Palopo dalam Spektrum Waktu

070120093922Tidak banyak buku yang secara detail menggambarkan sejarah Palopo masa lalu. Buku Palopo dalam spectrum waktu ini, sedikit banyak berusaha menyegarkan kekeringan literature sejarah perkotaan di Palopo. Khusus bagi generasi yang lahir setelah tahun 80-an ke atas, buku ini sejatinya menjadi bahan baca baru, dalam memaknai Palopo sebagai sebuah perjalanan panjang dan menjadi bagian dari dirinya.

Banyak infromasi penting yang dipaparkan dalam buku ini. Tentang sejarah Jalan Batara, contohnya. Ternyata, sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari cerita hidup Andi Sultani, seorang legenda Kota ini. Ceritanya secara sederhana dituturkan oleh Andi Falsafah, dalam bagian cerita “Antara Bua dan Palopo”. Lain lagi dengan asal nama Jembatan Bolong, yang kini berada di Jalan We Cudai (eks Jalan Lagaligo) Kota Palopo. Cerita tentang Jembatan Bolong ini bisa dibaca pada penuturan Onggip, fotografer utama Palopo tahun 60-70an. Melalui “Ketika Saya Harus Ganti Nama”, Onggip atau Djie Wang Gim banyak sekali menuliskan sisi ekonomi perkotaan di Palopo periode 1950-an sampai 1980-an. Pemilik Nusantara Photo dan Toko Remaja ini, juga berkisah tentang meander sungai Kampung Langsat yang dirubah strukturnya oleh Jepang, kondisi kampanye pemilu di tahun 1970-an, tentang Datu Andi Jemma, hingga cerita kedatangan Pak Harto di Sukamaju.

Beberapa kawasan yang banyak menjadi latar cerita para penutur di buku ini, sebenarnya hampir seragam. Kita maklum, karena Palopo saat itu masih sebuah kota kecil, dengan pertumbuhan kawasan-kawasan urban yang masih belum signifikan. Kawasan kota tua GeddongE dan Kawasan Pasar Lama (Luwu Plaza) masih menjadi pusat aktifitas perkotaan. Buku ini mengajak kita untuk melakukan perbandingan realitas masa kini dan masa lalu. Di kawasan pasar lama contohnya, menurut Annas Siodja pernah ada toko buku pertama di Palopo, dan kini telah lenyap. Senada dengan hilangnya toko buku itu, SD Amasangan pun juga menjadi keprihatinan HM Arsyad di tulisan kedelapan buku ini. Konon SD Amassangan dulunya berada di Jalan Belimbing.

Perbandingannya bukan hanya dari dimensi fisik kota yang hilang, kegiatan non fisik pun, seperti nongkrong di Monumen Toddopuli Temmalara, sebagaimana yang sering dilakukan oleh Andi Falsafah, juga budayanya kini telah hilang. Namun, tak semua pula fasilitas kota lenyap. Cerita Prof. Said Mahmud, mungkin bisa menggambarkan betapa gencarnya pembangunan fasilitas kota pada kepemimpinan Bupati Abdullah Suara. Beliau membangun Masjid Agung Luwu-Palopo, kantor Bupati Luwu, rumah jabatan Bupati hingga Pesantren Modern Datok Sulaiman. Kata H. Muchtar Basir, itulah dinamika kehidupan, ada yang hilang dan ada pun yang muncul.

Beberapa latar tempat cerita agak bias. Simak saja tentang Jalan Pemuda/Berdikari dalam cerita Roem Patimasang, lokasinya dimana? Atau Pacuan Kuda dalam cerita HM Arsyad? Beberapa tulisan sebenarya juga agak keluar pakem, yaitu tema mengenai Palopo dalam spectrum waktu. Tulisan HPA Tenriadjeng yang lebih banyak bercerita tentang Bua sampai Toraja, atau Pak Martin Jaya yang lebih banyak membahas tentang Noling.Hal itu sebenarnya membuat pembaca agak terbawa pada arus lain, yang terkesan tidak fokus dan berdiri pada tema yang lain. Hal ini bisalah dipahami, karena memang sebagian dari penutur sebenarnya adalah orang yang secara tidak utuh ikut dalam perjalanan sejarah urban Palopo. Beberapa di antaranya hanya bersifat pengalaman parsial, dan kental romantisme, tanpa substansi informasi yang mumpuni. Sehingga kemudian, buku ini cenderung ke arah kompilasi otobiografi tokoh-tokoh sentral di Palopo.

