Mari menjadi Tosca-isme!

sindentosca
Belakangan ini, saya senang mendengar lagunya si Jalu, yang berjudul Kepompong itu. Aneh menurut saya, Band Sindentosca itu ternyata diawaki secara jomblo, oleh si Jalu sendiri. Lantas mengapa menamakan Group Band Sindentosca, kalau rupanya hanya sendiri? Mengapa bukan nama Jalu-solois gitu saja? Simpel, gak aneh menurut saya, dan ndak boros tempat untuk nulisnya😀 Namun, apapun itu, musiknya agaknya terkoneksi dengan indah di telingaku. Mari menyanyi sejenak, sodara-sodara! Persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu…

Filosofi Sindentosca menurut saya bagus sekali. Kata si Jalu, di sebuah acara talkshow di TransTV mengatakan, sinden berarti beliau ingin berafiliasi dengan music tradisional pure Indonesia, sedangkan Tosca itu (kalau gak salah) katanya paduan hijau dan biru. Artinya, kalau naik ke langit biru, jangan lupa di bawah ada daratan yang berwarna hijau! Filosofis sekali, sekaligus inspiring, bukan?

Saya memang sedang belajar untuk menjadi Tosca dan menjadi kepompong. Ada banyak kejadian akhir-akhir ini, yang menyadarkan saya, bahwa kadang (maksud saya, harus) menjadi Tosca itu. Ketika suatu keberhasilan tercapai, jangan lupa, disana ada andil dan doa orang-orang sekitar kita. Atau sederhananya, anda takkan menjadi kupu-kupu, tanpa menjadi kepompong terlebih dahulu.

Peristiwa Kota Gaza mungkin juga menyadarkan saya, bahwa Israel (pemerintah, zionis dan tentaranya) bukan terkategori penganut Tosca-isme. Sombong mereka! Beraninya dengan lascar kecil macam si Hamas. Jadi satu jempol terbalik, plus satu jari tengah untuk mereka: Fuck You Zionis!

Sedari dulu, mungkin kita tahu bahwa zionis memang sombong, apalagi Amerika. Makanya, apa yang saya katakan bahwa Obama bukanlah segalanya, terbukti sudah kini. Obama seakan sembunyi melihat penderitaan masyarakat Gaza. Entah dimana dia kini setelah dilantik. Aneh si Blacky itu!🙂 Pak Budiarto Shambazy, kolumnis Kompas yang gencar kampanyekan Obama di Indonesia itu, saya tahu pasti kecewa pula dengan sikap jagoannya itu.

Si Aris Idol, juga membuat saya kecewa. Mantan anak jalanan yang naik pamor itu, akhirnya merah juga matanya dengan dunia glamor. Di-janda-i lah istrinya! Maka duda lah dia. Serupa dengan itu, vokalis The Titans, si Rizky ,sami mawon, singkammaji, sipacce to. Gak bisa jadi orang sukses mereka itu. Baru segitu sudah lupa daratan. Gimana kalau sudah jadi Gubernur BI, yang gaji pokoknya saja sampai 100 Juta per bulan?

Saya sempat berbangga diri, ketika menyisihkan ribuan orang dalam kompetisi perebutan kursi (bukan caleg) menjadi pegawai negeri. Ketika itu, saya bilang dalam hati: “Soalnya gituan aja , koq banyak yang gak tahu…? Dasar bodoh!”. Akhirnya saya sadar, bahwa menyepelekan orang lain itu tidak baik. Belum tentu rival saya dalam kompetisi itu bodoh semua. Ada kalanya barangkali mereka belum beruntung saja.. Ya kan? Selain itu, seharusnya saya tidak berpikir demikian sombong. Toh, tiap hari saya bertemu dengan orang-orang cerdas, secara intelektual, emosional dan spiritual (seperti mahzabnya Ari Ginanjar itu). Jadi, mengapa harus sombong?

Ketika saya sudah dapat tempat duduk empuk, makan gaji halal sebagai abdi Negara, sembari ‘menghitung hari’ — seperti kata Ucup Kelik — untuk gajian, saya kadang lebih superior dibanding pegawai honorer yang lain. Padahal, mereka lebih pengalaman dengan lingkungan birokrasi dibanding dengan saya yang baru seanak jagung usianya. Bahkan kadang, dalam titik klimaks kesombonganku, saya bahkan mencap beberapa pegawai senior yang lain sebagai abdi Negara yang tidak berkualitas. Ukurannya, saya biasa takar dari seberapa besar peran mereka untuk organisasi kita. Dalam kajian manajemen SDM, mungkin asumsi takaran saya di atas bisajadi benar. Rumusnya begini: “Apakah anda dicari oleh orang di kantor bila anda sehari tidak datang?”. Itu yang saya baca. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kita sebagian besar mengadopsi mentah-mentah konsep barat. Padahal kita sadar, bahwa keadaan Indonesia dengan negaranya Obama, beda budayanya. Bahkan untuk menerapkan konsepnya Muhammad Yunus pun, dengan Grameen Bank-nya di Bangladeh, agak sulit di Indonesia. Kita, di Indonesia kadang kurang memberi tempat berkreasi kepada teman yang lain.Sehingga, potensi mereka tidak terpicu atau tidak kelihatan. Alhasil, kita mencapnya sebagai makhluk yang tak berkualitas!

Nah, pada saat itulah sebenarnya kita sejatinya putar haluan. Marilah bergabung dengan paham Tosca-isme, seperti si Jalu. Saya sadar, saya abdi Negara papan bawah, makanya saya seharusnya belajar menjadi bawahan yang baik. Kata mantan parner kerjaku: ”Kalau mau menjadi atasan yang baik, maka jadilah dulu bawahan yang baik!”. Artinya pula adalah, jadilah dulu ulat, baru kepompong, dan nikmatilah keindahan seperti kupu-kupu!

Saya ingat pesan seorang Kakek ketika saya baru saja diangkat menjadi abdi Negara. Namanya Almarhum H. Ismail, seorang mantan Jaksa yang menjadi legislator di Palopo. Beliau menitipkan pesan kepada ayah saya begini: “Katakan kepada anakmu (maksudnya si Zulham, yang ganteng ini😀 ), jangan pernah sombong!”. Makanya, hari ini saya mau menjadi fans-nya Sindentosca saja. Ingat daratan, ketika sudah di awang-awang. Mudahan si Jalu istiqomah dengan filosofi Tosca-isme nya itu… Begitu pula saya! Amien…

3 thoughts on “Mari menjadi Tosca-isme!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s