang bersiul waktu tidur. Semua ngorok, mendengkur bersahut-sahutan. Mirip Symphoni No. 4-nya Beethoven saja😀 (emang ada symphoni No. 4?)

Kedua, ini cerita/kabar dari rekan Munir. Entah siapa, tapi kabarnya sih cewek (peserta juga), sebut saja Becce. Waktu di cafeteria, teman-teman lagi pada makan Pop Mie. Eh, tiba-tiba Becce datang menghampiri. Dengan paras muka yang begitu percaya diri, sambil menunjuk Pop Mie teman-teman yang lagi diseruput, karena sendoknya robek-robek (maksudnya pake garpu), si Becce bilang dengan logat Palopo bagian utara yang kental: “Eh, di mana beli mie celup e?”😀 What? Mie celup? Pop Mie kaleee… Wakakakakakakaka😀 Makanya sister janganki terlalu lama di hutan… Bemanaga celup? Eh, salah, Bemanaga cappo?

Sunset Selat Makassar

Sunset Selat Makassar

6 thoughts on “KM Tidar: Dari Sunset sampai Mie Celup

  1. Hueahwehehehhe jadi inget dulu banget sering naik KM PANGRANGO, KM AWU atao KM KELIMUTU. Huhuiiiii… sekarang karena dampak waktu yang terburu2 jadi jarang naik kapal huhuh😦
    Mi celup? ;p
    hoho…

  2. 6 tahun di palopo 2001 – 2006 sempat bicaraku ki berlogat kayak orang palopo, tapi begitu kembali ke jawa hilang mi sudah….hiks…hiks. palopo I miss U.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s