Beberapa kelemahan buku ini dapat dilihat dari cara bertutur narasumber yang begitu sederhana dan tanpa latar waktu yang jelas. Terdapat perbedaan gaya bertutur yang begitu kentara antara narasumber satu dengan yang lainnya. Coba lihat gaya bertutur Roem Patimasang yang terasa begitu lugas, informatif, melakukan analisis perbandingan dan sekaligus inspiring. Editor di bagian pengantar “Menelusuri Spektrum Waktu” menggunakan bahasa yang agak sulit untuk dipahami oleh orang awam. Kelemahan lain adalah penanggalan atau tahun kejadian yang kurang mendapat porsi utama, agaknya menjadikan beberapa informasi tidak begitu valid.
Dan yang menarik adalah cerita Roem Patimasang tentang buku-buku yang dibacanya. Realistiskah anak usia sekolah dasar tertarik atau bahkan sekolahnya memiliki karya-karya macam Guy de Maupassant dan Abdulla Aidit. Atau buku Capita Selcta nya Mohammad Natsir, Tasawuf Modern nya Hamka, sampai Tafsir Al Manar nya Mohammad Abduh.

Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Sawerigading, dengan editor Idwar Anwar, dan 174+xxvi halaman ini secara umum mampu membuka pintu sejarah masa lalu Palopo. Dan dengan kemampuan itu pula, sehingga pada beberapa cerita kita seakan terbawa, ikut berada di latar waktu dan latar tempat Palopo zaman dulu. Dan setelah membaca kisah para penuturnya, kesimpulan akhir untuk menggambarkan ikon kehidupan urban Palopo masa lalu adalah dengan tiga tempat kunci, yaitu: GeddongE, bioskop-bioskop dan sekolah! Hampir seluruh penutur, menuliskan cerita tentang Kota Tua GeddongE, bioskop-bioskop yang telah almarhum dan romantisme bersekolah di Palopo! Bagi anda yang haus informasi tentang Palopo masa lalu, saya menyarankan anda untuk membaca buku ini…

12 thoughts on “Palopo dalam Spektrum Waktu

  1. @ omeng: saya dapat di kantor juga boz, ndak beli, hehehe…😉
    coba cari di Galeri Palopo, Jalan Samiun (belakang Istana),
    disana banyak buku-buku tentang Palopo

  2. maballo toq jamang-jamang na Haidir. Heeee kallolona to Palopo, ikuti to contoh na patiroangkiq Khaidir. ukiq dukaki bok, majalah, tabloiq raka, maballo ke mabasa Tae ki.

    Buda mo ukiq na Khaidir, nabantu ki paddisenganna to Luwu. Parallu duka di uki mpake basa Tae.
    Deng disertai basa Tae inde kuanna, nauki toq tau Ternate disanga Gufran Ali Ibrahim.

    Buda duka carita basa Tae inde kuanna. Minda melo jamai penerbitanna? Kamu ri tu tau malolo dirannuang. Jama i le?

    Hasri

  3. @ omeng: monggo…!

    @ Hasri: insya Allah pak.. tapi saya harus kursus basa tae’ dulu,
    saba’ tae’ la kulancar ma’basa tae’,..😉
    ake basa ugi, macca sia ka’😀

  4. semoga ada kesempatan untuk lebih banyak baca2 tentang kota2 di Indonesia.. diriku ini sudah terlalu lama tidak membaca hehehe😀

    yoi salam dari Indra😀

    -tuteh-

  5. makasih atas publikasinya ttg sejarah kota palopo ini sangat membantu tugas saya di kampus. sukses buat kamu

    terus kembangkan informasi2 ta ttg kota palopo
    benar juga kata kawan kita maballo tongan kapang ake dipublikasikan sejarah kota palopo pake bahasa tae. hehehe

  6. deng siapa pabbicara tae dio Palopo? sangat jarang.
    di kota besar lainnya seperti Bandung prosentase pengguna bahasa Sunda sangat tinggi. eke dio Palopo penutur basa tae paling 10%, apalagi generasi muda. Sangat mengkhawatirkan

    Maiki ta pada mabbicara tae napodo/mammuarega(bugsi)/bassa/batu/semoga bahasa tae yang merupakan induk bahasa Bugis, Mandar, dan makassar ini bisa tetap eksis.

  7. zulham = na bilang mama ku.. itu Pacuan Kuda benar adanya,, lokasinya antara Stadion Lagaligo sampe sempowae,, dan sering na tempati helicopter mendarat,, hehehehe…. (info bisa dipertanggungjawabkan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s