Iklan Rokok Mengepung Palopo

palopo1

Jika anda termasuk pa’dekker yang juga suka ngukur-ngukur jalanan (baca: suka jalan-jalan) di Palopo, pasti anda tidak sulit melihat sejumlah papan iklan rokok di pinggir-pinggir jalan atapun di tengah-tengah jalan-jalan protokol di Palopo. Bentuknya macam-macam, baik itu reklame raksasa yang melintas di atas jalan, reklame sederhana di atas pos-pos polisi, neon box yang begitu apik sepanjang jalan, spanduk-spanduk kegiatan yang seakan menyaingi spanduk-spanduk caleg dan capres, hingga poster-poster sederhana di depan ruko-ruko bergaya minimalis yang jumlahnya makin banyak saja di Palopo.

Iklan rokok tersebut memang ada dimana-mana. Di perempatan jalan, di Pusat Niaga Palopo, di Pasar Andi Tadda, kios-kios nasi kuning, warung-warung Kopi, atau bahkan di dekker anda sendiri. Tidak itu saja, promosi dan sponsor rokok hadir di hampir seluruh event-event yang digelar di kota ini, baik itu olahraga, konser musik, pentas seni, sampai party-party yang ndak jelas manfaatnya di tempat-tempat hiburan malam di Palopo. Apakah anda, dan kita semua tidak sadar telah terkepung oleh iklan rokok di Kota yang katanya Kota Sehat ini?

Strategi Pemasaran

Jalan-jalan kita memang telah berubah menjadi medan tempur ketangguhan para marketer rokok dalam meraih simpati targetnya. Kapitalisasi jalanan ini, secara tidak sadar sebenarnya telah menggiring kita, dan lebih parahnya lagi adalah bagi remaja kita, kepada kondisi dimana rokok bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak berbahaya lagi bagi kesehatan.

Mensponsori sebuah event merupakan strategi yang paling sering dilakukan oleh distributor rokok di Palopo. Hal ini mungkin bisa dimaklumi karena dengan berperan sebagai sponsor di suatu event, mereka lebih leluasa untuk melakukan promosi bahkan direct selling terhadap peserta atau pengunjung di lokasi event tersebut. Promosi langsung rokok yang demikian atraktif dalam event-event yang menyentuh seluruh segmen, baik itu tua-muda, anak-anak dan dewasa, memang patut menjadi perhatian kita terhadap dampaknya, terutama dampak negatifnya bagi generasi muda Palopo. Penelitian Universitas Muhammadiyah Jakarta melansir bahwa 87 persen remaja kita terpapar iklan rokok di luar ruangan. Dan yang mengkhawatirkan bahwa hampir 30 persen dari mereka menyatakan terdorong menyalakan rokok setelah melihat iklan rokok itu. Bukankah ini bisa memberikan gambaran betapa hebatnya pengaruh iklan rokok di sisi-sisi (atau bahkan di tengah-tengah) jalanan kota kita?

Kota (Tidak) Sehat

Nggak usah kita bicara lagi dampak buruk rokok bagi kesehatan. Toh tiap bungkus rokok pun punya label bahwa “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Jadi, bagi anda yang saat ini telah tergolong ‘perokok maniac’ — istilah guru SMA-ku dulu—  siap-siaplah untuk kehilangan keperkasaan anda! Tidak itu saja, Opa-ku dulu juga game over gara-gara penyakit akibat merokok. Ayah saya, waktu di usia 30-an tahun, akhirnya berhenti merokok gara-gara di opname di Rumah Sakit. Terus Pak Syamsuir, warga Jakarta yang kisahnya saya di baca di Kompas pekan lalu, akhirnya tidak bisa bicara lagi akibat lehernya telah dioperasi gara-gara penyakit dari rokok.

Rokok tampaknya memang menjadi musuh yang akan selalu ada. Hal ini karena memang industri rokok merupakan komoditas yang penuh tipu daya. Masih ada saja orang yang menegasikan ekternalitas negatif yang dibawa oleh rokok. Parahnya lagi, dalam debat cawapres beberapa waktu lalu, cawapres kita belum sepakat cara yang lebih progresif dalam mereduksi industry rokok di tanah air. Dan hal itu, didukung pula oleh pemerintah daerah, seperti di Palopo, yang terlalu akomodatif terhadap industry rokok dalam hal ruang bagi iklan-iklannya. Olehnya itu, perlulah kita berpikir ulang untuk konsep kota sehat yang selama ini menjadi wacana urban di Palopo. Bukankah dengan mengepung masyarakat kita, dan lebih khususnya remaja dan kaum muda kita, dengan iklan-iklan rokok, adalah suatu ajakan untuk hidup tidak sehat?

Mari Sadar Diri

Perlu daya dukung yang lebih besar dari seluruh pihak untuk mereduksi konsumsi rokok di kalangan remaja dan kaum muda Palopo. Sekolah juga sangat berperan dalam hal ini. Guru yang tergolong ‘perokok maniac’ sejatinya mehanan diri atau bahkan belajar untuk berhenti merokok, apalagi di lingkungan sekolah. Perlu razia rokok dan narkoba, yang dilakukan secara berkesinambungan di lingkungan sekolah. Seingat saya, waktu masih SMA di kota ini dulu, razia itu dilakukan hanya sekali dalam setahun. Praktis efeknya pun gak kerasa, apalagi dengan hukuman yang nyaris tidak ada bagi si pelaku pembawa rokok ke sekolah itu.

Orangtua demikian halnya. Perlu kesadaran yang tulus untuk hidup lebih sehat tanpa merokok. Mungkin karena kesadaran yang menyepelehkan rokok sebagai narkoba golongan kecil pula, makanya seorang finalis di pemilihan Duta Anti Narkoba Palopo, Jumat malam lalu akhirnya gagal menjadi jawara. Sadar atau tidak, Palopo sebagai kota yang memiliki potensi besar dari segi demografi dan ekonomi, telah menjadi bagian kecil dari scenario besar industry rokok nasional, yang telah dijadikan sebagai ‘negara target’ baru pasar rokok internasional. Musabab dibendung di Negara-negara maju, mereka menyerbu ke Negara lain yang lemah penegakan hukumnya dan rendah dalam hal kemauan politiknya untuk melindungi kesehatan rakyatnya. Nah, mau kah Palopo digolongkan sebagai Kota yang kurang peduli terhadap perlindungan kesehatan warganya? Nurani saya dengan lantang mengatakan tidak. Apakah Anda setuju dengan nurani saya itu?

2 thoughts on “Iklan Rokok Mengepung Palopo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s