Caleg Kita Bisa(nya Apa?)

Di mana-mana, isu mengenai kurangnya kualitas calon anggota legislative (caleg) kita, akhir-akhir ini makin nyaring terdengar seiring dengan dirilisnya daftar caleg sementara dari KPU. Termasuk pula di blog ini, saya ajak anda semua, mari kita bicara tentang kualitas caleg kita!


Beberapa waktu lalu, Kompas menurunkan berita tentang kehidupan seorang tukang air yang nyaleg di daerahnya. Bukannya mau mendiskreditkan __ arti diskredit apa ya? 😀 __ pekerjaan tukang air (seperti McCain menyebut Joe The Plumber), tapi dengan pengalaman yang hanya jualan air, apa iya nanti beliau mampu memahami masalah-masalah di masyarakat yang begitu kompleks saat ini? Okelah kalau semangatnya ingin merubah citra lembaga legislative yang berbau ‘busuk’ (kayak buah nangka yang over matang). Tapi masalahnya bukan hanya problem moral legislator saja yang lagi ‘error’, tapi lebih luas daripada itu, mereka juga kadang-kadang berada pada masalah kurang memiliki ranah intelektualitas. Nah, sekali lagi, tanpa mau memandang remeh orang lain, mari pikirkan, apakah caleg dengan kualitas pas-pasan, khususnya pengalaman problem solving di masalah-masalah ekonomi, social, kesehatan, kependudukan, perkotaan dan hankam; anda yakin mereka mampu memecahkan masalah kita? Mungkin dengan berat hati saya katakan: Saya tidak yakin mereka dapat memecahkan masalah saya (khususnya) dan kota saya (secara lebih luas) atau Republik ini (secara umum).


Sekarang, mari lihat caleg-caleg perempuan kita. Atas dasar memenuhi kuota 30 persen, parpol terkesan asal comot kiri kanan-depan belakang. Maka jadilah ibu-ibu gaul dan ibu-ibu pejabat, ramai-ramai nyaleg. Saya sangsi parlemen kita bakal direformasi ke arah yang lebih baik. Lihat saja sekarang, kalau ibu-ibu itu melenggang bebas jadi legislator, tampaknya mereka hanya bakal mau bikin arisan saja di gedung dewan!


Menjual Masa Lalu

Sejatinya, para caleg tahu diri lah sedikit. Kalo memang mau jadi politikus, bo’ ya harusnya prepare dari dulu toh. Yah, mirip-mirip Obama barangkali. Beliau kan dulunya pekerja social di kampungnya. Atau seperti Bang Akbar Tandjung yang dulunya raja jalanan (maksudnya rajin ngedemo) waktu jadi ketua HMI. Atawa mirip Angelina Sondakh yang rajin nyumbang kiri kanan-depan belakang waktu jadi Putri Indonesia. Artinya bahwa, jadi caleg itu adalah ‘jualan diri’ dengan modal utamanya adalah kepercayaan. Lha, gimana orang mau percaya kalau track record kita gak ada. Pertanyaan sadisnya: Lu nyaleg bisanya apa?😉


Kepercayaan yang didapat dari rekam jejak positif itu, adanya di masa lalu dan kini, bukan to’ di diri kita yang sekarang. Kalau kita dulu dan hingga kini punya pengalaman memberdayakan masyarakat, aktif di kegiatan penanggulangan masalah-masalah social, atau menolong orang sakit, rajin nyumbang pisang goreng kalau lagi gotong royong di RT/RW, atau bahkan sekulum senyum manis aja tiap lewat depan rumah tetangga dan teman, saya yakin, anda bakal digolongkan menjadi individu yang bisa diandalkan. Nah, pada saat itulah saya bakal setuju anda jadi caleg!


Saya yakin, caleg yang sudah lulus tempaan macam Obama (yang jadi senator di Amrik itu), Akbar Tandjung (yang ini mantan caleg) dan Angelina Jolie, eh salah Angelina Sondakh; memiliki lebih tinggi aura kelegislatorannya, ketimbang caleg yang memang karbitan, yang gak punya track record positif (baik itu peran social, moralitas dan kapasitasnya) seperti Taufik Kemas, Adjie Massaid, Edi Baskoro Yudhoyono dan lain-lain. Ya kan? Coba deh, bandingkan: Akbar Tandjung sama Taufik Kemas, aura kelegislatorannya lebih kuat mana? Atau: Angelina Sondakh dengan Adjie Massaid dan Edi Baskoro Yudhoyono, kuatan mana? Saya yakin, anda dapat merasakan kekuatan aura nama-nama pertama lebih ‘wah’ daripada nama-nama pembandingnya. Ini menunjukkan, bahwa memang, dalam hal milih-memilih, seperti orang mau nikah, kita punya sense sendiri terhadap calon pasangan kita, atau dalam konteks ini calon legislator kita.


Namun, dalam politik, yang namanya kemungkinan positif-negatif ibaratnya iklan rokok: may yes may be no, aura itu bisa jadi terbantahkan dengan praktik-praktik teori politik. Jadi, saya ingin menutup postingan ini dengan mengatakan “Jangan pernah heran kalau Tukul Arwana pun kelak bakal jadi caleg!” Ya kan?

4 thoughts on “Caleg Kita Bisa(nya Apa?)

  1. kemarin pas saya pulang palopo, lewat di jembatan bolong. eh ada baligho dari caleg yang sedikit “beda” … daeng saleh kalo’ nda salah. penyiarnya kelandka….gila photo yamh dipajang adalah poto duel kagak pake baju…mirip2 petinju mau naek ring……..kapan2 sharing aja potonya di blog…. kumpulan balgho2 gokil……

  2. Caleg Kita Bisa(nya Apa?)…… pernyataan dan pertanyaan ironi. Jangan salahkan tukang air yang bisa jadi caleg. Sistem kita yang masih belum terformat bagus memungkinkan semua itu terjadi… Asalnya caleg dari partai… asalnya partai dari uu yang ditelorkan oleh DPR yang berisikan anggota DPR – wakil rakyat – yang juga dulunya adalah caleg…. bila kita menginginkan/mengharapkan kehidupan berpolitik yang lebih sehat, mari berbuat yang benar… jangan apatis apalagi sinis terhadap kelangsungan demokrasi di negeri kita… saya justru pada tukang air yang sudah tahu maen dipolitik itu butuh pengorbanan tetapi toh masih mau jadi caleg… terpilih apa ngak yaaa… tergantung yang memilih. Itulah demokrasi kita…. Dan baik buruknya Indonesia tetap negeri Kita! salam perjuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s