Toko Buku Pojok

Dua pekan lalu, teman saya berkata kepada saya: “Heran saya Zulham, sekian banyak ruko yang dibangun di Palopo, tak satupun ruko yang jadi toko buku!”. Saya mafhum dengan alasan teman saya itu berkata demikian. Akhir-akhir ini, birahi membaca komiknya tak tersalurkan dengan baik. Makanya, statement ‘putus asa’ itu akhirnya mengalir begitu alami.

Sadar atau tidak, toko buku di Palopo memang kuantitasnya sangat memprihatinkan. Mari ingat-ingat 5-10 tahun lalu. Di Jalan Jenderal Sudirman dulu ada Toko Buku Taufik. Tapi kini sudah jadi Laboratorium Prodia. Di ruko pasar sentral sebelum di remajakan, ada Toko Buku Fauzan. Entah dimana dia sekarang, gak jelas. Toko Buku Pembangunan di Jalan Ahmad Dahlan sih masih ada, tapi yah nasibnya ‘hidup ogah mati pun tak mau’. Dulu juga ada Toko Buku Bina Ilmu, tapi nasibnya agaknya mengikuti tren seperti Toko Buku Taufik juga. TB Amaliah yang di Jalan Durian, memang cukup survive. Namun sebenarnya kalau mau lebih meningkatkan benefit, menurut saya sih perlu sentuhan baru. Yah, inovasi-lah kira-kira! Sebagai tawaran sederhana dari saya, ubah konsepnya! Dari pure traditional selling menjadi lebih open-flexible selling. Tak perlu lah mencegat costumer dengan menyapa “Cari buku apa ki’?”. Mungkin lebih enak dengan sapaan “Silahkan masuk, pak!”. Toh orang ke toko buku biasanya tanpa mempersiapkan judul yang ia ingin beli. Kadang dapat judul yang pas di hati, beli deh! Tapi kalau langsung dicegat dengan sapaan “Cari buku apaki?”, lantas saya jawab “Buku ini”, dan balasannya “Oh, tidak ada!”. Itukan artinya si penjual tidak mampu memberi tawaran lain kepada calon pembelinya. Itu kesalahan pemasaran, jek!

Toko Buku yang bisa diandalkan di Palopo mungkin hanya TB Kompas yang di perempatan Jalan Diponegoro-Jalan Andi Machulau. Di toko itu, birahi membaca memang bisa dilampiaskan dengan koleksi judul-judul buku yang lebih variatif (walaupun masih sederhana). Pun dengan konsep yang begitu terbuka, sehingga anda bisa menjelajah dengan bebas dari rak sini ke rak situ, tanpa dibuntuti penjaga toko. Jadi, saya sarankan kalau mau cari buku di Palopo, ke toko pojok itu saja!😉

Saya ingat presentase Ibu Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Palopo di acara Musrenbang Kota Palopo. Acaranya sepekan lalu di SaokotaE. Dia sempat menyatakan “Gairah membaca warga Kota Palopo begitu besar, dan dengan alokasi dana yang secuil ini, kami tidak bisa membendung!”— kira-kira seperti itu. Sebenarnya dari konteksnya, ada dua hal yang perlu diperhatikan: gairah baca dan alokasi dana yang kecil.

Saat mendengar itu, saya dan dua teman yang jadi operator laptop saat itu langsung senyum-senyum kecut😉 Masa sih, gairah baca masyarakat Kota ini sudah sedemikian besar? Ukurannya darimana? Lha bisnis toko buku saja dianggap berisiko tinggi karena calon pembelinya (target market) belum teridentifikasi dengan jelas di Palopo. Marilah sekali-kali anda ke Perpustakaan Ibu tadi, saya jamin (jika tak ada kegiatan khusus di sana) pasti pengunjungnya tak lebih hitungan jari-jari tangan yang hanya sepuluh ini.😀 Paling yang ramai pegawainya, yang rata-rata juga doyan melampiaskan hasrat membacanya. Jadi, perlu kajian yang valid untuk statement itu.

