1 atau 2…

Hampir setiap tema diskusi akhir-akhir ini mengangkat tentang 1 atau 2. Satu merujuk kepada pasangan Prabowo-Hatta, dua merujuk kepada Jokowi-JK. Empat sosok yang bertarung pada Pilpres ini seakan tak ada habisnya dibahas.

Galibnya proses pemilihan umum, bahasan tentang keempat sosok ini ada yang positif, dan ada yang negatif. Diskusi masyarakat seolah tak berbatas, dan tanpa norma yang jelas. Hal itu amat sangat nampak jika kita memelototi lini masa twitter maupun facebook. Cemooh dan sanjungan menjadi hal yang lumrah. Para netizen seakan menjelma menjadi ‘malaikat’ pencatat amal baik dan amal buruk. Kewenangan menjustifikasi benar-salah seolah-olah hanya milik pribadi. Aku benar, kamu salah. Pilihanku baik, pilihanmu buruk. Tak salah jika ada pameo yang mengatakan “Jangan berharap banyak jika memberi nasihat kepada dua jenis orang: orang yang sedang jatuh cinta dan simpatisan capres!”

Inilah potret masyarakat kita. Buah dari kebebasan berdemokrasi yang miskin etika. Kita layaknya kembali ke zaman kolonial, yang amat mudah diterpa muslihat ‘divede et impera’. Padahal, dari zaman kemerdekaan hingga akhir periode SBY, kita masih memegang teguh sila ketiga dari Pancasila.

Fenomena ini adalah euforia atas perkembangan teknologi dan mekarnya demokrasi. Ketika pemilu 2009, jumlah pengguna internet di Indonesia masih lebih sedikit dibandingkan jumlah netizen pada 2014. Itulah mengapa, perang ‘udara’ di dunia maya ketika pemilu 2009 tidak seriuh saat ini. Sekarang, para pegiat media sosial seakan terkena ‘serangan’ informasi yang amat banyak dari banyak sumber. Kita tak tahu lagi, yang mana fakta, dan mana yang sekadar hoax.

Lain lagi di jagad penyiaran televisi nasional. Dua stasiun televisi berita milik swasta kita sangat kental afiliasi politiknya. Satu merah, satu biru. Mirip di AS sana, ada yang demokrat, ada yang republikan. Dua stasiun ini berlomba-lomba menyiarkan aktifitas capres dan cawapres, dengan durasi waktu yang berbeda. Kita kemudian melihat fenomena ini sebagai ancaman atas kewibawaan pers nasional.

Sepintas, 1 dan 2 memang amat berbeda. Namun demikian, keempat-empatnya adalah putera terbaik bangsa ini. Capres pasangan 1 berlatar belakang militer yang memiliki karir gemilang, dengan cawapres berlatar pengusaha-teknokrat. Capres pasangan 2 berlatar belakang pengusaha dan kepala daerah beberapa kali, cawapresnya seorang pengusaha dan mantan wapres. Inilah kemudian mengapa debat mengenai siapa yang layak dan tak layak, seolah-olah makin sulit dijawab. Hal ini diafirmasi dengan hasil-hasil survey yang memperlihatkan kebingungan masyarakat untuk menentukan pilihannya. Masih banyak pemilih yang mengambang.

Hal itulah yang kemudian tampak diperlihatkan oleh Wali Kota Palopo. Ketika membuka sebuah event di Palopo City Market beberapa waktu lalu. Di sana, wali kota didaulat untuk memukul gong, pertanda dibukanya event tersebut. Mengawali pemukulan gong itu, wali kota sempat nyeletuk “tiga kali pukul, karena 1 dan 2 itu sama…”
Dum,,,dum,,,dum,,,

Pukulan tiga kali pada gong itu bukan berarti golput, saudara! Itu hanya isyarat bahwa  jika anda memilih 1 ataupun 2, toh kita masih saudara. Bukankah 1 + 2 sama dengan 3? Anda tambah Saya adalah Kita.

Selamat menjemput Ramadan dan presiden baru…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s