Purnama di Atas Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit malam ini terang. Purnama sedang bersolek dengan gagahnya di atas laut Teluk Bone itu. Dari atas bukit saya mengamati. Dingin tak menjadi masalah bagiku. Purnama kali ini memang begitu elok. Mungkin begitulah kesanku malam ini. Berbeda dengan malam-malam yang telah terlewatkan. Memang, ini ramadhan jek!. Begitulah saya memahami diriku sendiri. Ini adalah malam ke 16 Ramadhan. Setengah bulan sudah saya berpuasa.

Sengaja memang saya mampir di bukit ini. Anggapan orang, tempat ini angker. Namanya saja Kuburan Cina, Pekuburan Tionghoa, Kuburan! Tempat peristirahatan terakhir. Tapi bagiku, mana mungkin si empunya bangunan megah -yang kududuki saat ini- bakal marah. Dia sudah senang dengan rumahnya kini. Paling tidak sekarang dia telah menikmati usahanya saat dia hidup dulu. Mungkin waktu hidupnya, jarang sekali dia menikmati hartanya, namun kini, berbohong si mendiang ini kalau dia bilang tidak puas dengan rumahnya kini.

Kalaupun si mendiang mau kecewa atau marah, mungkin bukan padaku. Tetapi pada kaum banci yang biasanya mangkal di tempat ini. Tapi malam ini, malam Ramadhan jek! Setan-setan diikat (kata ustad-ustad yang ceramah di masjid dekat rumah), jadi pikirku, setan-setan yang ada di dalam diri banci-banci itu lagi gak bisa online. Jadinya mereka gak bisa gentayangan malam ini. Mungkin juga, karena Pamong Praja kota ini lagi semangat-semangatnya nyari banci, jadinya ramadhan kali ini mereka taubat! Mudahan saja.

Dari tempat ini, Laut Palopo memang indah. Apalagi purnama sedang in action di atasnya. Sejuk rasanya bisa menikmatinya. Saya sempat berpikir, bagaimana ya kalau kita berdiri di bulan menikmati planet bumi? Apakah seindah ini? Mungkin tidak. Bumi tak seindah purnama yang kukagumi malam ini. Tapi bagaimanapun, bumi ini tempat kita berpijak. Tak etis bila kita mencemoh rumah sendiri.

Tapi untuk sekadar berkeinginan membenahinya tak masalah-lah bagiku. Mungkin kira-kira seperti calon wakil gubernur yang tadi membawakan hikmah Nuzulul Quran di Masjid Agung Palopo. Motivasinya hanyalah untuk merubah masyarakat menjadi lebih baik.Ya memang seharusnya begitu to? Tapi sekali lagi, saya mendukung niatan itu.

Purnama memang ditakdirkan untuk ber-partner dengan bumi. Kalau purnama dan bumi ini manusia. Pastilah mereka dua sejoli yang serasi. Laki-laki dan perempuan. Purnama adalah lelakinya sedang bumi adalah perempuannya.

Ya, purnama adalah lelaki yang senantiasa mendekap perempuannya untuk tetap ada padanya. Purnama menjaganya dengan bertawaf. Ia memancarkan kharisma, sehingga si perempuan tetap kagum padanya. Ia mampu memengaruhi air laut bumi melalui gravitasinya. Purnama tidak cenderung egois.

Berbeda dengan bumi yang sering egois. Terhadap panas yang diterimanya, ia malah melemparnya kembali ke angkasa. Bumi bersolek terus menerus. Mempercantik dirinya, hingga kadang melupakan yang lain. Tapi bumi sejatinya adalah perempuan yang menenangkan. Pada dirinya ada atmosfir untuk menutup auratnya. Ia tidak bugil. Tidak vulgar seperti kebanyakan perempuan di bumi itu sendiri.

Purnama tenang akan atmosfir ini. Dia tidak akan mengganggu bumi. Berbeda dengan meteor yang kerap berulah. Pikirku, meteor kan setan yang dilempari batu oleh malaikat. Jadi bukan laki-laki yang berulah, tetapi setan!

Malam ini dingin. Tiga hari ini di Palopo memang tidak pernah hujan, malamnya cenderung dingin. Purnama hampir diatas kepalaku kini. Cahaya masih menyinari Tanjung Ringgit. Kayaknya besok ikan pasti mahal.Tapi koran hari ini, menulis harga-harga pada naik. Jadi kesimpulanku, bukan salah purnama, jika esok harga ikan jadi mahal.

Semua komoditi mahal jek! Kalau koran benar, kita mesti sabar. Sabar, karena ini bulan ramadhan. Bulan ujian kesabaran. Sama seperti Anggong Yena Ati yang harusnya sabar. Kalau dia sabar, paling tidak dia masih hidup hari ini, dan paling dimasukkan ke rumah tahanan.

Koran menulis beritanya hari ini. Ia warga Polman yang gantung diri usai bantai tiga warga Dusun Balla Desa Papandangan di Polman. Ya, kesimpulannya, sabar! Seperti saya malam ini, sabar dengan dinginnya udara.

Purnama telah tepat di atas ubun-ubunku. Saatnya saya pulang. Tak nyaman bagiku menikmati purnama dengan mendongak. Leher ini sudah terlalu capek dengan rutinitas hari ini. Saatnya saya kembali melanjutkan perjalanan. Pulang ke rumah! Di kamarku sudah ada kasur yang empuk. Malam ini kamu beruntung kasur! Aku lambat tidur!

Balandai, 27 September 2007

One thought on “Purnama di Atas Tanjung Ringgit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s