Resensi Buku “Tiga Dari Galigo”

Buku "Tiga dari Galigo"

Seperti judulnya, buku ini dibagi dalam 3 bagian besar. Yang pertama, tentang Sawerigading dalam sureq Galigo; yang kedua, nilai-nilai pengembaraan Sawerigading yang termaktub dalam sureq Galigo; dan yang ketiga tentang I We Cudai dan I La Galigo.

Pada bagian awal buku ini, Muhammad Salim menjelaskan bahwa ada beberapa fungsi sureq Galigo di daerah Bugis. Di antara fungsi-fungsi tersebut adalah bahwa sureq Galigo kerap dijadikan sebagai bacaan hiburan, bacaan upacara dan sebagai buku mitos tuntutan hidup. Fungsi yang terakhir ini dicontohkan Muhammad Salim sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Towani Tolotang di daerah Sidenreng Rappang.

Penulis buku ini, Muhammad Salim memang sudah dikenal sebagai pakarnya I La Galigo. Oleh karena itu, ringkasan cerita Sawerigading beserta keluarganya, mulai dari kisah jatuh hati pada saudaranya, penebangan pohon Welenreng dan pelayarannya ke Cina dijelaskan secara jernih dan padat. Sawerigading dalam buku ini diyakini sebagai leluhur raja-raja Luwu.

Sureq Galigo bukan hanya sekadar bacaan tanpa makna. Ia memiliki nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya. Beberapa nilai-nilai yang dituliskan Muhammad Salim pada buku  ini antara lain adalah nilai kasih sayang. Banyak penggalan cerita yang memperlihatkan adanya rasa kasih sayang antar tokoh-tokoh yang ada dalam Galigo. Selain itu, nilai moral kesusilaan juga ditemukan oleh Muhammad Salim, yang dijabarkannya secara spesifik seperti patuh kepada orang tua, menjunjung tinggi harkat dan martabat keluarga, serta keterbukaan menerima pandangan orang lain.

Estetika Galigo juga mendapat perhatian penulis. Menurutnya, ada nilai seni pada naskah kuno ini. Beberapa nyanyian dikutip pada halaman 59 buku ini. Lagu-lagu ini merupakan pelipur lara para anak perahu di waktu senggang malam hari saat berlayar. Nilai seni ini diimbangi dengan makna-makna yang filosofis yang sangat dalam. Lihat saja yang dituliskan kembali Muhammad Salim tentang nyanyian Jammuricina pada bagian kedua tulisan ini. Saking kayanya sureq Galigo, ia tidak terbatas hanya pada seni suara, tapi juga seni tari dan seni musik.

Selain beberapa nilai yang telah ditulis di atas, dua nilai terakhir menurut Muhammad Salim yang sangat patut dikaji adalah nilai keagamaan dan nilai kepemimpinan. Sureq Galigo kerap mengingatkan tentang takdir, doa, kedermawanan, kepeloporan, team building atau nilai kebersamaan dan musyawarah.

Pada bab akhir buku ini, Muhammad Salim banyak sekali mengutip kisah-kisah I We Cudai Daeng Risompa dengan Sawerigading yang akhirnya melahirkan I La Galigo. Kisah-kisah ini ada yang jenaka, penuh intrik, dan bahkan vulgar. Namun demikian, penulis buku tak lupa memberikan kesimpulan yang lagi-lagi penuh nilai-nilai dan makna-makna positif bagi kehidupan. Salahsatu yang dituliskan oleh Muhammad Salim yang menjadi patut kita insyafi setelah membaca buku terbitan Pemkot Makassar yang bekerjasama dengan Yayasan Bali Purnati ini, adalah bahwa cerita mitos sureq Galigo salahsatunya memberi pelajaran bahwa “Kesabaran menghadapi tantangan dan rintangan, biasa berakhir dengan kesuksesan atau hasil yang sangat memuaskan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s