Matematika Sederhana Industri Pendidikan Palopo

Anda tahu, berapa jumlah mahasiswa yang sedang kuliah di Kota Palopo? Menurut data BPS yang saya miliki, mahasiswa yang sedang kuliah di Palopo berjumlah 19.789 orang! Jika mau dikomparasikan, jumlah ini melebihi jumlah total penduduk Kecamatan Wara Selatan. Angka yang cukup fantastis, bukan?

Dalam berbagai kesempatan, Sekda Kota Palopo, H Syamsul Rizal Syam selalu memperkenalkan istilah industri pendidikan. Terminologi ini menurut saya adalah hal baru. Sebagai barang yang dianggap ‘sakral’, pendidikan seringkali tabu untuk dibawa ke domain ekonomi-bisnis. Padahal, sadar atau tidak, perwujudan pendidikan sebagai industri baru sudah nyata mengkristal. Pendidikan kini bukan hanya sekadar investasi jangka panjang, namun ia kemudian bertransformasi menjadi sebuah rantai ekonomi yang memiliki ‘value’.

Rantai ekonomi industry pendidikan amat sederhana. Secara matematika ekonomi, mari kita coba untuk urai. Anggaplah, 1 orang mahasiswa asal luar Kota Palopo memilih kuliah di salahsatu kampus di kota ini. Paling tidak ia membutuhkan hunian berupa rumah kos. Per bulan si mahasiswa ini rata-rata harus mengeluarkan dana Rp 150 ribu untuk sewa kos-kosan. Demikian pula dengan makan minum. Untuk sekali makan paling kurang Rp 7500. Sehari semalam tiga kali makan, sehingga total biaya makan perhari Rp 22.500, atau sebulan Rp 675 ribu. Jika kos-kosan jauh dari kampus, maka harus ada biaya transportasi yang minimal Rp 10 ribu per hari (sebulan Rp 300 ribu). Untuk biaya kuliah, SPP di kampus-kampus Palopo per bulannya paling rendah Rp 100 ribu. Dari keempat kebutuhan utama ini saja, maka per bulannya, si mahasiswa ini harus mengeluarkan dana sebesar Rp 150 ribu + Rp 675 ribu + Rp 300 ribu + Rp 100 ribu = Rp 1.225.000,-. Angka ini belum termasuk biaya fotocopy, belanja buku dan ATK, jajan di kampus, biaya pulsa, sewa internet, beli rokok dan biaya untuk rekreasi.

Jika kita asumsikan mahasiswa asal luar kota yang kuliah di Palopo persentasenya 70 banding 30 dengan mahasiswa lokal, maka jumlah mahasiswa asal luar Kota Palopo setidaknya berjumlah 13 ribu orang. Dari sudut makro, maka kita dapat menghitung, paling tidak, setiap bulan perekonomian berputar Rp 15,9 miliar hanya dari kalangan mahasiswa luar kota yang kuliah di Palopo (Rp 1.225.000 x 13.000 jiwa).

Nah, ini tentu fenomena yang positif. Ia memperlihatkan sebuah rantai ekonomi yang memiliki ‘value’ pada tiap penggalan prosesnya. Tak salah jika kita menyebut ini adalah sebuah industri pendidikan, yang (tampaknya) terbangun secara autopilot. Ia merupakan turunan dari proses pembentukan Palopo sebagai Kota Tujuan Pendidikan. Hal ini wajar adanya, karena sejak Palopo menyandang status sebagai kota otonom, maka dimensi pendidikan memang mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Palopo. Dahulu, harapan utamanya memang untuk sekadar meningkatkan kualitas sumber daya manusia Palopo. Tetapi kemudian itu menjadi sebuah industry baru yang sangat prospektif bagi masyarakat bisnis Palopo, maka itu adalah kenyataan.

Kini, di wilayah Kota Palopo telah tersebar 2 universitas, 7 sekolah tinggi dan 5 akademi. Setidaknya ada 76 sekolah dasar, 21 SLTP, 14 SLTA dan 19 SMK. Selain itu, ada pula madrasah ibtidaiyah sebanyak 4 unit, madrasah tsanawiyah 7 unit dan madrasah aliyah 1 unit. Perlu dicatat, di setiap sekolah-sekolah ini pasti ada pula tukang bakso dan penjual nasi kuningnya. Jadi saran tindaknya, mari terus dorong dunia pendidikan Kota Palopo agar terus bergairah. Harapan kita, masyarakat semakin cerdas dan warga kota makin sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s