Homo Palopoensis

Dari zaman dahulu, Palopo adalah magnet. Posisinya yang strategis selalu memikat. Kedinamisan aktifitas warganya menjadi daya tarik. Banyak yang datang, dan tak sedikit yang kembali pulang. Di awal perkembangan, Palopo adalah tempat tahta kedatuan Luwu digantungkan. Adalah suatu kehormatan menjadi warga kotanya, walaupun hanya sekadar bertandang. Demikianlah kata Sarita Pawiloy, tentang kisah kota ini di awal perkembangan.

Manusia Palopo adalah manusia yang terbuka. Terhadap kedatangan etnis dan budaya budaya baru, hal itu dianggap dinamika. Konsekuensi terhadap kotaraja yang menjadi gerbang Kerajaan Luwu paling muka. Semua menjadi cerita indah, tanpa syakwasangka. Banyak saudara kita dari Tiongkok sana, dan ada pula dari Sulawesi Utara. Di Palopo, mereka damai hidupnya. Mereka itu ibarat adik, dan sang pribumi adalah kakaknya.

Ada banyak perkembangan budaya urban di Palopo dewasa ini. Ada yang bilang, karena semakin matangnya demokrasi. Ada pula yang menyebut, karena kian kuatnya ekonomi. Namun saya bersangka, hal itu terjadi karena kita tak mengenal jati diri, dan atau tak tau budaya sendiri.

Kata saya pula, manusia Palopo ini kurang berseni. Kurang subur melahirkan pencipta simponi, atau sekadar seniman tari. Jangan pula anda di sini mencari karya sastra bernilai tinggi. Karena setelah periode Galigo, Palopo minim mencatat sejarah dalam berbagai narasi dan deskripsi. Itulah mengapa manusia Palopo dewasa ini, mudah tersulut emosi. Mengulang kisah dalam novel Kota Palopo Yang Terbakar, beberapa tahun lalu api membakar beberapa gedung di sana sini.  Bisa jadi, hal ini karena kurang rekreasi dan apresiasi seni.

Manusia Palopo sendiri adalah makhluk yang royal, dan doyan dengan pesta pagi hingga malam. Mereka rajin menggelar acara makan-makan. Saling pamer barang-barang branded, walaupun hasil cicilan. Dan untuk itu, akhirnya banyak menabung utang. Untungnya, perempuan Palopo, tak seperti di negeri Bugis-Makassar bagian selatan. Bicara mahar untuk nikahan, rata-rata tidak menuntut juta yang banyak atau bahkan hingga milyaran.

Gaya hidup manusia Palopo memang kini semakin moderen. Moderen dari segi merek produk-produk yang digunakan. Begitu suatu resto baru diresmikan, dua tiga pekan pasti akan penuh atas kunjungan. Selepas itu, maka logika kreatif pihak resto dituntut, khususnya bagian pemasaran. Saya menyebutnya ini fenomena kagetan. Atau sarkasnya, anget-anget tahi ayam. Ini memang konsukuensi atas perubahan. Dan bagi calon usahawan, anda wajib berkaca dari berbagai pengalaman. Perlu kalkulasi yang presisi dari futurolog mapan. Namun demikian, secara pribadi saya optimis, kisah suram itu tak akan berkesinambungan. Bukankah Palopo selalu memberi harapan?

Manusia Palopo kini juga kurang berani. Terhadap berbagai risiko, kita kehilangan nyali. Kurang menghasilkan pengusaha sukses dari kalangan pribumi. Memang, dari dulu kita memang bermental ‘Bossy’. Kita juga dicatat sebagai pemalas oleh bangsa kompeni. Itu bukan kata saya sendiri, tetapi merupakan citra diri, sebagaimana tertulis di laporan Gubernur Sulawesi. Katanya, hal itu karena banyaknya sagu yang tumbuh sepanjang rawa dan kali. Sehingga etos kerja sebagai petani, hingga kini tak pernah dicatat sebagai prestasi yang tinggi.

Kini, manusia Palopo sebagai cermin wija Luwu seakan kehilangan kemuliaan. Dalam wira cerita La Galigo, kita memang dijadikan teladan. Yang dituakan di antara tanah Bugis-Makassar yang penuh kehormatan. Semua itu karena profil kita saat itu memang sangat memegang prinsip dan ajaran ketuhanan. Masih teguh menjaga siri dan kejujuran. Mengimplementasikan kebenaran dan keadilan. Ketika nilai itu semua kita tanggalkan, maka semuanya akan menjadi artefak kebudayaan. Dan oleh karena punahnya nilai itu semua, maka manusia Palopo pun juga ikut terkubur di kedalaman. Ia hanya akan dikenang sebagai Homo Palopoensis, manusia Palopo purba yang berkebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s