3M – 1P

Hampir setiap Senin sore jelang magrib, di rumah saya selalu kedatangan sales promotion girl atawa SPG! Anda jangan langsung membayangkan cewek seksi dengan baju ketat dan rok mini—layaknya kebanyakan SPG lain (seperti produk rokok itu). SPG ini adalah ibu-ibu usia 30-an akhir. Perawakannya tidak semolek gitar spanyol. Wajahnya khas paras warga Palopo. Berseragam dominan merah, berlilit tas pinggang dan bertopi dengan model khusus. Ia menenteng tas beroda, yang di dalamnya ada termos pendingin. Setelah googling di internet, saya menemukan bahwa ibu-ibu SPG ini dinamai sebagai Lady Yakult (LY).

Ya, ibu-ibu itu adalah Sales Promotion Girl (SPG) Yakult, sebuah minuman fermentasi yang (katanya) baik untuk kesehatan usus. Saya sangat tertarik dengan gaya para LY ini. Kali kunjungan pertamanya, ia diterima oleh istri saya di depan pagar. Pertama-tama ia menyapa dengan ramah dan menanyakan kabar sembari tersenyum renyah. Gaya bicaranya tertata rapi, lugas dan terstruktur. Saat itu, LY menanyakan nama, nomor rumah dan mencatat nomor ponsel kami. Setelah ia mempromosikan produk yang dijualnya dan istri saya memutuskan untuk membeli, ia beranjak pergi masih dengan sapaan ramah dan mendoakan keluarga kami senantiasa sehat wal afiat. Pekan kedua kunjungannya, LY kami terima di ruang tamu. Kali ini ia bercerita tentang kesehatan. Saya ikut menyaksikan presentasinya yang tak kurang dari lima menit itu. Di pekan ketiga, ia datang dengan informasi lain, cara menghilangkan noda minyak di baju! Dan pekan terakhir ini, ia berbagi tips menghilangkan bau pada wadah plastik.

Saya amat terkagung-kagum dengan ibu-ibu LY ini. Dengan usia yang relatif tidak muda lagi, ia amat kuat menenteng tas beroda-nya. Dan yang paling menakjubkan adalah, ia amat paham dan mahir melaksanakan standar operational procedure (SOP) penjualan produknya. Gaya bertutur yang amat cair, dan pendekatan melalui sharing informasi beragam hal dengan ibu-ibu rumah tangga, menjadi patut kita contoh, apalagi bagi para aparatur sipil negara (ASN).

Mengapa ASN atau PNS harus belajar banyak dari LY? Karena, masih banyak ASN kita yang masih tidak ramah terhadap warganya. Tak bisa dipungkiri, kualitas layanan publik kita, apalagi ‘frontliner’ kita di SKPD-SKPD masih memprihatinkan. Survey Ombudsman baru-baru ini mungkin bisa menjadi pijakan dasar. Survey itu tentang upaya kita mengejawantahkan Undang-Undang RI Nomor 25/2009 tentang Layanan Publik.

Di beberapa SKPD, kita masih dapat menyaksikan layanan yang kurang prima bagi masyarakat. Hal itu mulai dengan disain interior kantor yang amat membingungkan warga. Tak ada front table yang secara khusus menjadi persinggahan awal warga untuk menyatakan maksud kepentingannya. Karena tidak adanya front table, maka tentu jarang kita temui senyuman manis dan sapaan hangat dari para ‘frontliner’. Belum lagi dengan pelayanannya yang kerapkali memakan waktu lama karena petugas pelayanan umum kita masih banyak yang baru belajar Microsoft Office.

Fenomena ini tentu harus kita tuntaskan. Pemerintah Kota Palopo sudah berjalan 12 tahun, dan petugas di lini terdepan kita baru belajar Microsoft Office. Produk suratnya kadang masih amat sangat nampak amatiran. Ini harus mendapat perhatian kita. Oleh karena itu, pelatihan-pelatihan peningkatan SDM aparatur harus lebih banyak, dengan materi pembelajaran yang menyentuh langsung upaya peningkatan pelayanan publik.

Kita tiap tahun mungkin sudah mengikuti workshop penyusunan SOP. Namun, yang alpa untuk dilakukan adalah men-deliver SOP itu dalam aksi yang nyata. Kita mungkin berhasil menyusun dokumen SOP yang baik, namun jangan lupa bahwa ada ‘brainware’ yang harus bekerja. Upaya meningkatkan layanan publik ini adalah tuntutan zaman. Masyarakat kita semakin cerdas, dan tiap hari menuntut profesionalitas aparat pemerintah. Dengan perubahan kultur ‘melayani’ ini, kita tentu akan semakin dicintai masyarakat. Memang harus ada nilai-nilai yang menjadi pedoman kerja kita. Tak salah jika saya mengingatkan kembali nilai-nilai yang sudah mulai kita lupa, yakni 3M dan 1P: Moral, Mau, Mampu & Peduli.

Saya melihat, ada nilai-nilai 3M-1P ini pada diri LY. Para ibu-ibu LY ini moralnya tercermin dari bahasa tubuh yang jujur walaupun mengikuti tuntunan SOP, ia mau bekerja keras dengan berjalan mengitari kompleks-kompleks pemukiman, ia mampu meyakinkan costumernya untuk memutuskan membeli produknya, dan ia peduli terhadap costumernya melalui sharing info-info ringan seputar pekerjaan rumah tangga. Kalau ibu-ibu LY bisa, tentu bukan hal yang mustahil untuk menduplikasi nilai-nilai ini ke para ‘frontliner’ kita yang masih masih tergolong muda. Nah, saatnya memang kembali membumikan 3M-1P ini. Bukankah wibawa pemerintah, salahsatunya juga tercermin pada bagaimana ia melayani warganya dengan baik? Saya berharap, kita semua sepakat untuk segera berubah dengan nilai-nilai 3M-1P ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s