29 Ramadhan di Masjid Agung Palopo

Saya menyelesaikan tadarus ramadhanku malam ini. Yang terakhir adalah juz Amma, yang hanya beberapa menit saja kubaca dengan lancar. Tentang Surah An Nas yang mengisahkan golongan syaithan dan manusia yang selalu membisikkan kejahatan di dada ini, sejenak saya merenung. Ternyata, janganlah semata-mata menyalahkan syaithan jika ada orang yang mencuri sandal anda di masjid. Bisa jadi mungkin si pencuri itu melakukannya karena kepepet diejek sama teman yang lain. Jadinya, marilah kita sadar diri sebagai manusia, yang sebenarnya kadang-kadang pula ulahnya mirip-mirip si tanduk merah, laknatullah itu!

Tak seperti yang lalu-lalu. Malam ke-29 ini Palopo agak adem. Dari beranda selatan Masjid Agung Luwu Palopo —yang insya Allah akan dibangun dengan megah ini menjelang MTQ Sul-Sel 2010— saya samar-samar menikmati kembang api yang bersahut-sahutan dari arah kawasan Lagota. Indah sekali tampaknya. Orang-orang bergembira ria menyambut datangnya hari kemenangan. Bersamaan disaat itu pula, ku tengok seorang tua, berjanggut tipis, bergamis putih, tengah menangis di samping pilar masjid megah itu. Saya paham mengapa beliau menangis. Pasti karena ramadhan yang bakal berlalu, meninggalkan anak-anak adam, yang sebenarnya secara fitrahnya membutuhkan ramadhan ini disetiap nafas waktu-nya.

Tangisnya samar-samar terdengar. Sesenggukan dan mengiris hati. Qur’an yang dibacanya ikut bergetar saking kencangnya ia menahan tangisnya. Pakaian putihnya memberi bekas basahan akibat usapan air matanya yang tak sengaja mengalir itu. Tak ada yang mau mengindahkannya. Saya pun demikian. Biarkanlah beliau berenang dalam kenikmatan spiritualitasnya. Aku mau di beranda masjid ini saja. Menikmati pesta kembang api, yang hampir habis. Syukur tahun ini Pak Polisi lagi baik-baiknya. Razia kembang api dan petasan tak dilakukan. Akibatnya, hampir setiap tarawih, siap-siaplah untuk terkaget-kaget dengan dentuman petasan dan kembang api, yang model-modelnya mirip barang elektronik saja, tambah canggih dan selalu penuh dengan inovasi mutakhir.

Malam masih dingin, teman yang kutemani ke masjid ini entah kemana. mungkin tengah mengambil posisi untuk i’tikaf malam teakhir ini. Beberapa orang sudah terlelap, siap-siap untuk begadang shalat tasbih dan tahajud malam ini. Acaranya akan dimulai tepat tengah malam. Biasanya diawali dengan tauziah kiyai berjanggut putih, yang namanya saya lupa itu.

Saya kembali membuka-buka Quran ku. Tentang kisah Nabi Musa yang memperdayai tukang sihir kafir anak buah Firaun dalam surah Thaahaa, saya teringat syair Tari Pajaga yang beberapa waktu lalu diberikan temaku yang kuliah di sastra Unhas. Bunyinya begini, sulessana napabbongngo-panre napakawewe-ri manaungenna atau secara sederhana berarti ahli hukum/cendekiawan pun menjadi bodoh-orang pandai menjadi tercengang-di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Juga tentang Keesaan Allah dalam surah Al Ikhlas, syair Tari Pajaga Pawinru’e sewalie-to temma salawe e-ri manaungenna yang berarti ada kekuatan yang hanya mencipta-namun tidak dicipta-disegani namun tanpa segan kepada ciptaanNya. Keduanya membangkitkan keingintahuanku. Adakah korelasi antara kedua syair ini, dengan firman Allah melalui ayat-ayat di atas? Apapun itu saya pikir, tentang kemahakuasaan Allah dan keesaan Allah adalah ilmu pertama yang harusnya kita sadari.  Bahwa manusia hanya setitik buih kecil saja dari hamparan lautan yang amat besar adalah fakta. Bahwa ada kekuatan yang lebih dari segalanya adalah sebuah keyakinan bahwa Allah mahaperkasa. Dan bahwa kebenaran akan kembali kepada satu titik yang sama, yaitu Allah swt.

Sebenarnya Palopo masih dilanda badai panas, namun angin malam yang terasa dingin membawa banyak makna dan membawa lamunanku menjadi kantuk yang menggoda. Saya teringat bapak yang berjanggut tipis di sebelah pilar masjid tadi. Dia telah menghabiskan bacaannya, ketika saya mulai merebahkan badan yang selama puasa ini turun sekilo. Ketika mulai memejamkan mata, tiba-tiba bapak berjanggut tipis  itu merajuk. Saya bangun dan terduduk. Dan dia memeluk saya. Di belakang telinga saya, sambil terseduh-seduh, beliau berkata “Jangan tunggu tua untuk bertobat, nak!”. Saya mengangguk. Dia berlalu. Saya masih terduduk ketika melihat tubuh si Bapak tadi menuju tempat wudhu. Setelah itu, saya melanjutkan usaha menidurkan diri sebelum tahajud nanti. Saat memajamkan mata, saya masih memikirkan perkataan bapak berjanggut tipis itu. Bukankah tidak sedikit sudah teman-teman sebayaku yang sudah koit? Sadar akan ajal yang makin mendekat setelah berulang tahun pekan lalu, saya beristigfar dan membaca hamdallah.

Dengan mata yang masih merem, sayup-sayup letupan-letupan kembang api masih terdengar. Sembari menangkap pesan selamat lebaran yang dikirim oleh kembang api itu, saya memasuki alam bawah sadar saya. Saat bermimpi saya bertemu dengan almarhuman nenek saya, yang lebaran nanti adalah lebaran kedua tidak bersamanya. Hanya senyuman yang kulihat di wajahnya saat itu. Saya tahu dia mendapat tambahan amal jariah musabab ilmunya kupakai mengkhatamkan quran malam ini. Beliau lah yang mengajarkan saya membaca Al Quran waktu masih sekolah dasar dulu. Tak tahu dimana akhirnya mimpi itu, beliau menghilang.. Saat terbangun, jam di masjid itu sudah pukul 00.15 Wita.

Palopo, 29 Ramadhan 1430 H

2 thoughts on “29 Ramadhan di Masjid Agung Palopo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s