Patriot Olahraga

Foto by Subhan TosangkawanaSaya menyaksikan ketika Tim Sepakbola Kota Palopo berlaga di final cabang olahraga sepakbola pada Porda 2010 silam di Stadion Andi Mappe, Pangkep. Bermain di siang hari bolong, kickoff pukul 14.00, Laskar Sawerigading menghadapi tuan rumah Pangkep, yang didukung hampir seluruh penonton stadion yang baru selesai dibangun itu. Di sudut kanan stadion, di tribun terbuka, gerombolan kami tidak kurang hanya 50an orang. Sebagian besar adalah ‘imported’ supporter yang langsung didatangkan dari Palopo saat tengah malam sebelum pertendingan. Pemandu sorak dan jenderal para rombongan pendukung saat itu adalah Ancona—pemuda nyentrik yang amat terobsesi dengan setiap hal yang berbau Jamaica atau rastafari. Ancona konon diculik oleh rombongan ‘imported’ supporter tersebut saat tengah berjalan sendirian saat bus rombongan melintas di tengah Kota Palopo menuju Pangkep. Dengan alat pelantang suara dan perkusi seadanya, Ancona memandu dukungan dan berbagi semangat kepada kesebelas pemain kebanggan Palopo tersebut. Dengan drama adu pinalti, akhirnya, Kota Palopo berhak atas medali emas pada cabor bergengsi, sepakbola! Kata teman saya, “walau kita tidak juara umum, kita memenangi setengah dari kompetisi di Porda Pangkep karena menang di cabor sepakbola”. Pertandingan itu ditutup dengan seremoni penaikan pataka Kota Palopo di tiang tertinggi di stadion tersebut.

Para atlit sering kita sebut sebagai patriot olahraga. Atas cucuran keringatnya, mereka mengibarkan pataka, simbol tertinggi suatu daerah. Tidak banyak kesempatan untuk ber-upacara di kampung orang, dengan sertaan kibaran pataka yang diiringi mars Kota Palopo. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh para atlit kita!

Sejarah panjang olahraga kita penuh cerita sukses atlit-atlit andalan. Dahulu, kita punya Rabaiya, atlit lari yang melegenda. Terakhir kali kita menyaksikan rupa Rabaiya ketika Pembukaan Porda 2002 Kabupaten Luwu-yang saat itu masih dipusatkan di Kota Palopo. Kita dahulu juga punya Jhoni Kamban, penjaga gawang Gaspa yang berkiprah sangat menawan di PSM Makassar. Ada juga Sunaryo alias Lun Chiang yang menjadi bintang bola basket Sulsel di pentas nasional. Dan para patriot olahraga lainnya yang luput untuk direkam kiprahnya dalam mengharumkan nama Palopo dan Tana Luwu kala itu.

Dari prestasi para legenda ini, kita tentu mengambil pelajaran penting dari mereka. Rabaiya, konon dulunya anak kampung di pinggiran Jembatan Miring. Berhasil mencuri perhatian sejak Pekan Olahraga Antar Kecamatan (Porak). Atas asuhan guru olahraganya kala itu, Rasman (yang kini masih aktif sebagai Kepala SMP Negeri 1 Palopo), ia berhasil menembus level nasional. Meminjam gaya Jokowi, kesimpulan suksenya memang adalah kerja keras, kerja keras dan kerja keras!

Poin penting yang ingin kita sadari adalah membangun olahraga adalah sebuah kerja keras. Namun, kita tidak boleh tersesat dengan menjadikan prestasi semata-mata sebagai indikator keberhasilan bidang olahraga di daerah. Dalam sport science, kita mengenal Sport Development Index (SDI), yang mulai dikenalkan oleh Prof Toho Cholik Mutohir. Dalam SDI, keberhasilan pembangunan olahrga bisa dilihat dari empat dimensi: ruang terbuka, sumber daya manusia, partisipasi dan kebugaran. Ruang terbuka merujuk kepada fasilitas atau lapangan-lapangan olahraga, SDM merujuk kepada atlit, pelatih, wasit, guru olahraga, dokter olahraga, psikolog olahraga dan tenaga keolahragaan lainnya. Partisipasi merujuk kepada tingkat partisipasi masyarakat dalam berolahrga secara mandiri dan swadaya. Serta kebugaran merujuk kepada tingkat kebugaran masyarakat pada tingkat kesehatan fisik dan biomotorik.

