Menjaga Pusaka Kota, Menjaga Identitas

Istana Datu Luwu, 1935

Istana Datu Luwu, 1935

Tahun ini, Pemerintah Kota Palopo mendapat Program Penataan & Pelestarian Kota Pusaka dari Kementerian PUPR. Program ini bermaksud untuk mendorong penataan ruang kota yang konsisten dan berbasis pada nilai-nilai pusaka sebagai identitas sebuah kota. Hal ini tentu patut untuk didukung oleh semua pihak. Sebagai sebuah kota yang telah eksis sejak abad ke-17, Kota Palopo telah menorehkan perjalanan sejarah yang panjang, dan mewariskan sejumlah pusaka kota. Paling tidak, ada 3 kelompok besar pusaka yang dimiliki oleh Kota Palopo, yakni terdiri atas pusaka alam, pusaka ragawi dan pusaka non ragawi.

Badan Pelestrian Cagar Budaya Makassar mencatat sekurangnya ada 21 obyek cagar budaya yang patut untuk dilestarikan di kota ini. Yang paling monumental dan memiliki nilai signifaknasi budaya tertinggi tentunya adalah Masjid Jami Tua. Sebagai pusaka ragawi Kota Palopo, cagar budaya ini telah menjadi simbol kota, sekaligus sebagai monumen kelahiran Palopo sebagai sebuah kota. Oleh karena itu, sejarah perkembangan wilayah Kota Palopo, tidak bisa dilepaskan dengan sejarah Kerajaan Luwu dan perkembangan Islam.

Reinventing Lalebbata

Lalebbata memang menjadi entry point dalam menata pusaka Kota Palopo. Hal ini dikarenakan konsentrasi bangunan cagar budaya yang intens di kawasan ini. Karakter bentuk lahannya merupakan lanskap kota kolonial di tengah pemukiman kota moderen yang sedang tumbuh. Hal ini pula yang menjadi tantangan, karena beberapa bangunan yang tumbuh saat ini, seperti Hotel Platinum dengan disain moderen minimalis, tampaknya tidak selaras dengan rasa tempat (sense of place) yang telah ada sebelumnya, seperti gaya artdeco yang ditampilkan di Istana Luwu dan gaya arsitektur Luwu sebagaimana dalam disain bangunan Masjid Jami Tua dan Rumah Adat. Hal ini juga menjadi sinyal, bahwa betapa hampir di seluruh wilayah Kota Palopo, kita disuguhi disain arsitektur bangunan-bangunan yang semakin memperlihatkan keseragaman disain bergaya moderen minimalis, seperti ruko-ruko dan Opsal Plaza, yang amat minim sentuhan identitas ke-Luwu-annya.

Dalam fase awal perkembangan Palopo sebagai ibukota Kerajaan/Kedatuan Luwu, kota ini dilengkapi dengan alun-alun di depan istana dan pasar sebagai pusat ekonomi masyarakat. Lalebbata menjadi pusat kota kala itu yang melingkar hingga kampung Amassangan dan Malimongan seluas kurang lebih 10 ha. Di dalam buku M Irfan Mahmud, kita bisa melihat deskripsi peta kota kuno Palopo yang berorientasi utara-selatan dan memperlihatkan ciri khas kota-kota Asia Tenggara. Namun sayangnya, morfologi Kota Palopo pada perkembangan berikutnya (zaman kolonial) masih belum pernah kita dapatkan. Padahal, data atau peta morfologi kota merupakan dokumen yang penting untuk menyelami perkembangan Palopo dari masa ke masa. Dengan adanya kesadaran atas perkembangan ruang kota itu, kita tidak akan melupakan akar dan asal-usul kota. Kita dapat menjadikannya acuan dalam menata kawasan serta melestarikan pusaka-pusaka kota yang ada di Kota Palopo.

Inilah kemudian yang disebut sebagai reinventing Lalebbata. Reinventing Lalebbata merupakan upaya menghimpun kembali nilai-nilai kearifan maupun kejeniusan lokal yang hidup di dalam kawasan Lalebbata ini. Program penataan dan pelestarian pusaka, sejatinya tidak hanya berorientasi pada renovasi bangunan cagar budaya dan revitalisasi kawasan, tetapi yang lebih penting pula adalah menemukan kembali jati diri masyarakat Palopo, yang sadar atau tidak, perkembangannya berasal dari kawasan Lalebbata ini.

Salahsatu contoh dari nilai lokal yang harus dipahami kembali di kawasan ini adalah filosofi marowa’ (ramai). Hal ini adalah idealisme yang harus dicapai di kawasan Lalebbata, sebagaimana yang disebut Sarita Pawiloy. Filosofi marowa’ ini pada prinsipnya memiliki substansi kebersamaan atau semangat komunitas (community spirit). Sudah tercapaikah idealisme ini di kawasan Lalebbata? Dahulu kala bisa jadi iya, karena adanya formasi yang kompak antara istana, masjid dan alun-alun dalam sebuah kawasan ini. Namun, jika melihat kondisi eksisting, kita tentu bisa menyatakan bahwa Lalebbata kini menjadi ruang-ruang ekslusif, yang kurang menampilkan semangat komunitasnya. Ekslusif karena masing-masing anggota komunitas yang ada di dalamnya seolah saling menutup diri. Oleh karena itu, mendorong untuk bergeraknya masyarakat di dalam kawasan untuk turut serta berperan dalam menghimpun nilai-nilai yang pernah ada di dalam kawasan dan menumbuhkan semangat komunitas sangat perlu untuk menjadi perhatian.

Program Kota Pusaka Palopo memang bukanlah upaya untuk memundurkan Palopo ke zaman dahulu kala. Program ini diharapkan lebih kepada menjaga tradisi positif yang dapat menjadi identitas atau jati diri Palopo sebagai kotaraja Kedatuan Luwu. Kita tentu berharap tidak terjadinya kebingungan identitas bagi generasi muda ke depan. Oleh karena itu, kita perlu ‘bercerita’ melalui pusaka kota. Hal ini sebagaimana Kostof menulis bahwa kota merupakan sebuah cerita, kenangan terakhir dari pergulatan manusia dan keagungan, dan tempat dimana kebanggaan masa lalu diletakkan dan dipamerkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s