Marketing Ayu Tingting

Sudah hapal lagu dangdut yang berjudul Alamat Palsu? Jangan malu-malu. saya mau taruhan, lagu dangdut milik Ayu Tingting itu pasti sudah pernah diputar di handphone atau iPad anda. Sudah hapal? Sekali lagi, jangan malu-malu mengakui. Ponakan saya saja sudah hapal mati partitur-partitur nadanya.

Okelah kalau begitu, mari kita bernyanyi bersama dulu, sebelum kita memasuki kuliah marketing ala tingting.

Kemana Kemana Kemana//Kuharus Mencari Kemana//Kekasih Tercinta Tak Tahu Rimbanya//Lama Tak Datang Ke Rumah///

Oke, cukup saudara-saudara! Ternyata kita lebih bagus diam daripada terus menyanyi. Ini sebenarnya persoalan karakter pita suara dan selera music kita. Dari karakter pita suara, jelaslah sudah bahwa takdir kita dianugerahi Tuhan untuk dapat menyanyi dengan suara yang begitu ancur. Apalagi ditambah dengan selera music yang gak connect antara hati dan genre-nya Ayu Tingting? Cukup, cukup, cukup…

Mengapa selera menjadi salahsatu variable yang menentukan bagus tidaknya lagu tersebut didengarrkan (oleh saya) atau dinyanyikan (oleh anda)? Sederhana saja, saudara. Seluruh komentator pada Indonesian Idol selalu menekankan penghayatan pada lagu. Jujur, ketika menyanyikan Alamat Palsu di atas, saya dan anda tak setitikpun mampu menghayati lagu tersebut. Mengapa? Karena selera kita bukanlah pada kelompok music metal (melayu total). Selera (sebagian besar dari) kita adalah selera generasi pop. Selera para arus utama. Selera para generasi yang sudah berada di ujung akhir zaman kedigdayaan lagu-lagu dangdut.

Melihat boomingnya Ayu Tingting—bukan Tingtung—dengan hits Alamat Palsu itu, apakah menjadi indicator bangkitnya kembali music dangdut di masyarakat kita? Saya rasa, tidak. Booming Alamat Palsu—yang menyaingi kasus surat palsu Mahkamah Konstitusi— merupakan hasil pemasaran gelombang baru. Booming lagu Alamat Palsu, merupakan produk yang secara tidak sengaja telah dipromosikan oleh Sule, Azis Gagap & Andre Taulani, melalui acara komedi Opera Van Java (OVJ) yang lagi naik daun.

Dalam kajian marketing yang begitu dinamis saat ini, kita mengenal product placement in integrated marketing (selanjutnya saya singkat PPIM). Apakah yang seperti ini yang disebut PPIM? Melihat frekuensinya yang sangat-sangat sering, saya rasa tidak sepenuhnya penempatan lagu Alamat Palsu tersebut adalah merupakan PPIM. Mengapa? Karena alamatnya ternyata palsu, saudara-saudara.😀 Bukan… Argumentasi saya mengatakan itu tidak termasuk PPIM karena konsep penempatan produk atau merek pada sebuah show semacam OVJ harus dengan imbalan uang atau imbalan lainnya. Selain itu, PPIM harus diawali dengan sebuah consensus antara penyedia ruang iklan dengan pemilik merek. Contoh, film-film nasional kita yang ber-genre romantic horror (atau kata teman saya semibokep-horor), hampir seluruhnya, kita pasti akan disuguhi adegan seorang cowok,  lagi duduk-duduk di pinggir jalan, malam-malam, menghisap rokok dengan merek tertentu, tahu-tahu di belakangnya muncul si kunti make baju putih, dengan rambut tergerai dan dilumuri pewarna merah ala darah segar. Nah itulah yang disebut product placement integrated marketing. Terjadi promosi produk rokok di dalam film. Film tetap berkisah, promosi tetap jalan, tanpa harus ada jeda iklan atau pesan-pesan berikut ini…😀 Produk lain yang kerap menempatkan mereknya di dalam film adalah produk makanan dan minuman. Maklum-lah, sebagian besar film nasional kita memang adegannya sering berlatar tempat di meja makan.😀

Fenomena Alamat Palsu Ayu Tingting di OVJ saya rasa tidak memberikan imbalan kepada penyedia ruang iklan (yang dalam hal ini adalah OVJ). Sule-Azis-Andre melakukan promosi Alamat Palsu tanpa ada consensus dengan Ayu Tingting. Itulah mengapa, saya rasa Ayu Tingting harusnya mentraktir Sule-Azis-Andre di warteg sebelah. Lah, dia dapat promosi gratis di OVJ.😉

Nah, pelajaran apa yang dapat dipetik dari kesuksesan OVJ memasarkan (atau lebih tepatnya me-re-populeri) Alamat Palsu? Yang jelas, jangan ditiru karena menyebar alamat palsu adalah sebuah kebohongan public😀 Ok, kembali ke laptop! Pelajaran penting yang pertama-tama adalah Ayu Tingting kini lebih terkenal. Jujur, sebelum masuk OVJ, lagu Alamat Palsu ini memang tidak familiar di telinga saya.

Poin penting kedua yang dapat kita perhatikan dalam marketing Ayu Tingting adalah hirarki efek AIDA.  A berarti Attention (perhatian), I berarti Interest (ketertarikan), D berarti Desire (keinginan) dan A bermakna Action (bertindak). Ketika kita menonton OVJ, kita memperhatikan gerak tubuh yang lucu Sule-Azis-Andre yang begitu kocak menyanyikan Alamat Palsu. Paralel dengan itu, kita juga tertarik dengan music dan lirik sederhana Alamat Palsu. Setelah terjadi repetisi (pengulangan-pengulangan) diperdengarkannya Alamat Palsu di tiap episode OVJ, dan pula diblow up di beberapa infotainment, kitapun berkeingin untuk tahu banyak tentang lagu tersebut. Dan proses akhir dari hirarki ini adalah bertindak untuk membeli DVD atau berlangganan Nada Sambung Alamat Palsu untuk telepon seluler kita. Saya sebenarnya hanya berada sampai pada A-I-D saja. Saya belum menggunakan Alamat Palsu sebagai NSP saya. Olehnya itu, saran saja bagi Ayu Tingting agar lebih kreatif untuk menjual suara dan lagu Alamat Palsu ini. Sadar atau tidak, biasanya fenomena seperti ini tidak akan bertahan lama. Sesuatu yang yang dibentuk oleh media, biasanya diruntuhkan pula oleh media.

Alamat Palsu memang ikon baru per-dangdut-an nasional. Ia booming akibat penempatan produknya di sebuah acara lawak yang lagi top-top nya. Inilah fenomena marketing di era horizontal. Memang, kata Tom French yang merupakan Direktur McKinsey Boston: We’re All Marketer Now! Sadarkah anda tentang hal tersebut? Saudara, saya kini menyadari hal itu di ujung tulisan ini. Ternyata, sayapun telah me-masarkan Alamat Palsu-Ayu Tinting!

Dimana…Dimana…Dimana…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s