Untuk Guru-Guru Terhebat!

Kemarin malam, adik saya nitip dibelikan bunga. Saya kira untuk pacarnya, ternyata untuk guru kelasnya. Saya baru sadar (karena memang ndak pernah sadar kayaknya), ternyata 25 November adalah hari guru. Jadilah, di paragraf pertama postingan ini saya mau berucap: Selamat Hari Guru!

Saya sekolah dasar di SDN 73 Matekko, sekitar 500 meter dari rumahku. Saya masuk sekolah tahun berapa yah? Lupa. Yang jelas saya lulus tahun 1999, jadi (mungkin) saya masuk tahun 1993. Saya yakin tahun 1993 saya masuk di SD itu, karena saya ingat sekali, waktu kelas 3, Indonesia sedang merayakan HUT emas-nya di 1995. Jadi hitung-hitungan tahun di atas saya yakin sudah benar.

Di kelas satu ini saya diajar oleh ibu guru Magdalena namanya. Saya tidak terlalu bisa mengingat ibu yang ini. Maklumlah saat itu saya masih kelas satu SD. Di kelas dua, saya di ajar oleh ibu guru Sitti Arah dan Agustina. Mereka berbagi waktu kala itu, karena ibu guru Sitti Arah dimutasi entah kemana. Ibu guru Sitti Arah ini baik. Saya masih ingat dengan beliau. Tipikal keibuan dan sabar dalam mendidik. Ibu guru Agustina punya basic keilmuan olahraga, jadi beliau agak keras orangnya. Jadinya saat itu, teman-teman ndak ada yang bandel. Di kelas tiga, saya punya ibu guru Busrah. Ibu ini cukup disiplin, tapi memang jago matematika. Saya salut dengan ibu guru Busrah. Di kelas enam saya ketemu lagi dengan ibu guru Busrah.

Naik kelas empat, saya di ajar ibu guru Hamriani. Namun, Cuma sebentar saja karena saya dipindahkan sementara di SDN 253 Sabbamparu. Di sana, kami punya guru-guru hebat pula. Mereka-mereka itu konon yang tersenior di kelasnya saat itu. Sebutlah nama pak guru Frans Alexander guru matematika, Ilham Nur guru IPA, Hasnah HP guru bahasa Indonesia, ibu guru Djinawi guru IPS, Djuhana Abba guru bahasa Indonesia, Yusuf Tawe guru Penjaskes, Riham Mujahid bahasa Inggris, dan pak guru Sukri guru Agama. Yang paling berkesan pada masa itu (tanpa mau membanding-bandingkan dan merendahkan yang lainnya) saya rasa pak guru Frans Alexander. Bayangkan coba, beliau ngajar matematika, tetapi kalau mau memulai pelajaran yang hanya dua jam, satu jam pertama pastilah diawali dengan teori-teori filsafat, sosiologi, sejarah dan moral. Saya menikmati gaya mengajarnya. Karena, dari beliau wawasan dan cara berpikir kami terbuka. Sadar atau tidak, pengaruhnya saat ini masih saja membekas pada saya. Bahwa untuk menguasai suatu ilmu, awali lah dengan belajar dasar-dasar filsafat. Bahwa, dunia ini penuh dengan hikmah, dan belajarlah dari pengalaman itu. Sayang, sampai saat ini, saya tak tahu dimana pak guru Frans saat ini. Rumahnya yang bergaya Tongkonan-Toraja di bilangan Jalan Tandipau Palopo sana tampaknya sudah dikontrak orang lain.

Di SMP, saya di SMPN 1 Palopo. Di kelas satu, saya di wali kelasi oleh ibu guru Wahida Kumma, seorang guru bahasa Indonesia. Di kelas dua, oleh pak guru Abd. Fattah Mappanganro, guru matematika hebat dan di kelas tiga oleh ibu guru Siti Maryam Musa, guru bahasa Inggris handal. Berbeda dengan di SD, saya punya banyak guru yang saya (dan mereka pun) anggap sebagai teman. Kami akrab satu sama lain, tanpa menurunkan wibawa mereka. Sebut saja nama ibu guru Agustina Mode (yang katanya guru paling ditakuti di SMP saya), saya akrab dengan beliau. Dan banyak sekali membantu saya waktu itu. Pak Asrin, guru fisika dan pembina OSIS, peringkat kedua ditakuti di SMP saya, saya malah dekat sekali dengan beliau. Saya bangga bisa diajar oleh ibu dan bapak guru di SMP saya itu, karena mereka kompak dan memang fokus untuk peningkatan mutu sekolah. Bukannya merendahkan sekolah lain loh…

Di SMA, saya di SMAN 1 Palopo. Di kelas satu saya jadi anak wali ibu guru Darmi C.. Kelas dua pak guru Sugiono Siban, dan kelas tiga pak guru Muchtar A. Sinrang. Ketiga-tiganya guru matematika. Ketiga-tiganya juga sangat dekat dengan saya, dan kemampuannya memang mumpuni, otaknya encer, dan disiplin. Yang paling berkesan di SMA adalah pak guru Abunawas Muhsid, guru Biologi. Saya jadi ingat pak guru Frans kalau lihat cara berpikir dan mengajarnya. Penteoriannya dalam sekali, dan memang berwawasan luas. Gayanya memprovokasi siswa untuk berpikir kreatif dan melihat dari sudut pandang yang tidak wajar. Guru-guru sekarang harus mencuri gaya mengajar itu supaya lebih variatif PBM-nya.

Seorang guru SMAN 5 Makassar, Muh. Hasri, secara formal memang tidak mengajar saya di depan kelas, namun patut pula saya tulis di postingan ini. Dari beliau saya banyak belajar pula. Saya yakin, tiap guru adalah manusia yang hebat. Takdir membuat mereka untuk berbagi ilmu dengan kita, dan itulah anugerah untuk mereka. Jadi, untuk para guru-guru terhebat, sekali lagi: Selamat Hari Guru!

4 thoughts on “Untuk Guru-Guru Terhebat!

    • wah,,, lama ta’ tdk ketemu di?
      dmana skrg? sudah kerja yah… hebat!
      kyaknya sudah jd artis nih,,,😉
      kapan ke plp lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s