Dari empat dimensi ini, mungkin Palopo sudah dalam tingkat yang cukup baik. Kita lihat sarana dan prasarana olahraga semakin berkembang ke arah industrialisasi olahraga. SDM olahraga kita cukup memadai dari segi kuantitas, namun masih perlu mendapat penguatan kapasitas. Dari dimensi partisipasi, kita hampir tiap pekan melihat adanya event-event olahraga yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Apatah lagi jika melihat semakin bergairahnya warga memanfaatkan jogging track Lapangan Gaspa dan seputaran Lapangan Pancasila serta semakin sulitnya menjadwal tempat di futsal center yang ada. Di dimensi kebugaran, mungkin indeks kesakitan yang ada di dinas terkait bisa menjawab hal tersebut.

Kerja keras membangun olahraga memang bukan semata-mata tanggungjawab atlit dan pelatihnya. Masyarakat juga memang harus terlibat. Bukan angka kecil untuk membiayai kebutuhan pembangunan olahraga. Saya pernah mendengar seseorang (yang tampaknya bukanlah seorang pencinta olahraga) yang mengatakan: lebih baik memelihara sapi ketimbang memelihara pemain sepakbola. Hal ini memperlihatkan betapa besar anggaran yang harus dibanderol untuk bidang olahraga. Oleh karena itu, sekali lagi, kesuksesan pembangunan olahraga tidak elok dibebankan semata-mata kepada pemerintah. Sistem ibu asuh mutlak harus dilakukan. Hal ini harus melibatkan para tokoh, pengusaha dan korporasi untuk turut bertanggung jawab sosial terhadap pembangunan olahraga. Sangat sayang sekali, talenta luar biasa dari atlit muda kita di cabang olahraga panjat dinding, dayung, bulutangkis, sepakbola, pencak silat, atletik dan lainnya harus meredup tanpa raihan medali akibat kurangnya suntikan dana pembinaan. Saatnya memang kita curah pemikiran, duduk bersama menimbang-nimbang peluang yang bisa dilakukan untuk keluar dari masa-masa paceklik prestasi ini.

Jika SDI sudah cukup baik, saatnya memang berkonsentrasi mencetak legenda baru atlit Kota Palopo. Tidak ada waktu lagi untuk saling menyalahkan. Saatnya mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing. Kita yang berkecimpung, penggiat, pengamat dan yang memiliki passion di olahraga memang sudah ditakdirkan harus punya patriotisme dan sikap rela berkorban. Bukankah, (sekali lagi) kita adalah patriot olahraga? Saatnya kerja keras. Bekerja pagi ini memang tidak harus memetik hasil di sore nanti. Di olahraga, kita harus sabar bekerja membina atlit-atlit kita. Ibarat Gatotkaca, para atlit harus masuk kawah candradimuka. Dan itu membutuhkan waktu, tenaga, dan dukungan dana.

Nah, berkaca dari kisah pemandu sorak dan jenderal rombongan pendukung di atas, siapkah kita menjadi layaknya Ancona yang menjadi ‘pemimpin para pendukung’ Tim Kota Palopo? Kalau Ancona bisa menjadi barisan terdepan dalam hal dukung-mendukung cabang olahraga, selayaknya kita pun pasti bisa memberikan ‘dukungan’. Yang terakhir, kepada seseorang yang memilih menjadi gembala sapi ketimbang menjadi patriot olahraga, saya ingin katakan bahwa: “dunia kita memang beda, sapimu mungkin hanya menghasilkan daging dan kotoran, namun atlit-atlit kami bisa menghasilkan emas!”. Salam Olahraga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s