Ada beberapa hal mungkin yang harus menjadi perhatian manajer Perpustakaan Umum Palopo. Dengan alokasi dana yang kecil, sejatinya menyulut kreatifitas otak kanan untuk merespon. Saya ingat film Red Cliff II yang akhirnya mampu memenangi perang walau di awal-awal perang kekurangan anak panah. Dengan kreatifitas Zhou Yu, akhirnya dalam tiga hari saja sudah terkumpul 100 ribu anak panah. Nah, cara-cara seperti itu pulalah yang sebenarnya sejatinya diadopsi untuk mengakali lesunya semangat di perpustakaan. Ajak swasta untuk melaksanakan kegiatan edukatifnya di perpustakaan umum. Bahkan (mungkin agak radikal) dengan ajakan mengalokasikan program CSR nya melalui pengadaan buku di perpustakaan.

Kegiatan untuk mengenalkan perpustakaan juga perlu dilakukan. Cobalah mengundang sekolah-sekolah untuk bertandang ke Perpustakaan Umum, melakukan diskusi sastra di sana, atau melakukan bedah buku di perpustakaan. Bukankah itu paling tidak dapat mendekatkan siswa atau remaja kita kepada dunia pustaka yang mampu membuka jendela dunia ini? Perpustakaan harus disadari bukan hanya sebagai gudang buku, tempat membaca dan meminjam buku saja, tetapi lebih luas daripada itu adalah sebagai ruang tumbuhnya inspirasi, kreatifitas dan inovasi baru. Di sana proses membaca, kontemplasi bahkan dialektika terjadi. Sehingga kemudian, kenyamanan menjadi prasyarat utama di perpustakaan. Dan standar pelayanan minimum untuk kenyamanan itu, mungkin dengan mengatur suhu ruang perpustakaan yang agak panas di siang hari🙂 , disain interior yang lebih comfortable therapy dan jika sesuai selera, ada musik klasik disana.

Disadari memang, perhatian kepada pengembangan perpustakaan saat ini lebih kecil ketimbang dengan membangun infrastruktur politik yang tak habis-habis dewasa ini. Di kampusku juga demikian. Buku-buku di perpustakaan kampus ibarat pameran benda-benda antic, bisa dilihat tak boleh dipinjam. Baru kali ini saya lihat perpustakaan yang tak memberi kesempatan member-nya untuk meminjam buku. Padahal bisajadi modal untuk beli buku itu, dari uang SPP mahasiswa. Jadi, kesimpulannya, ke toko buku saja! Sekali lagi, saya sarankan anda ke Toko Buku Kompas, yang di pojok Jalan Diponegoro itu…😉

14 thoughts on “Toko Buku Pojok

  1. Salut atas tulisannya….
    memang skrg ini sangat sulit mencari Toko buku yang ada Palopo, itu pun klo ada koleksi bukunya masih kurang bahkan boleh dibilang sangat kurang.

  2. Saya juga kalo nyari buku sering jalan2 kesitu, lumayan lah bisa leluasa melihat lihat kalo cocok biasanya beli, kalo ketempat lain agak segan. Seandainya palopo sudah ada gramedia yah? asyik coy…🙂

  3. pake cara lama kalo lagi birahi tinggi! pesan sama teman yg lgi tugas ke makassar! atau kalo dapet honor lebih jalan2mi saja ke mks…(walaupun ongkos bis nya bisa beli 2-3 buku…hehehe)
    btw.. dibayar berapa sama yg punya toko pojok bos???

  4. Mungkin karena guru2 di sekolah jualan buku juga..?? jadi toko buku susah bersaing karena siswa2 pasti lebih milih beli buku di sekolah, dengan harapan ada nilai tambah…iya ga.
    Dosen2 juga dituntut utk bisa membuat bahan ajar sendiri, minimal yg “hanya digunakan dalam lingkup univ………”
    Eh, di Palopo dah ada belum rental komik or semacamnya? di Jawa sono, rental2 semacam ini banyak peminatnya lho, kenapa ga bikin satu komunitas pencinta buku, trus masing2 nyumbang buku untuk direntalkan….hehehe

  5. Luar Biasa tulisannya, spertinya paradigma anak Palopo mengenai buku memang mesti dirubah,, di tunggu postingan yang baru yah Om Zulham🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s