Catatan-catatan Nenek

Akhirnya, saya tidak heran sekarang. Pertanyaan tentang: “Mengapa saya senang nge-blog?”, akhirnya terjawab oleh catatan-catatan almarhumah nenek (ibunya ayah saya), yang meninggal tahun lalu. Dari lemari peninggalan nenek, sebuah buku agenda dan tiga buah buku catatan kecil (yang dipermak sendiri oleh mama’— panggilan untuk nenekku itu), memberikan simpulan, yang tidak bisa dinegasikan bahwa: Menulis sudah menjadi budaya turun temurun di garis keturunan keluargaku!. So, nenek-ku ternyata bukan seorang pelaut (seperti lagu kebanggan kita itu), melainkan seorang yang yang gemar menulis. Seandainya pada zamannya sudah ada wordpress, beliau pasti jadi blogger juga!😀

Konon, mama’ Midah (panggilan dari beberapa anak angkatnya), dulunya cuma ikut Sekolah Rakyat (SR). Walaupun sudah SR, tapi kemampuan menulis latinnya masih kurang. Makanya catatannya hanya menggunakan huruf lontara bugis. Tapi kalau membaca, khususnya koran, sumpah, saya berani katakan: beliau bisa diadu dengan nenek-nenek yang lain!😀 Beliau kelahiran Watampone, pada tahun yang simpangsiur (ada yang tercatat 1920, 1925, 1928 dan ada 1930). Bapaknya konon bernama La Hajji Daeng Mallanre, seorang muslim taat yang ikut di perjuangan PD II. Katanya, dulunya buyut saya itu dimakamkan di TMP Jalan Samiun (sekarang sudah jadi RS Tentara Palopo), namun ketika TMP Palopo dipindahkan ke Salobulo, jejak makamnya hilang. Ibunya nenek saya, namanya Doho. Di nisan kuburannya di Kompleks LokkoE ditulis Ma’ Na Midah (Ibunya Hamidah — nama asli nenek saya). Ceritanya cuma sedikit yang saya tahu tentang buyut perempuanku itu.

Mama’ Midah (nenek saya, yang saya sebut penulis itu), nikah dengan kakek saya, atau bapaknya ayah saya —pusing mode on— yang namanya Abd. Hafid Dg. Paewa. Kurang tahu, dari pernikahannya itu, tante dan om saya ada berapa ya?. Soalnya sebagian besar mereka meninggal usia anak-anak semua. Yang sempat dewasa cuma anak pertama (tante saya), dan ayah saya saja.

Kembali ke catatan mama’ Midah, saya terkaget-kaget melihatnya. Soalnya catatannya sangat detil dengan tanggal dan apa-apa saja yang perlu untuk menjadi perhatian. Lihat saja gambar catatan nenek saya itu di bawah ini, seandainya saya ndak buka-buka catatannya, saya pasti akan lupa selamanya bahwa saya mulai kerja tanggal 30 Oktober 2006! Tulisan aslinya: mappammulai majjama sulehang, 30-8-2006 araba’. Atau secara sederhana diartikan: Zulham mulai bekerja pada hari Rabu, 30 Agustus 2006.

18022009425

18022009423


Juga waktu saya habis ikut kompetisi nulis di Jakarta. Saya sempat beri beliau sekke’-sekke’na decengngE, sama beliau. Ternyata beliau nulis di catatannya begini: sulehang, ramalang 17-10-2004 50.000, Zulham memberi Rp 50.000,- pada Ramadhan tanggal 17 Oktober 2004. Ini gambarnya:

18022009428


Penanggalan terakhir yang saya dapat yaitu 19-2-2008. Beliau wafat 4 Maret 2008.

18022009427


Selain catatan-catatan, di lemarinya juga ada banyak foto-foto jadul. Entah siapa semua mereka. Kami yang ada sekarang tidak terlalu banyak mengenal foto-foto itu. Sebagian ada yang dinamai, tapi lebih banyak yang tanpa nama. Yang menarik foto bersama Mama’ Midah dengan suaminya (kakekku) Abd. Hafid Dg. Paewa. Ini fotonya (yang paling atas):

18022009431


Setelah mendapat catatan-catan ini, saya lebih semangat untuk rajin nge-blog lagi. Paling tidak itu memberi ingatan tentang pengalaman yang telah saya lihat, dengar dan rasakan (kayak judul album sebuah band😀 ). Saya kok dengar suara dari dalam diri saya: “Zulham, takdirmu untuk selalu menulis. Jadi, rajin-rajin lagilah nge-blog!”😉 —bingung mode on— Jawabku: iya…iya…iya… 🙂

Untuk seluruh inspirasi, doa dan jasa-jasa mama’ Midah: Al Fathihah…

8 thoughts on “Catatan-catatan Nenek

  1. Wah… madeceng ladde’ usedding uki’e sulehang.

    Salam kenal Sulehang🙂. Saya mampir kesini karena Sulehang meninggalkan komentar di blog saya (putradesa.blogdetik.com). Saya dari Palopo, tepatnya di Padangsappa. Menarik sekali sejarah nenek-nenek nya. Kalau saya pribadi tidak terlalu tahu sejarah nenek-nenek apakah mereka juga suka menulis seperti neneknya Sulehang, tapi yang jelas sekarang ini saya juga sudah mulai belajar rajin2 nulis di blog.🙂

    Salam kenal………

  2. boleh juga nih, salut sama alm. Nenek hingga mnghampiri akhr hayatnya masih mnuliskan prjalanan hidupnya. Hehe jadi itu alasan knpa zulehang skrg jd seorang blogger. Maju trus bro! Hidup zulehang (nama yang unik ya)

  3. Ini yang perlu dicontoh bahwa sebuah catatan begitu punya arti untuk kita. Seperti catatan Nenek… Dan kita dengan catatan2 di blog… why not? Nyata kan yak? Sebelom diary bergambar boneka atau diary online… nenek udah punya catatan sendiri… salut buat Nekek…

  4. sulehang… singgah2ki bro di catatansulfikar.blogspot.com
    coz yg diwordpress masih “underconstruction” hehehe….maen kerumahku ces klo lagi birahi membacako lumayan..ada buku menarik walau tdk banyak..saya tunggu bro!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s