Membangun Daya Saing Kota Palopo

MEA 2015 memiliki konsekuensi terhadap kota-kota di Indonesia. Salah satunya adalah persaingan antarkota. Persaingan tersebut bukan hanya dalam membangun ekonomi masing-masing kota, melainkan persaingan dalam merebut pasar, merebut investor, menarik wisatawan, mendatangakan atau menciptakan tanaga kerja profesional, penguasaan teknologi dan sebagainya. Oleh karena ketat dan atraktifnya persaingan tersebut, maka tiap kota tentu harus punya daya saing.

Choe dan Roberts (2011) menulis dalam Competitive Cities In The 21st Century bahwa ada 6 (enam) penggerak dalam daya saing sebuah kota. Keenam penggerak tersebut adalah biaya melakukan bisnis, dinamika ekonomi lokal, SDM dan SDA, infrastruktur, unit pemerintah lokal yang responsif, dan kualitas hidup. Nah, Bagaimana dengan kondisi eksisting Kota Palopo dalam daya saing kota-nya? Kita sebenarnya punya pengalaman baik dalam hal daya saing kota ini. Pada tahun 2011, Kota Palopo termasuk salah satu kota hasil pemekaran (pasca pemberlakuan otonomi daerah) yang memiliki daya saing kota yang baik.

Setelah 2011, kita tentu harus mengevaluasi lagi posisi daya saing kita. dari aspek biaya melakukan bisnis misalnya. Masihkah ada keluhan di ruang kolom publik pada media cetak atau mention ke akun twitter Pemkot Palopo? Jika masih ada keluhan terkait adanya pungli dan ketidakpuasan terhadap layanan perizinan kita tentu hal tersebut harus segera dibenahi. Bukan hanya mengenai pungli, tentang alur perizinan yang tidak berbelit dan memakan waktu lama juga harus diputus. Prinsip efisiensi harus benar-benar dilaksanakan. Sepanjang ini, Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) kita dipandang telah melakukan hal itu dengan baik. Salahsatu indikatornya adalah adanya penghargaan dari Ombudsman RI terkait kepatuhan KPT Kota Palopo terhadap implementasi Undang-Undang Pelayanan Publik. Hal ini tentu patut diapresiasi.

Penggerak kedua daya saing kota adalah dinamika ekonomi lokal. Dalam konteks Palopo, kita bisa melihat hal ini dari pertumbuhan ekonomi yang pada tahun ini diprediksi berada pada level 8 persen. Pergeseran ke sektor tersier dengan semakin dominannya sektor perdagangan, hotel dan restoran memperlihatkan bahwa dinamika ekonomi urban semakin baik. Demikian pula di sektor keuangan dan jasa yang semakin baik perkembangannya. Namun demikian, kualitas produk dan jasa harus tetap dijaga sehingga ia punya nilai tawar yang lebih baik dibanding produk dan jasa dari kota-kota yang lain.

Penggerak ketiga, yakni sumber daya alam dan sumber daya manusia. Beberapa wilayah di daerah peri-urban, masih mensuport produk-produk pertanian bagi ekonomi Kota Palopo. Tiap tahun pula, kita melihat data yang ada bahwa pertumbuhan produksinya juga masih positif. Hal ini tentu berdampak pada semakin kuatnya ketahan pangan lokal kita. Demikian pula hasil dari perikanan laut dan darat juga masih positif pertumbuhannya. Limpahan sumber daya alam ini patut untuk dipertahankan, dengan pengawasan penggunaan lahan yang ketat. Jangan sampai pemanfaatan ruang untuk pemukiman dan bisnis semakin menggerus lahan pertanian kita sebagai konsekuensi dari semakin melimpahnya kuantitas sumber daya manusia (SDM) kita. SDM ini harus dikelola dengan baik, sehingga tidak menjadi beban, melainkan menjadi kekuatan baru. Teori sederhananya, kualitas harus lebih baik dari kuantitas. Patut untuk menjadi pertimbangan untuk mengakselerasi penciptaan SDM profesional dan berkualitas, adalah dengan mulai memikirkan membuka politeknik khusus untuk menunjang perkembangan industri lokal di Kota Palopo. Kita memiliki potensi dan peluang dalam mengembangkan industri kreatif. Mengapa tidak hal tersebut segera ditindaklanjuti dengan pendirian Politeknik Palopo yang memiliki spesialisasi pada pengembangan industri kreatif? Hal ini juga akan semakin menguatkan posisi Kota Palopo sebagai kota tujuan pendidikan.

Infrastruktur menjadi penggerak keempat. Hal ini sangat perlu mendapat perhatian. Masih banyak keluhan terkait jalan yang berlubang di tengah kota. Beberapa bulan ini, listrik dan air bersih kita belum andal jikalau cuaca memburuk. Pelabuhan sejatinya semakin memberi dampak yang besar dalam hal angkutan barang. Demikian pula dengan bandar udara yang harus semakin didorong untuk kelancaran mobilitas manusia. Untuk konektivitas dalam kota, jalan lingkar timur diharapkan dapat segera memecah kepadatan arus lalu lintas yang semakin ramai di daerah Balandai-Rampoang Kota Palopo. Ancaman banjir juga sedapat mungkin mulai dipikirkan dengan cara-cara yang progresif. Langkah-langkah strategis yang bersifat mikro seperti kebijakan peningkatan infrastruktur drainase dalam wilayah kota yang telah dilaksanakan beberapa tahun lalu terbukti tidak begitu efektif menghalau banjir. Untuk mencarikan solusi mengenai banjir, kita patut belajar dari Bantaeng yang dengan secara berani membangun waduk buatan untuk mencegah banjir.

Kepemerintahan lokal yang responsif sejauh ini telah mulai diterapkan. Reformasi birokrasi sejatinya merupakan hal yang tidak pernah selesai. Hal ini harus selalu disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat serta kemajuan teknologi. Kuncinya adalah bagaimana membangun SDM aparatur yang profesional dan berintegritas. Harus ada mental enterpreneurship dalam aparatur kita, seperti prinsip-prinsip efisiensi, transparansi dan akuntabilitas. Dengan modal prinsip itulah maka kepercayaan pubik dan dunia bisnis akan mengkristal.

Penggerak terakhir adalah kualitas hidup. Nallari (2012) dalam Geography of Growth Spatial Economy & Competitiveness menuliskan indikator kota global dalam aspek kualitas hidup antara lain menyangkut: keterlibatan warga (dalam hal partisipasi pemilih); budaya (persentase jumlah pekerja di sektor kebudayaan); ekonomi (PDRB & tingkat pengangguran); lingkungan hidup, kualitas pemukiman; pemerataan sosial (persentase masyarakat miskin); tingkat kebahagiaan; dan teknologi-inovasi (jumlah koneksi internet per 100.000 penduduk).

Kita sejatinya menyambut MEA 2015 dengan harapan yang lebih baik. Ada banyak peluang sekaligus tantangan yang mesti kita raih dan hadapi ke depan. Kita sedapat mungkin dapat membangun semangat dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Saatnya kita serius dalam membangun daya saing ini. Kalau tidak, kita tentu akan tertinggal dalam persaingan global ini.

One thought on “Membangun Daya Saing Kota Palopo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s